Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
10 Februari 2012

Ditulis oleh
Anggun Nugraha

Kategori :
Desa Tradisional - Budaya

0 Komentar

Terperangkap di Baduy

Posted on : 10 Februari 2012
Categories : Desa Tradisional - Budaya

Tak terasa, hari sudah mendekati waktu bedug Ashar. Panas udara di Rangkasbitung, Banten memaksa untuk berteduh di bawah teduh pohon besar di tepi kebun kelapa sawit. Baru 5 jam lalu aku tinggalkan Bandung yang seolah haru menangis.

Kuingat lagi apa yang terjadi tadi pagi, saat dua anakku masih terlelap. Sambil menyelesaikan sebatang rokok terakhir, aku kembali memantapkan niat yang selalu gagal, itu rokok terakhir yang akan kuhisap. Dalam kegagalan menghentikan kebiasaan merokok, aku ingat lagi betapa perjalanan basahku ini lebih berbahaya dari merokok.

Pagi sebelumnya, aku masih merasa asing dari kematian. Aku ingat memeriksa perbekalan penuh sesak dalam cargo box. Bahan bakar pun hampir meluap mengisi lambung tangki bensin produksi Pulsar tahun 2007. Yang kuingat, oli mesin baru hari Ahad sebelumnya diremajakan.

Pagi sebelumnya, aku tak merasa getirnya kekhawatiran. Suara gemuruh motorku mendegap-degup gagah, anginnya menghantam udara yang masih berembun, basah karena rintik hujan masih belum usai. Bila rencana tour solo ke Baduy ku geser lagi hanya karena cuaca, pastilah semua akan molor tak sesuai rencana.

Di Bawah Rinai Hujan

Hujan tak kunjung reda, padat lalu lintas seolah iring-iringan semut merah. Bukan berniat menjagoi jalanantetapi watku adalah esensi dari perjalanan yang mesti berakhir sebelum senja. Bila terlambat, aku sepertinya hanya menyiksa diri terlantar di tepi jalan di tengah hutan Gunung Halimun.

Kecepatan motorku dipelintir higga batas tertipis antara aman dan tergelincir di bawah hujan. Pagi terasa semakin dingin, badan pun menggigil karena suhu dan juga kengerian. Apalagi di Puncak Pass Cianjur yang angin kencangnya hampir menghempaskan. Batas jarak pandang tak lebih dari 20 meter. Dalam kesendirin di atas jalanan, ketakutan menyelimuti, hingga ironisnya semua sirna di bawah keringnya sebuah kota berjuluk Kota Hujan, Bogor.

Rokok ini habis dengan cepat dan menyadarkan aku yang kalap dalam lamunan. Kuperhitungkan perjalanan masih satu jam menuju Koranji, desa terakhir yang berada di ujung jalur Rangkasbitung-Ciboleger, Banten. Nyatanya, perhitunganku meleset 60 menit. Terakhir melarung di atas jalur ini tahun 2000. Cukup lama untuk beralasan atas kesalahan perhitunganku.

Jalur Rangkasbitung-Ciboleger sempit dan berliku. Untuk menikmati perjalanan, jalur ini aku nilai 80 untuk hiburan para pencinta touring kendaraan roda dua. Berkelok dan meluncur dengan tantangan menghindari lubang di beberapa tempat yang nyaris tak mengganggu. Justru karena lubang-lubang di jalanan ini, rasa petualangan menjadi begitu gurih.

Bukit tandus ditutupi semak belukar dan beberapa kerumunan pohon tinggi. Sapi yang kesepian tetap merumput tak merasa terusik oleh mesin meraung. Keluarga besar kerbau berbaris perlahan, melenggak-lenggok bagai berjalan di shopping mall. Para penebang kayu sibuk menyusun gelondongan yang masih segar ke atas bak truk, matanya menatap seolah curiga atau risau.

Jalur Perontok Nyali

Di Koranji, Bapak Dalis menunggu. Ia bergegas berdiri saat melihatku mendaki jalan rusak di atas motorku. Tak semenit bersapa salam, ia dan Dalis, putrinya yang 11 tahun, menaiki ojek Honda Supra rakitan tahun 2007-an yang meluncur di atas jalan batu ke sebuah turunan curam yang sempat merontokkan nyaliku yang sudah sejengkal lagi.

Benarlah apa yang kutakutkan itu seperti perjuangan 30 menit yang melipatgandakan adrenalin yang kuasup selama 8 jam perjalanan dari Bandung ke Koranji. Tiga atau tiga puluh bukit aku tak sadar, tapi perjalanan menuju Pasir Nangka dan Cicakal Girang, desa terdekat ke Baduy luar lewat jalur alternatif lain selain Ciboleger, begitu menegangkan.

