Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
6 Januari 2013

Ditulis oleh
Bani Idham Muttaqien

Kategori :
Diving & Snorkeling - Olahraga

0 Komentar

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Posted on : 6 Januari 2013
Categories : Diving & Snorkeling - Olahraga

Malam semakin larut namun lampu-lampu kendaraan masih menghiasi Tol Cipularang. Kami sedang berada dalam perjalanan dari Bandung menuju Bandara Cengkareng mengejar penerbangan tengah malam dengan diliputi sedikit rasa cemas akan ketinggalan pesawat apalagi sebelumnya lampu mobil sempat putus. Singkat kata kami sampai pada waktu yang tepat sehingga tidak perlu lama menunggu boarding. Wajah saya sedikit sumringah di tengah kantuk karena ini akan menjadi kali pertama saya untuk merasakan bagian Timur dari tanah air Indonesia. :’)

Saya terbangun dari tidur akibat pesawat mendarat agak kurang mulus karena landas pacu Bandara Domine Eduard Osok yang sedikit tidak rata. Waktu setempat telah menunjukan pukul 07.45. Matahari telah terik, dan pemandangan pertama yang saya lihat adalah anak-anak Papua yang sedang bermain di rumput pinggiran landas pacu. Kota Sorong (21/9). Rencananya saya dan dua orang teman (senior) akan tinggal satu pekan ke depan di kota ini untuk melakukan studi perencanaan tata ruang dan wilayah.

Singkat cerita, satu pekan lebih telah terlewati diakhiri dengan selesainya pekerjaan. Kami memiliki jatah empat hari bebas sebelum kembali ke studio di Bandung, namun hanya saya dan seorang teman yang memutuskan untuk extend. Pikiran kami langsung menuju ke satu tujuan yang sama. Ya, Raja Ampat! Satu malam tersisa kami habiskan untuk melakukan persiapan dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang seluk beluk perjalanan beserta akomodasi di sana. Untungnya di hotel tempat kami menginap terdapat pusat informasi wisata Raja Ampat; suatu keharusan ketika Sorong menjadi satu-satunya gerbang menuju surga di barat bumi Papua ini.

Keesokan harinya, Matahari telah naik tepat seratus delapan puluh derajat dari titik nadir. Kami berangkat dari hotel menuju pelabuhan menggunakan angkot (masyarakat lokal menyebutnya taxi), dengan posisi semua kursi menghadap ke depan. Perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi Selat Dampier selama 2 jam menggunakan kapal cepat, Marina Express, yang beroperasi hanya satu kali setiap hari pada pukul 14.00 WIT. Kami mengambil kursi ekonomi. Di kapal inilah kami bertemu dengan Xavier Ballansat, die schweiz guy yang sedang menikmati cuti panjangnya sebagai solo traveler. Ia telah menjelajah Indonesia selama tiga minggu, dimana sebelumnya telah mengunjungi Bunaken, Alor, Halmahera Selatan dan terakhir Manokwari sebelum merapat ke Sorong menggunakan kapal PELNI. Pada akhir percakapan, kami memutuskan to do some joint trip selama di Raja Ampat nanti.

Senja perlahan menjemput malu-malu dari ufuk Barat Bumi Papua seiring dengan merapatnya kapal yang kami tumpangi di Dermaga Waisai. Onomi Fokha, Raja Ampat!

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Onomi Fokha, Raja Ampaaaaat!

Kami bergegas menuju hostel menggunakan ojek karena memang hanya moda transportasi inilah yang tersedia di Waisai, selain dapat menggunakan boat melalui perjalanan laut. Setidaknya ada lima jenis akomodasi di Raja Ampat: (1) Resort yang letaknya tersebar di beberapa pulau, (2) hotel, (3) cottage, (4) hostel dan (5) homestay. Waisai sendiri merupakan ibukota distrik di Kabupaten Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Pulau Waigeo. Waigeo merupakan sala satu pulau besar diantara tiga pulau besar lainnya, yaitu Batanta, Salawati dan Misool.

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Raja Ampat in a wink

Sesampainya di hostel, kami hanya membereskan isi daypack karena sudah tidak sabar untuk snorkeling dan menikmati sunset di Waiwo; salah satu destinasi favorit di sekitaran Waisai. Hati berdecak kagum ketika pertama kali menyelam di perairan Waiwo ini. Walaupun visibility-nya kurang bagus akibat pembangunan bandara tak jauh dari kawasan konservasi ini, namun perasaan kami cukup terhibur dengan suguhan teater alam berupa Matahari terbenam di Barat Waiwo.

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Senja di Waiwo

Hari semakin malam, dan malam tetaplah malam, namun cahaya rembulan mengimbangi dengan sinar terangnya seakan terus bertanya-tanya tentang keadaan kamu yang sedang berada di tanah Britania Raya sana. Ah sudahlah ini bukan waktu yang tepat untuk bergalau ria. Menyelam melewati senja membuat perut kami sudah tidak bisa menahan rasa lapar. Usai bersih-besih kami pun bergegas menyambangi deretan tempat makan di sekitar Waisai yang letaknya tidak jauh dari Masjid Raya. Jenis makanan di sini didominasi oleh ikan segar selain makanan khas jawa seperti pecel ayam, lele, dll. Memang banyak transmigran asal Jawa yang mengadu nasib di tanah merah ini.

