Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
18 September 2013

Ditulis oleh
Hasrinaldi

Kategori :
Budaya

0 Komentar

Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu

Posted on : 18 September 2013
Categories : Budaya

Colok dalam bahasa melayu berarti alat penerang, masyarakat melayu memberi nama colok itu dengan sebutan “pelite” atau “pelito” yakni sejenis lampu teplok yang menggunakan sumbu kompor memakai minyak tanah sebagai bahan bakar penerangnya.
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Lampu colok merupakan lampu tradisonal yang biasa dipakai dipakai untuk menerangi kegelapan di daerah Pedesaan. bahan lampu colok ini bisa terbuat dari bambu, seperti obor. Ada juga kaleng atau botol bekas minuman yang dibuat seperti lampu senter. Setelah itu di isi dengan minyak tanah untuk menyalakan sumbu yang terpasang di tengahnya. Di daerah Riau Pesisir, sehari-hari Colok digunakan sebagai alat penerangan yang diletakkan didepan pintu rumah, dan berguna menemani disaat anak-anak pergi mengaji dan belajar didalam kegelapan malam, penerangan colok ini sangat berguna disaat aktivitas masyarakat berada diluar terutama bagi nelayan yang akan pergi melaut.
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Seorang warga yang berusaha untuk menyalakan Lampu Colok
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Nyala Api Lampu Colok
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Salah satu Lampu Colok yang berbentuk Mesjid
Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi turun temurun, masyarakat Melayu terutama menjelang penghujung bulan Ramadhan menggunakan penerangan colok ini sebagai hiasan didepan rumah,terutama dalam menghadapi malam lailatul qadar, aneka bentuk colok yang dibuat masyarakat dengan menggunakan bahan kaleng minuman bekas, botol kaca minuman, bambu yang diberi sumbu sampai dengan colok yang dibuat khusus seperti tabung menggunakan bahan baku seng dan alumunium.
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Tarian Senandung Syukur Seribu Bulan sebagai Tari Pembukaan Festival Lampu Colok Tahun 1432H di Lapangan Bukit Senapelan Pekanbaru
Festival Lampu Colok Pelestarian Kearifan Lokal Budaya Melayu
Bentuk Model Colok yang telah dimodifikasi
Festival Lampu Colok ini dapat di jumpai,diseluruh daerah di Provinsi Riau, di Pekanbaru tahun 2011 atau 1432 Hijriah ini Festival lamu colok dipertandingkan antar Kecamatan se Pekanbaru, dan pembukaanya di lakukan pada malam 27 Ramadhan bertempat di Lapangan Bukit Kecamatan Senapelan. Festival lampu Colok merupakan khasanah warisan Budaya tempo dulu yang bertahan hingga sekarang. Dan Kini Festival Lampu Colok telah menjadi agenda Wisata bagi beberapa Kabupaten dan Kota di Provinsi Riau.

GALLERY

Tag : -

 

TULIS KOMENTAR