Jalur basah berlumpur di antara jurang dan parit dalam harus kubajak cepat sebelum keseimbanganku lantah. Saat itu terjadi, mungkin hanya namaku yang pulang ke Bandung lewat jalur SMS. Aku tak ingin itu terjadi. Tidak untuk hari itu, tidak untuk hari manapun. Aku beranikan hingga kulit kepalaku keram. Aku pun baru tahu kalau kulit kepala bisa keram.

Jalur bebatuan kembali muncul dan kali ini menanjak seperti kembaran jalan Cianjur – Puncak Pass. Basahnya batuan yang dibina tetap menyulitkan pendakian, apalagi aku keburu kalut hingga lupa mengempiskan ban depan dan belakangku. Dua kali aku gagal menyeimbangkan diri hingga motorku tersungkur seperti Tyson dirobohkan Holyfield. Hingga akhirnya kendaraan luar biasa ini kutitipkan di rumah Udung, kawan Bapak Dalis di sebuah desa bernama Cicakal Girang.

Singgah Untuk Terperangkap

Dua puluh menit normalnya perjalanan kaki dari Cicakal Girang ke Cipaler, Baduy Luar. Akan tetapi, saat itu langit masih merintih seperti nyanyian, airnya turun tidak terkira. Jalan setapak seperti disulap menjadi play-doh asli dari lumpur dan tanah liat. Aku yang ingin merasakan sensasi warga Baduy kini tak beralaskan kaki menyusuri curam dan landainya jalan setapak itu.

Bapak Dalis mengajarkan bagaimana supaya jalan tak sampai jatuh. Ia menunjukkan jari-jari kakinya yang ditegangkan seperti jari tangan hendak mencakar. Memang logis, jari-jari kaki akhirnya dipakai sebagai rem alami. Itu praktek yang sukses buat Bapak Dalis tetapi masih tidak nyata bagiku. Seperti badut yang berlagak jatuh tapi tak jadi, aku berjalan mengikuti Bapak Dalis. Bila aksiku itu tiba-tiba diperlihatkan di televisi, pasti jadi sebuah episode kocak dalam komedi murahan.

Keesokan harinya, setelah dijamu di tepas rumah, dihibur di depan hawu dapur, dan dirawat dari luka-luka di telapak kaki, Bapak Dalis mengajakku melakukan sedikit tour di Kampung Cipaler. Mulai dari sightseeing di sekitar kampung yang dibangun di lereng bukit, hingga melihat jenis kerajinan yang diproduksi warga Cipaler yang sekitar 400-an orang warganya, hari Sabtu-ku serasa penuh makna.

Aku terkesan dengan suara yang membahana dipagi hari hingga Matahari tersungkur di ufuk barat. Suara itu keluar dari mesin tenun tradisional yang ada di setiap sosoro, yaitu teras rumah Baduy yang tradisional. Baru menjelang siang, angin seperti membeku dan hujan kembali turun, pertanda tahun masih sangat awal di bulan Januari.

Hingga pukul satu malam, aku masih mendengar air mengguyur. Kerisauanku menjagakanku dari tidur. Dan skenario terburuk terjadi, saat hujan di hari berikutnya tak menemukan kata henti. Rencanaku untuk berada di Bandung hari Minggu sore sepertinya buyar, seperti niatku untuk tidak merokok lagi. Seharian aku hanya bisa menggali bungkus rokok hingga habis dan menggali lagi, seperti aku menggali cerita perjalanan Bapak Dalis selama 10 tahun terakhir. Resmi, Aku terperangkap di Baduy karena hujan tak mau surut. Daripada aku pulang dalam bentuk nama dalam SMS, sebaiknya aku menunggu hingga Senin.

Akhirnya pukul 09.00 tepat aku menyiapkan diri untuk pamit kepada keluarga Bapak Dalis yang begitu santun dengan cara mereka. Aku diantar oleh Bapak Dalis hingga Koranji, berjalan kaki! Dua jam itu ditempuh sambil hujan mengguyur pukul 10.30 pagi.

Motorku, akhirnya digiring oleh Udung yang mahir melaju di jalur batuan karena kesehariannya yang menjadi tukang ojek. Ia tahu batu mana yang kuatdan mana yang bisa mengantarkan ke liang lahat.

Sesampainya di Koranji dan setelah setelan baju kuganti karena kuyup, aku pamit dan pulang untuk menyusuri jalur terbaik di ujung barat Pulau Jawa, yaitu dari Koranji ke Bogor melalui Leuwi Damar, Ciminyak, Gajrug, Leuwi Liang dan Bogor. Dibandingkan jalur sebelumnya, ini lebih cepat 1 jam selisihnya tetapi indahnya pemandangan, selisihnya seolah berjam-jam masih ingin menatapnya.

Tag : Desa Kanekes

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR