Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
22 November 2011

Ditulis oleh
Indobackpacker

Kategori :
Bangunan Bersejarah

0 Komentar

Sangiran : Pabrik Fosil Kelas Dunia

Posted on : 22 November 2011
Categories : Bangunan Bersejarah

Entah kali ke berapa tetirah saya ke Sangiran di pagi medio Oktober itu. Kota Kecamatan Kalioso telah berubah wajah. Satu-satunya simpangan yang dulu jalan tanah telah diaspal dan diperlebar. Begitu juga simpang tiga dari Kalijambe yang menuju situs. Rumah-rumah tembok berdiri, termasuk kedai-kedai souvenir.

Benarkah ini gula-gula selama enam Pelita? Semasa kanak-kanak, daerah radius 15-an kilo dari Solo ini terkenal tandus. Di tanah kapur itu air begitu mahal, walau kaya akan pohon jati. Dari jati itulah penduduk mengasapi dapur. Sebelum banjir kayu Kalimantan, juragan toko kayu di Solo mayoritas dari daerah itu.

Lepas satu kilo dari Kalijambe nuansa pedesaan langsung menyergap. Rumah berdinding kepang, bertiang bambu, dan berlantai tanah, berderet. Pelatarannya yang lebar dan rimbun dengan pohon terasa lengang. Anak-anak pergi ke sekolah. Sementara orang tua ke ladang dan sawah. Sesekali keheningan ditikam lenguh lembu dan embik kambing dari kandang belakang. Dibanding dua dasawarsa silam, saat datang pertama kali bersepeda ramai-ramai bersama teman satu SMP, semua lebih rapi. Tanjakan-turunan tajam telah mulus dan tidak perlu lagi menelan tumbal ban bocor. Trickle down effect dari turis? Atau kehadiran 'pangeran dari seberang lautan' seperti tokoh dalam cerpen Iwan Simatupang?

Museum lama yang di lereng bukit kini untuk Balai Desa Krikilan. Sebagai gantinya dibangun museum baru yang lebih luas, di atas bukit yang tak kalah elok panoramanya. Luas museum seakan mewakili nama besar Sangiran. Namun kebesaran itu tak sepadan dengan minimnya koleksi. Hanya ada satu ruang pajang. Satu diorama kehidupan purba melengkapi rak-rak kaca penyimpan fosil. Sulit dipercaya; inilah Sangiran yang acap tercantum dalam jurnal sekelas Nature, Scientific American, National Geographic.

Sangiran yang legendanya tak kalah dari Rift Valley Afrika Timur ternyata demikian sederhana! Koleksi itu, seingat saya, tak separuhnya dengan saat di museum lama. Sebagian koleksi telah diboyong ke Bandung. Banyak koleksi tentu berimplikasi pada perawatan. Meski tiket masuk didongkrak 1000%, dari Rp300 ke Rp3000, soal klasik ini tak juga tuntas. Melimpahnya koleksi juga mengundang si panjang tangan. Kisah Prof. Teuku Jacob membawa oleh-oleh batok kepala Pithecanthropus dari toko kolektor di New York tentu belum terlalu basi!

Kurang adil juga bila hal-hal positif lewat dari pengamatan. Karena terbatas, koleksi jadi tertata rapi dan sistematis. Barangkali mulia diberlakukan batasan hanya fosil terbaik saja yang berhak masuk etalase. Nama para penemu ikut diterakan di label nama fosil. Cara ini merupakan terobosan baru. Pengelola museum akhirnya menemu cara apresiasi yang tidak mesti berujud materi.

Sepagi itu masuk rombongan siswa-siswi SMP. Dari seragam, dari mobil pengangkut yang mereka tumpangi, semua bisa berkisah panjang lebar akan keterpinggiran sekolahnya. Maaf, bukan hanya dalam gaya hidup 'busana dan aksesori mencerminkan tebal kantong', di sekolah pun berlakunya aksioma itu sulit dihindari. Pesan guru pengantar mereka singkat saja, "Catatlah yang kamu anggap penting." Apa yang mesti dicatat? Mana yang tidak penting? Tak ada kata lanjut. Sekedar berbagi apa yang pernah saya rasakan, bisa jadi guru-guru itu cuma tahu sepintas! Para siswa pun mengekor apa yang jamak terjadi. Mereka menyalin apa saja yang tertulis. Bisa mengenal nama-nama Latin, kendati tak paham artinya, sudah satu kemewahan!

Pengalaman menuturkan, tak semua pelajaran bisa diawali lewat pemahaman. Pada hal-hal tertentu arahnya malah harus dibalik. Dihafal dulu baru dimengerti. Seberapa jauh jarak hafal dari mengerti? Inilah yang nisbi, mengingat pemahaman seiring dengan tambahan referensi.

Museum Sangiran dilengkapi dengan gedung pertunjukkan. Bila kuota peminat tercukupi, VCD “The Foot Print of Fore Fathers” akan diputar. Tayangan berdurasi 20 menit itu padat informasi. Pembentukan kubah Sangiran karena aktivitas Gunung Lawu purba, pelapukan karena hujan, terkelupasnya lapisan tanah, tereksposnya fosil, muncul berturut-turut di layar. Di bagian kedua ada episode keluarga Pithecanthropus memburu Stegodon Trigonochepalus (gadjah purba berkepala bentuk segitiga). Antara nonton vcd dan kunjungan ke museum mestinya satu paket. Urutannya pun tak boleh dibalik. Menikmati VCD di sini untuk mengasah apresiasi. Setelah itu, sembari mengamati fosil-fosil di balik etalase, imajinasi akan lebih hidup.

Catatan Tambahan

Sebagai situs warisan dunia, Sangiran tidak sekondang sebayanya seperti TN Komodo atau Borobudur. Sebab utamanya berpulang ke daya tarik visual. Orang yang ke Komodo atau Borobudur sudah memenuhi benaknya dengan bayangan hal-hal aneh, megah atau menakjubkan. Sesampai di tujuan yang mereka lihat mungkin berbeda namun tidak berselisih jauh dari bayangan.

Calon pengunjung Sangiran dengan isi kepala serupa pasti akan kecewa. Peminat kepurbakalaan (utamanya pelajar-mahasiswa) pun kerap melihat situs yang namanya perkasa di peta evolusi ini 'lebih ramai cerita ketimbang pentasnya'.

Temuan fosil di situs Sangiran memiliki arti signifikan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Akan teapi, jangan lupa, khususnya bagi Indonesia, ilmu yang membahas fosil-fosil itu kurang populer. Untuk mudahnya, bukan ilmu yang bisa (langsung) menghasilkan uang. Mayoritas dari kita, diakui atau tidak, bersekolah untuk mendapat pekerjaan, demi mengasapi dapur dan syukur-syukur bisa mengubah nasib. Bidang studi yang dijubeli calon mahasiswa hingga hari ini belum bergeser dari teknik, kedokteran, ekonomi dan hukum. Akibatnya apresiasi bagi situs Sangiran hanya sekadarnya.

Sangiran terletak 20-an km di utara Solo. Cara termudah untuk mengunjungi museum Sangiran adalah dengan naik sepeda motor. Bila memakai angkutan umum, dari terminal Tirtonadi, Solo, orang bisa naik bis jurusan Purwodadi (bis besar) atau Gemolong (bis 3/4). Bilang pada awak bis untuk turun di Kalijambe, di pertigaan ke Sangiran. Dari pertigaan ke museum dengan ojek.

Sangatta, 17-Oktober-2006

Santoso-Indobackpacker

Tag : Sangiran

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR