Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Januari 2013

Ditulis oleh
Fikri Sapulette

Kategori :
Budaya - Desa Tradisional

0 Komentar

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Posted on : 8 Januari 2013
Categories : Budaya - Desa Tradisional

Ullath adalah salah satu negeri adat di Pulau Saparua yang terkenal dalam catatan sejarah Maluku. Negeri Ullath khususnya tercatat dalam sejarah kekristenan di Maluku sebagai daerah pertama yang menerima Injil di pulau Saparua pada 1630 disusul kemudian Negeri Booi. Kiranya sedikit gambaran tentang Negeri Ullath yang menjadi pengantar tulisan ini dapat menambah pengetahuan sejarah Anda.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Kali ini saya menulis tema yang mengangkat tentang salah satu tradisi adat di Negeri Ullath, yaitu Tradisi Adat Upu. Beruntung saya turut menyaksikan tradisi tersebut pada Jumat, 25 Pebruari 2011.

Acara adat Upu Latu ini diselenggarakan salah satu keluarga pical di Ullath. Keluarga ini membayar hutang adat kepada masyarakat Negeri Ullath dengan cara memberi makan secara massal kepada seluruh anggota masyarakat Ullath selama 4 hari, terhitung mulai dari hari Selasa, 22 Februari 2011. Jadi dapat disimpulkan tradisi Upu Latu adalah bentuk pembayaran hutang adat yang dibayar oleh salah satu keluarga kepada seluruh masyarakat Ullath.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Hutang adat ini ada dikarenakan salah satu anggota keluarga (entah itu opa, ayah, atau lainnya) pernah menjabat sebagai kepala soa atau raja di negeri tersebut. Hutang adat harus dibayar karena mengingat bahwa mendiang anggota keluarga yang pernah menjabat sebagai kepala soa tersebut tentunya sering membuat perintah bagi siapa pun. Setiap masyarakat (tidak memandang berapa usianya) harus mematuhi dan melaksanakan perintah tersebut tanpa memandang waktu; entah itu pagi, siang, atau tengah malam sekali pun. Atau bisa juga dalam masa jabatannya, sang mendiang raja kerap menjatuhkan hukuman saat terjadi masalah-masalah sosial kemasyaratan. Dan keputusan raja tersebut harus diterima atau dijalankan dengan penuh rasa hormat.

Tradisi Upu Latu ini sudah berlangsung turun-temurun di Negeri Ullath. Apabila ada keluarga yang tidak melaksanakan tradisi adat Upu ini sesuai dengan ketentuannya, maka keluarga tersebut akan mendapatkan ganjarannya. Ganjaran yang dimaksud adalah seperti sakit parah atau banyak anggota keluarga yang meninggal dunia. Tak heran tradisi Upu Latu ini menjadi tradisi wajib yang harus dijalankan oleh setiap keluarga yang salah satu garis keturunannya pernah menjabat sebagai kepala soa atau raja.

Susunan Acara Tradisi Upu

Yang teramati pada saat itu, acara dimulai dengan prosesi persiapan yang dilakukan oleh sekumpulan kewang. Kewang adalah suatu lembaga adat di setiap negeri di Pulau Ambon, Pulau Lease, Maluku Tengah, dan di Pulau Seram yang memiliki tugas sebagai polisi hutan dan polisi pantai. Acara dimulai dengan berkumpul terlebih dulu di rumah kepala kewang, Bapak Martinus Patty.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Kala itu Pak Martinus memakai baju cele (baju adat orang Maluku Tengah) berwarna merah dan celana 3/4 berwarna merah serta ikat berang merah yang dipakai di leher. Dalam persiapan tersebut mereka melatih beberapa nyanyian kapata untuk mengiring prosesi adat Upu. Kapata adalah syair yang dinyanyikan degan bahasa daerah Ullath, yang lirik-liriknya mengandung banyak arti filosofis tentang kebudayaan masyarakat dalam hubungannya dengan sesama manusia, alam sekitar, dan juga hubungan mereka dengan sang Khalik.

Saat tifa berbunyi dari Baileo (rumah adat di Maluku), inilah tanda prosesi adat Upu segera dimulai. Para kewang mulai bersiap dan berbaris di halaman rumah kepala kewang sambil menyanyikan kapata. Setelah itu spontan terdengar bunyi tifa dan tahuri (salah satu alat musik etik Maluku yang terbuat dari kulit keong laut yang berukuran besar). Para kewang mulai mempertunjukan Tari Cakalele (tarian perang) lengkap dengan parang (pedang) dan salawaku (tameng) sambil menuju ke rumah kapitang basar (panglima perang besar/kepala). Mereka akan menjemput sang kapitang beserta malessinya (pengawal pribadi kapitang besar).

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Nama kapitang besar dalam adat Ullath adalah Kapitang Italili; malessi-nya bernama Supusepa. Setelah dari rumah kapitang besar, iring-iringan tersebut menuju ke tempat/rumah salah satu kapitang penting lainnya yaitu Kapitang Lusikooy. Malessi Kapitang Lusikooy bernama Litamaputty yang tinggal di negeri Ihamahu. Selanjutnya, iring-iringan tersebut mulai menjemput kapitang-kapitang lainnya, seperti Kapitang Hasina (malessi-nya adalah sepasang anjing), Kapitang Puri-puri (malessi-nya adalah seekor burung kasturi), Kapitang Hiul, dan Kapitang Sulassa.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Setelah kapitang-kapitang lengkap berada dalam barisan cakalele itu, iring-iringan kemudian menuju ke rumah keluarga pical, yaitu keluarga yang membayar hutang adat Upu tersebut. Tujuannya adalah untuk mengambil secara simbolik harta keluarga yang disediakan di atas sebuah meja. Nantinya meja tersebut akan dibawakan ke Baileo sebagai bentuk acara puncak dari akta pembayaran hutang adat Upu—meskipun di lain sisi mereka telah memberikan jamuan-jamuan khusus dan jamuan makan selama 4 hari kepada seluruh masyarakat Ullath.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Di atas meja tersebut tersedia 9 (sembilan) botol yang berisikan minuman sopi (minuman keras orang Maluku) dan 9 botol lainnya yang berisikan sageru (salah satu jenis tuak orang Maluku). Di samping meja tersebut terdapat 2 buah buyung/tempayan lainnya yang berisikan masing-masing sopi dan sageru. Sebelum iring-iringan kapitang, malessi, dan para kewang memasuki rumah keluarga pical, mereka disambut oleh salah satu tokoh adat yang mewakili keluarga pical dan mempersilahkan iring-iringan masuk ke tempat harta keluarga itu ditempatkan. Kapata demi kapata selalu diperdengarkan oleh iring-iringan rombongan itu sampai mereka diperkenankan masuk ke rumah keluarga pical.

Tradisi Upu Latu Keluarga Pical Di Ullath

Ada suatu kekhususan waktu itu, seorang pendeta jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Ullath dipersilahkan oleh tokoh-tokoh adat untuk membawakan doa dan meminta permohonan kepada Tuhan pencipta alam semesta agar beban-beban yang dahulu telah menimpa keluarga pical diangkat dan malapetaka tidak lagi menghampiri keluarga tersebut. Setelah itu, keluarga pical dipersilahkan mengitari meja (yang berisikan harta keluarga tersebut); sementara masyarakat negeri Ullath dan juga tokoh-tokoh adat menyanyikan kapata berisikan doa khusus bagi keluarga dan saniri negeri.

Beranjak dari prosesi tersebut, meja yang berisikan harta itu dibawa menuju ke Baileo dengan cara dijinjing oleh empat orang yang telah ditentukan. Kapata-kapata yang dibawakan oleh para tokoh adat mengiringi perjalanan. Iring-iringan yang semula hanya terdiri dari tokoh-tokoh adat, kini sudah bertambah dengan seluruh keluarga pical dan rumpun keluarganya. Sesampainya di Baileo, meja yang berisikan harta dari keluarga pical itu diterima oleh tuang adat (kepala adat).

Semua prosesi adat di Baileo berlangsung dengan memakai bahasa daerah setempat. Setelah prosesi menerima harta dengan resmi dilakukan oleh tuang-tuang adat, sorak-sorai masyarakat Negeri Ullath riuh terdengar. Kapata-kapata dengan ramai diperdengarkan dengan penuh sukacita karena keluarga pical pada saat itu yang telah dinyatakan lunas membayar hutang adat Upu. Saya pun turut merasakan sukacita bersama kala itu.

Minuman sopi dan sageru yang merupakan unsur penting dalam setiap acara adat di Maluku dibagi-bagikan untuk diminum bersama-sama. Yang aneh dan tidak masuk akal adalah bahwa buyung/tempayan yang berisikan sopi yang diletakkan di bagian pintu masuk dan pintu belakang Baileo tidak kunjung habis. Padahal, jumlah orang yang meminum dari isi buyung itu mencapai sekira 2000 orang.

Setelah saya telusuri, kabarnya fenomena tersebut merupakan hal biasa terjadi di setiap acara adat Upu. Buyung-buyung tersebut telah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Ullath dan hanya orang-orang khusus yang boleh mengambil isi dari dalam buyung tersebut. Menurut orang Ullath, tokoh khusus yang dapat mengambil sopi dari buyung yang ditempatkan di pintu depan adalah mereka yang bermarga Latul. Sementara, untuk buyung yang ditempatkan di pintu belakang adalah mereka yang bermarga Patty.

Demikianlah runtunan acara adat Upu di Maluku. Oh iya, saya hampir lupa ada beberapa informasi tambahan, diantaranya bahwa makanan atau pun minuman yang disediakan oleh keluarga pical boleh dikonsumsi tidak hanya untuk masyarakat Ullath tetapi juga bagi orang dagang (sebutan bagi pendatang atau wisatawan). Sementara untuk jenis makanan yang disediakan tidak diperbolehkan menyuguhkan daging babi dalam acara adat sebab dianggap pamali.

Tag : Pukul Manyapu : Tradisi Seru yang Dinanti di Maluku Tengah

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

    TULIS KOMENTAR