Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
8 Januari 2013

Ditulis oleh
Hasrinaldi

Kategori :
Budaya - Seni

0 Komentar

Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara

Posted on : 8 Januari 2013
Categories : Budaya - Seni

Di Yogyakarta atau kota lain di Jawa, siswa SD sudah begitu akrab dengan bahasa dan budaya Jawa. Mereka sedari kecil sudah dididik untuk mengerti budaya Jawa, menggunakan bahasa Jawa sejak kecil. Di bangku sekolah, mereka akan bertemu dengan mata pelajaran bahasa Jawa. Tradisi ini terpelihara dengan sendirinya sehingga generasi muda mengerti dan tahu warisan luhur nenek moyangnya.

Di Riau, hal yang sama juga terjadi namun cara ini tidak berlangsung lama, yakni tahun 90-an hingga awal 2000-an. Sekolah di Riau memiliki mata pelajaran muatan lokal Arab Melayu. Tulisan Arab Melayu menjadi program wajib kurikulum dasar muatan lokal yang memberikan arti dan makna bagi pelestarian budaya.

Mata pelajaran Arab Melayu ini memiliki makna sebagai interaksi dengan kehidupan masa lalu yang teraktualisasi pada cerita-cerita rakyat yang menggambarkan perilaku budaya yang ditampilkan dalam bentuk syair, hikayat, gurindam, pantun, petuah.

Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara

Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara

Tulisan Arab Melayu: Khazanah Budaya Riau yang Menjadi bahasa Universal Nusantara

Dulunya, huruf Arab Melayu atau Jawi menjadi bahasa yang universal di Nusantara. Surat-surat raja-raja Nusantara ditulis dalam huruf Arab Melayu (Jawi). Sebagian besar karya sastra nusantara seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai dan lainnya ditulis dalam huruf Jawi. Cap atau stempel kerajaan pun ditulis ke dalam huruf Jawi. Mata uang di awal-awal penjajahan yang diterbitkan VOC pun juga menggunakan huruf Jawi.

Sayangnya, kini tradisi tersebut telah hilang seiring waktu. Mata pelajaran muatan lokal Arab Melayu di Riau hanya bertahan sebentar. Generasi saat ini di Kota Pekanbaru dan kota lain di Riau maupun di Nusantara tidak banyak yang mengenal dan mengerti huruf Arab melayu.


Perkembangan kesusasteraan Melayu ditandai dengan penggunaan huruf Arab Melayu. Masyarakat Melayu merasa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Awalnya tulisan ini disampaikan melalui media dakwah dalam penyeberan agama islam di semenanjung Melayu.

Kini dengan adanya Visi Riau 2020 yang menjadikan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, sebagian besar masyarakat kembali mempelajari dan melestarikan tulisan Arab Melayu (Jawi). Hampir sebagian besar nama-nama jalan di Riau dan kabupaten/kota ditulis dengan huruf Arab Melayu.

Tag : Pulau Abang Kecil , Pengantin Sahur: Tradisi Menarik saat Ramadhan di Riau, Tari Zapin: Menikmati Khazanah Tarian Rumpun Melayu di Kepulauan Riau, Makyong: Teater Tradisional di Kepulauan Riau

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR