Perayaan Walima di Bubohu Bongo, Pesta Cinta Yang Tak Pernah Berakhir
Posted on : 2 Januari 2013
Categories : Budaya - Seni
Walima adalah tradisi cinta yang dirawat dari generasi ke generasi di Desa Bongo, Batudaa Pantai, Gorontalo. Lebih dari 100.000 kolombengi yang terbuat dari telur, tepung dan gula menjadi wujud cinta. Uang sejumlah jutaan rupiah pun dikeluarkan masyarakat untuk membiayai pesta ini. Inilah bukti cinta mengalahkan hitungan dunia.
Tiga pekan terakhir lalu, Farida, perempuan paro baya menghabiskan sebagian besar waktunya di dapur. Belanjaan tepung terigu, telur, gula dan yang lainnya jauh hari telah disiapkam di dapurnya. Entah berapa kali ia menyeka wajahnya penuh keringat di depan cetakan kue kolombengi yang panas.

Farida dan juga perempuan desa Bongo, Batudaa Pantai, kabupaten Gorontalo larut dalam suasana maulid, menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad. Ia lakoni bertahun-tahun sejak masih anak-anak di desa ini.
“Kami meneruskan apa yang pernah leluhur kami lakukan, memang melelahkan tapi kami gembira karena ini perayaan setahun sekali” tuturnya sambil menyiapkan 8 kg campuran beras dan ketan untuk lalampa, Sabtu (28/2) pagi. Saat yang sama lelaki Bongo tanpa dikomando mendadani jalan desa dengan lengkungan janur dan lampu gemerlap.

Menjelang malam selepas shalat Isya, Dikili lamat-lamat dilantunkan di Masjid At-Taqwa, makin lama makin keras, terbawa angin laut dan menggema di setiap bebukitan gersang desa Bongo. Sanjungan kepada Nabi Muhammad tiada henti, kaum nelayan Bongo memujinya dengan caranya tersendiri, kecintaan mereka kepada Al-Amin melebihi batas nalar, kecintaan abadi kepada sang Nabi. Sepanjang malam pujian Dikili tanpa henti hingga bertaut Subuh, para lelaki dan wanita terbuai syair, dan berlanjut hingga matahari mulai meninggi.

Minggu pagi, setiap keluarga menyelesaikan usungan Walima yang telah diuntai dengan Kolombengi aneka rupa, membentuk kubah memanjang. Di bagian bawah Tolangga, tertata rapi dalam anyaman janur, Toyopo, seekor ayam goreng utuh, nasi kuning, telur, dan wapili
Satu persatu setiap keluarga mengeluarkan walima dari rumahnya, ada yang dipikul beberapa orang, atau dinaikkan dalam gerobak menuju masjid. Bahkan ada bentuk perahu walima, mencerminkan sarana produksi mereka, juga berisi kolombengi berwujud ikan dan belimbing. Deretannya memanjang mengantre untuk didaftar, diberi nomor sebelum dinilai. Hilir mudik santri berjubah putih panjang dan bersorban paling sibuk mengangkuti walima, sementara pemangku adat mengawasi prosesi.
Perayaan Walima di Bongo merupakan tradisi tua yang terus terjaga, dilaksanakan penuh kepatuhan dan kecintaan, dan mendapat dukungan penuh dari tokoh desa Bongo yang telah menasional, Yosep Tahir Ma’ruf. Ia sadar, diperlukan lompatan “gila” untuk mengubah masyarakatnya. Tidak sedikit uang dari koceknya dikucurkan untuk perayaan ini, setiap tahun. Bahkan untuk menjamu tamu di rumahnya, seekor sapi disembelih, tidak terhitung banyaknya ikan laut. Demikian juga dengan walima yang khusus dibuatnya.

Di Bongo terdapat 850 kepala keluarga, dan setiap warga merayakan dengan membuat kue. Yang mampu membuat tolangga yang berhias kolombengi dan toyopo, ada ratusan yang dijejer di halaman masjid. Setiap walima rata-rata menghabiskan 500-800 kolombengi. Farida dan keluarga lainnya telah menganggarkan Rp1 juta - Rp3 juta, bahkan ada yang lebih.
“Walima itu ekspresi kebahagiaan yang diwujudkan dalam karya seni dan spirit kerja yang tinggi. Totalitas dalam maulid Nabi tidak membuat masyarakat jadi miskin, setiap tahun makin ramai, bahkan setiap perayaan Walima datang, orang Bongo selalu gampang mencari ikan tuna. Ini berkah yang harus disyukuri” kata Yosep dalam wawancaranya dengan Gorontalo Post menjelang pagi.
Ia menegaskan bahwa kekuatan Walima sesungguhnya ada di masyarakat, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mandiri yang dikelolanya dan menjadi motor dalam festival Walima hanya membuat kemasan agar peristiwa budaya ini lebih meriah dan terkoordinir.
“Obsesi saya adalah membuat Bongo ini menjadi Desa Wisata Religius” lanjutnya. Sejak 1997 ia telah dirintis pembangunan, mulai dari marketing Walima, membangun masjid Walima Emas di atas bukit, penanggalan Hijriyah terbesar di dunia, kolam renang santri dan khusus wanita, dan ke depan akan dibangun istana bagi para penghafal Al-Quran, juga menyulap rumah-rumah warga menjadi kamar hotel sekelas bintang lima serta restoran termahal di Indonesia. Untuk menjual mimpinya, Yosep akan menggarap pasar Timur Tengah.
“Saya 9 tahun jualan kue keluar masuk kampung, selama itu pula kepala saya menyunggi panasnya sabongi dan pisang goreng, mungkin ini yang membuat saya gila” guyonnya sambil mengingat masa lalunya yang getir.
Ribuan warga menghadiri pesta Walima, tidak menghiraukan terik Matahari membakar ubun-ubun. Pesta cinta pada Nabi belum berhenti, malam harinya Dikili masih digelar di masjid atas desa Bongo di saat warga yang lain pulas dalam kenyang nikmatnya kolombengi.
Tag : Rumah Adat Dulohupa: Wajah Budaya Gorontalo, Malam Tumbilotohe: Menikmati Gorontalo yang Ramai Berhiasakan Lampu, Kerawang: Kerajinan Sulam Khas Gorontalo
ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL
nobon latif
Ditulis 15 Apr 2013 pukul 09:36memang bongo kita p kampung.... HIDUP KM. SASHIMI BAHARI
PERNI PARMAN
Ditulis 15 Apr 2013 pukul 09:38HIDUP SMP BONGO, TAPI YANG LULUSAN PERTAMA....
SAIDA U SINGGU
Ditulis 15 Apr 2013 pukul 09:49KANGEN MO SUKA REUNI ANGKATAN PERTAMA....
eman idrus
Ditulis 15 Apr 2013 pukul 09:50hidup bongo, tanjung kramat jawaitio..... wkwkwkwkwkwkwk





anang ahmad
Ditulis 15 Apr 2013 pukul 09:32wah mantap yah.... ternyata nda sia2 kita lahir di bongo... hidup bongo, hidup dulanga....