Makan malam menjadi aktivitas terakhir bagi kedua orang teman, tetapi tidak untuk saya. Di Raja Ampat, pasokan listrik hanya menyala pada jam-jam tertentu sehingga pada saat listrik padam maka seluruh energi untuk penerangan dan kebutuhan lainnya bersumber dari generator. Polusi suara generator yang cukup nyaring membuat saya tidak bisa tidur malam itu. Tapi keadaan kali ini bukan hanya disebabkan oleh bisingnya suara generator tetapi juga karena saya sudah tidak sabar untuk melakukan trip ke beberapa gugusan pulau esok hari….

Pagi telah tiba. Ada yang aneh dari Bumi Raja Ampat kali ini. Matahari enggan menampakkan dirinya. Hujan pun turun cukup lebat dari awan-awan gelap itu. Rencana kami hampir gagal, dan saya tidak kuasa menahan rasa kecewa karena kami hanya punya waktu hari ini saja sebelum besok harus kembali ke Sorong. Akan tetapi, pukul 9 pagi hujan mulai reda bertepatan dengan datangnya jemputan longboat dari Mansuar. Perjalanan pun semakin lengkap dengan bergabungnya salah seorang diver satu penginapan yang melengkapi dirinya dengan underwater camera. Yeah! Archipelagic trip, here we go!

Longboat pun melaju dengan kencangnya menembus kabut tipis setelah hujan. Mesin kapal perlahan berhenti menandakan kami telah sampai di destinasi pertama, suatu pulau bernama Meospun yang berarti pulau kecil (dalam bahasa penduduk setempat meos=pulau, pun=kecil). Pulau ini hanya dihuni oleh ratusan kelelawar. Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan melewati beberapa gugusan pulau.

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Loangboat menepi di meospun

Westkepkri menjadi first dive stop kami untuk melakukan penyelaman. Memang rencana Tuhan jauh lebih indah dari apa pun. Udara segara siang dengan sedikit terik setelah hujan menjadi pelengkap penyelaman kali ini. Tidak usahlah mahal-mahal menyewa alat diving, di sini hanya dengan bermodal google+snorkel+fins saja sudah bisa bertemu sapa dengan berbagai jenis ikan, mulai dari berbagai jenis anemone, moa, sampai puffer fish!

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Puffer fish

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Mesmerizing nudibranch

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Xavier with the corals

Seakan tidak puas dengan penyelaman pertama,longboat pun melaju dibawah kemudi Pace Dedy, menyambangi diving point lainnya dengan bermodalkan nalar dan hati sebagai kompas. Di perairan Mansuar, kami kembali menyelam. Di sini kami berjumpa dengan banyak schooling fish, bumphead parrot, lion fish, dan juga a lil white tip shark!

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

This is how Xavier and I explore Raja Ampat underwater

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Bumphead parrot fish

"Didalam air saya sesekali terdiam, terhipnotis dengan mahakarya Sang Pencipta yang begitu sempurna menciptakan bumi papua ini. Memang benar tidak alasan bagi kita untuk menjadi jumawa dengan apa yang kita punya."

Tempat terakhir yang menjadi tujuan trip kali ini adalah Desa Wisata Yenbuba, kampung halaman Pace Dedy. Ketika kapal merapat ke dermaga, kami langsung disambut riang oleh anak-anak desa.

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Bersama anak-anak desa yenbuba

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Yenbuba Tourism Village

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Suasana desa yenbuba

Terhanyut dalam interaksi dengan masyarakat lokal membuat waktu berjalan seakan berlipat kali lebih cepat. Xavier memutuskan untuk homestay-ing di desa ini beberapa hari ke depan sedangkan kami bertiga melanjutkan perjalanan pulang sebelum ombak dan gelombang pasang mendampingi senja.

Ada kabar baik ketika kami sampai di Waisai. Ternyata esok adalah hari senin, waktu yang tepat karena setiap hari ini ada kapal besar bernama Getsemani yang melakukan pelayaran pagi menuju sorong untuk kemudian lusa kami akan melakukan perjalanan pulang menuju Bandung.

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

View dari Kapal Getsemani

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Suasana di geladak kapal

"Don’t be a tourist. Plan less. Go slowly. I traveled in the most inefficient way possible and it took me exactly where I wanted to go." --Andrew Evans

Ya, perjalanan ini memang direncanakan dengan seadanya, semoga dalam waktu dekat saya dapat kembali ke tempat ini untuk menjelajah sampai ke teluk kabui, menyelam di manta point, menikmati keindahan gugusan pulau wayag dan eksotisme pulau misool. Bye Raja Ampat :’)

Raja Ampat, Surga di Barat Bumi Cendrawasih

Sore hari di dekat dermaga wtc

Tag : Raja Ampat, Sejuta Kemilau Papua dan Papua Barat: Direct Promotion Produk Papua

 

TULIS KOMENTAR