Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
4 Januari 2013

Ditulis oleh
Ari Suryaputra

Kategori :
Bangunan Bersejarah

0 Komentar

Kotagede: The Living Museum

Posted on : 4 Januari 2013
Categories : Bangunan Bersejarah

Awan mendung menyelimuti kota Jogja. Diikuti gemuruh petir yang bersaut-sautan. Padahal, agenda trip kami hari ini adalah hunting foto rumah-rumah Joglo di Kotagede.

Kotagede berarti kota besar. Area ini adalah ibu kota pertama Kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati, sebelum kemudian dipindah oleh Sultan Agung ke daerah Karta. Hingga saat ini, sisa-sisa kerajaan, seperti benteng, masjid dan pasar masih bisa kita lihat.

Mobil berbelok menembus keramaian Pasar Kotagede. Pak Tri, supir kami, menjelaskan pasar ini ramai setiap tanggalan legi dalam kalender Jawa. Penjual dan pembeli tumpah ruah di jalanan. Bahkan kendaraan pun tak bisa lewat! Pasar yang sudah ada sejak zaman pemerintahan Panembahan Senopati itu masih aktif hingga saat ini.

Mobil berbelok sekali lagi memasuki areal parkir masjid yang terletak satu kompleks dengan makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Pohon-pohon beringin berusia ratusan tahun berdiri kokoh seolah menjadi penjaga gerbang. Memasuki pelataran masjid, kita akan melewati gapura berasitektur Hindu, lambang toleransi beragama di masa lampau.

Kotagede: The Living Museum

Di sisi kiri pelataran kita bisa melihat gapura lain yang menjadi gerbang makam, sedangkan di sisi kanannya berdiri prasasti berwarna hijau dengan lambang Kasunanan Surakarta. Di bagian atasnya diletakkan jam sebagai pengingat waktu salat. Monumen ini adalah penanda bahwa Paku Buwono X dari Surakarta pernah melakukan renovasi bangunan masjid tersebut.

Kotagede: The Living Museum

Masjid Gedhe Mataram, Kotagede sendiri dibangun sekitar tahun 1575-1601. Di pintu masuk masjid terpahat angka 1856 dan 1926 sebagai petunjuk bahwa masjid ini pernah direnovasi di tahun-tahun tersebut. Bentuk bangunannya limasan yang dikelilingi parit, dengan serambi depan yang lapang. Di dalamnya terdapat mimbar pemberian dari seorang adipati dari Palembang. Di salah satu sisi dindingnya terdapat bagian yang tidak diplester, melainkan diberi kaca agar nampak susunan batu bata di dalamnya.

Kotagede: The Living Museum

Segera setelah selesai salat dzuhur, kami memulai “penjelajahan”. Awan pekat yang tadi siap mengguyur hujan, perlahan justru pergi menjauh. Nampaknya keberuntungan berpihak kepada kami. Kamera stand by, siap mengabadikan momen unik selama perjalanan. Dimulai dari menyusuri jalan raya di depan masjid. Yang dimaksud jalan raya ini adalah jalan kecil yang hanya cukup dilalui dua mobil. Tapi jalan sempit ini sungguh menarik karena dinding-dinding rumah, yang berbatasan langsung dengan jalan, dihiasi lukisan mural. Cantik!

Kotagede: The Living Museum

Belum habis rasa penasaran kami pada gambar-gambar di sana, kami menemukan sebuah gang yang tepat berada di sebelah toko pengrajin perak. Tokonya sendiri cukup unik karena berbentuk rumah joglo. Awalnya kami tertarik untuk melihat-lihat souvenir yang dijual di toko ini. Tapi, kami justru menemukan sesuatu yang lebih menarik. Di sepanjang gang itu berdiri rumah-rumah joglo tua yang terawat rapih dan masih ditinggali.

Bak mendapat harta karun, kami langsung menyusuri gang yang nampak bersih dan asri karena dihiasi pot-pot tanaman. Rumah-rumah di sini tidak berpagar, teras depan langsung menghadap jalan. Kami bisa melihat ke dalam rumah dari jendela-jendela yang dibiarkan terbuka oleh pemiliknya.

Nyaris tidak ada lalu lalang orang sore itu. Tenang dan nyaman. Walapun begitu, aktivitas di dalam rumah terdengar jelas dari balik tembok bata dan kayu tua rumah-rumah di sana.

Kamera kami sibuk mengabadikan segala hal: genting-genting berwarna coklat kemerahan, pintu gebyok, teras rumah dengan satu set meja-kursi kuno. Kami menyapa satu-dua orang penghuni yang kebetulan sedang berada di luar juga menyaksikan anak-anak yang riuh bermain di pekarangan. Tempat ini seperti living museum dengan sekumpulan koleksi rumah joglo!

Sebuah pendopo berada tepat di tengah-tengah gang. Nampaknya sengaja dibiarkan terbuka untuk umum agar setiap orang dapat beristirahat sejenak di situ. Beberapa penghargaan atas pelestarian budaya dipajang di sana. Rupanya rumah-rumah joglo di kampung ini memang dipelihara dan dilestarikan.

Gang yang kami susuri bercabang. Seperti labirin yang membiarkan kami menentukan arah. Setiap cabang mengantarkan kami pada gang-gang sempit lainnya yang tak kalah menarik. Bahkan, bagian belakang rumah-rumah joglo di sini pun menarik untuk dijadikan obyek foto.

Ketika hari semakin sore, kami putuskan untuk kembali ke masjid. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk mampir di Warung Ys (baca: es) Sido Semi, salah satu warung makan tertua di Kotagede. Jangan bayangkan sebuah cafe yang fancy, tempat ini memang benar-benar sebuah warung sederhana. Tapi, disitu lah keunikannya. Dengan segala perabotan dan tampilannya yang vintage, sekedar melepas dahaga dengan sebotol limun pun bisa menjadi pengalaman yang unik.

Kotagede: The Living Museum

Datanglah di hari Jumat agar dapat berkunjung ke makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam. Anda diharuskan mengenakan pakaian tradisional untuk memasuki areal makam. Jangan khawatir, di sana disediakan penyewaan pakaian. Mohon diperhatikan, Anda dilarang mengambil foto selama di area makam.

Pertimbangkan jika Anda hendak berkunjung di saat tanggalan legi. Keramaian pasar di sana bisa menjadi pengalaman dan objek wisata yang menarik, tetapi sekaligus bisa mengurangi kenyamanan Anda.

Tag : Yogyakarta

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR