Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
27 Desember 2012

Ditulis oleh
Adam & Susan

Kategori :
Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang - Berjalan-jalan

0 Komentar

Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah

Posted on : 27 Desember 2012
Categories : Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang - Berjalan-jalan

Salah satu keistimewaan Indonesia adalah memilki keragaman lanskap alam mulai dari pantai, bukit, gunung, sawah hingga pesisir pantai yang indah atau juga dataran tinggi sebuah tempat. Nah, hal ada hal yang menarik dari salah satu dataran tinggi di Indonesia, yaitu Dataran Dieng memiliki pemandangannya yang berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah

Dieng berlokasi di atas pegunungan sekira 150 km barat laut Yogyakarta. Dataran Dieng memiliki pemandangan memesona. Bukit-bukit berjajar diisi dengan lahan ditanami sayuran di sepanjang perjalanan. Kolam alami dengan lumpur bergolak serta danau dengan pantulan warna-warni pun menjadi daya tarik tempat ini.

Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah

Tujuan wisata utama di Dataran Dieng ini adalah beberapa candi peninggalan zaman Hindu dan daerah geotermal di sekitar Kawah Sikidang. Tempat wisata tersebut bisa dikunjungi dengan berkeliling berjalan kaki atau jika membawa kendaraan sendiri dapat diparkir di depan masing-masing lokasi objek. Destinasi pertamanya biasanya adalah kompleks Candi Arjuna, sekumpulan candi yang dibangun abad ke- 18 adalah tergolong candi-candi tertua di Pulau Jawa. Candi-candi ini dikelilingi bukit-bukit curam yang diselimuti kabut dan lahan-lahan pertanian di sekitarnya. Inilah pemandangan yang menakjubkan.

Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah

Dari kompleks Arjuna, pengunjung bisa berjalan kaki menyeberangi sawah menuju ke Candi Gatotkaca. Kali ini pemandanganan yang disajikan adalah pemandangan kota Dieng jauh di seberang lahan-lahan pertanian tersebut. Destinasi berikutnya adalah Candi Bima, sekitar 800 meter dari Candi Gatotkaca. Candi Bima adalah candi yang paling besar di area tersebut.

Dieng, Pesona Alam Pegunungan berpadu dengan Wisata Sejarah

Berbelok dari Candi Bima, sekitar 800 meter dari sana ada Kawah Sikidang yang banyak dikunjungi orang untuk melihat kolam lumpur panas yang bergelegak serta merasakan uap-uap panas yang menembus dari dalam ke permukaan tanah. Aliran sungai kecil di wilayah tersebut juga ikut membawa air dengan suhu yang hangat bahkan ada juga yang cukup panas. Beberapa lubang yang berisi air hangat kadang dikerubungi oleh pengunjung untuk mencoba mencelupkan kaki atau tangan. Hati-hati jangan asal celup, kadang ada yang suhunya sangat tinggi. Jangan terlalu dekat juga dengan semburan gas yang keluar dari lubang-lubang kecil di dalam tanah.

Selesai bermain-main dengan uap dan air panas serta menikmati pemandangan kolam lumpur bergolak yang sebetulnya agak seram akibat suhunya yang sangat tinggi. Jangan lupa mampir di warung-warung di depan kompleks untuk mencicipi gorengan seperti tahu, tempe dan kentang goreng. Menurut cerita beredar, kentang di Dieng memang berbeda, lebih enak rasanya dan teksturnya lembut namun renyah setelah digoreng. Katanya sih karena temperaturnya yang sejuk maka hasil kentang yang ditanamnya juga berbeda dibandingkan kentang yang ditanam di daerah lain. Kalau bawa kendaraan sendiri, boleh beli kentang mentahnya supaya bisa diolah sendiri di rumah, atau kalau mau praktis bisa juga beli keripik kentang yang sudah dikemas di plastik transparan.

Tujuan berikutnya adalah Telaga Warna, danau yang dikelilingi hutan dengan latar belakang gunung yang berkabut. Danau tersebut sebenarnya berwarna hijau kebiruan, namun kadang pantulan sinar matahari di saat-saat tertentu membuat permukaan danau berwarna-warni.

Suhu udara di Dieng memang cukup dingin, kadang di bulan Juni-Agustus suhu di malam hari bisa mencapai di bawah 0 derajat Celcius. Di siang hari disarankan memakai jaket tipis dan celana panjang karena kadang angin yang berhembus bisa membuat sedikit menggigil. Di malam hari, jika menginap di homestay atau guest house di sana, pastikan ada selimut yang cukup tebal. Saking dinginnya, jika menghembuskan udara dari mulut akan terlihat uapnya di udara malam!

Jika tidak berniat untuk menginap di Dieng, kunjungan sangat mungkin dilakukan dengan daytrip dari Yogyakarta. Selain booking tur dari agen, perjalanan ke Dieng bisa dilakukan secara independen dengan menyewa motor. Walaupun perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar 4-5 jam namun di sepanjang perjalanan akan disajikan pemandangan pegunungan yang asri. Jika berniat menginap di Dieng, akomodasi berupa homestay bisa didapat dengan harga Rp150.000,- (kamar mandi dalam).

Mau mencoba kendaraan umum dari Yogyakarta ke Dieng? Coba cari bus yang menuju Magelang, kemudian Wonosobo dan dari sana menuju Dieng. Kalau beruntung, Anda bisa dapat bus yang langsung dari Yogyakarta menuju Wonosobo. Agak ribet memang, jangan sampai menjadi alasan untuk tidak mengunjungi Dieng. Dataran Dieng cocok sekali sebagai tempat untuk melepas rasa penat kehidupan kota, jauh dari kemacetan, hiruk pikuk dan polusi udara. Di Dieng ini udaranya segar sekali, bagus untuk kesehatan. Ayo ke Dieng!

Tag : Dataran Tinggi Dieng, Telaga Warna Dieng

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR