Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
30 November 2012

Ditulis oleh
abd kodir jaelani

Kategori :
Bangunan Bersejarah - Berjalan-jalan - Berpetualang

0 Komentar

Borobudur di Pagi Hari

Posted on : 30 November 2012
Categories : Bangunan Bersejarah - Berjalan-jalan - Berpetualang

Borobudur di Pagi Hari

Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur. Candi terbesar yang berada di Jawa Tengah ini sudah menjadi bagian dalam sejarah bangsa Indonesia. Bahkan mata pelajaran sejarah SD sudah membahas tentang Borobudur. Candi Borobudur dibangun atas perintah Samaratungga, seorang raja Mataram Kuno yang juga keturunan dari Wangsa Syailendra pada abad ke-8. Keberadaan Candi Borobudur ini pertama kali terungkap oleh Sir Thomas Stanford Raffles tahun 1814. Saat ditemukan, Candi Borobudur dalam kondisi hancur dan sebagian besar terpendam di dalam tanah.

Borobudur di Pagi Hari

Dari perjalanan sejarah tersebut juga menyebutkan kalau Candi Borobudur adalah candi Buddha terbesar pada abad ke-9. Candi yang terdiri dari 10 tingkat ini memiliki tinggi keseluruhan 42 meter. Menurut Prasasti Kayumwungan, terungkap bahwa Candi Borobudur selesai dibangun pada 26 Mei 824, atau hampir 100 tahun sejak dimulainya pembangunan.

Borobudur di Pagi Hari

Mengetahui sejarahnya, sejak SD aku sudah bermimpi ingin sekali menginjakkan kaki di Borobudur. Mimpi tersebut aku tulis kuat dalam imajinasiku, dan pada akhir Oktober 2012 mimpi itu akhirnya terwujud.

Berangkat dari Stasiun Senen menggunakan kereta ekonomi Progo jurusan Senen-Lempuyangan, saya dan seorang teman memulai petualangan ini untuk menggapai mimpi memegang patung Buddha bertepatan dengan terbitnya Matahari. Konon katanya, pemandangan Matahari terbit dari atap Borobudur itu menghipnotis karena indahnya.

Borobudur di Pagi Hari

Berangkat pukul 21:00 WIB dari Stasiun Senen, kereta sampai di Stasiun Lempuyangan pukul 07.00 WIB. Ternyata kereta sekarang sudah tepat waktu sesuai jadwal yang tertera dalam tiket. Sesampainya di Jogja, rugi rasanya kalau tidak mengunjungi Malioboro dan mencoba pecel atau gudeg yang ada di depan Pasar Beringharjo. Pecel yang dijual oleh kebanyakan kaum ibu ini begitu nikmat dan khas. Benar bila orang bilang kalau pecel atau gudeg asli dari sumbernya lebih enak dari pada beli di kota lain.

Saat berkeliling di Jogja, perjalanan kami lanjutkan menuju terminal Jogja. Dari sini, kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus Jurusan Magelang. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke Terminal Magelang. Dari sana, kami lanjutkan dengan angkutan yang langsung menuju Terminal Borobudur. Dari Terminal Borobudur, perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan kaki atau naik ojek menuju Borobudur.

Borobudur di Pagi Hari

Sampai di kawasan Borobudur, waktu sudah menjelang malam. Keadaan sudah mulai sepi dan rasa dingin mulai menggerogoti tubuh kami. Banyak penginapan yang terdapat di depan pintu masuk Borobudur ini. Dengan memilih penginapan di sekitar Borobudur tentunya akan memudahkan kami untuk mengejar sunrise esok pagi.

Kami pun bertanya ke penduduk yang sedang asyik ngerumpi sambil minum kopi dan merokok mengenai penginapan yang murah dan nyaman. Ternyata semua penginapan di kawasan ini rata-rata mematok harga mulai dari 100 ribu, dan itu artinya sangat pas sekali dengan kantong para backpacker seperti kami ini. Kami segera menuju penginapan dan segera beristirahat. Sebelum tidur, alarm kupasang dengan harapan esok pagi senyum Matahari tidak terlewati.

Berisik bunyi alarm membangunkan mimpiku, setelah mandi dan shalat shubuh kami berlari mengejar waktu. Dengan langkah cepat akhirnya tiba di pintu masuk, tetapi rasa kecewa muncul setelah melihat pintu masuk masih tutup dan tertulis buka pukul 06:00 WIB. Bagaimana bisa melihat sunrise bila dibuka pada pukul 06.00 pagi?

Tidak puas dengan pengumuman itu, kami berputar menjelajahi semua pintu masuk dan berharap dapat keajaiban. Rasa senang muncul ketika tukang ojek memberitahukan bisa masuk dari pintu 7 melalui Hotel Manohara. Akan tetapi, rasa kecewa menjadi lebih berat ketika mendengar harga tiket, yaitu 250 ribu per orang; tentu saja itu cukup memberatkan kantong backpacker.

Gagal melihat sunrise, kami memutuskan untuk menunggu pintu masuk dibuka pada pukul 06:00 WIB. Ini diluar skenario yang sudah aku rencanakan, kecewa tentu saja, keindahan memandang Matahari terbit Borobudur tidak bisa kami nikmati sebab hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berkantong tebal. Semoga ke depan pemerintah bisa kembali mempertimbangkan untuk membuka Borobudur pada waktu shubuh.

Ada keuntungan juga masuk Borobudur pagi-pagi sekali, karena cuaca yang masih segar dan tentu saja pengunjung masih sedikit sehingga memudahkan untuk memotret segala sudut dengan bebas. Kami pun dapat berekspresi tanpa rasa malu di depan Patung Budha.

Rasa takjub menguasai saat membayangkan siapa arsiteknya dan bagaimana dulu nenek moyang kita membangun candi semegah ini. Dengan menggunakan peralatan apa mereka membuatnya sehingga batu dapat tersusun rapi dan ukiran patung dapat tercipta dengan detailnya. Orang sekarang saja belum tentu bisa membuatnya.

Di setiap sudut bangunan Borobudur akan terlihat pemandangan patung Budha dengan gunung dan bukit-bukit indah sebagai latarnya. Belum lagi sinar Matahari yang belum panas dan langit yang masih biru. Embun pagi yang masih membasahi stupa-stupa semakin membuat suasana pagi di Borobudur jadi luar biasa.

Sangat pantas jika Borobudur ini menjadi identitas bangsa Indonesia. Karenanya, kita sebagai anak bangsa harus menjaga dan melestarikannya. Marilah kesadaran kita mulai dari diri sendiri untuk terus menjaga tempat wisata di negeri ini, salah satunya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kalau bukan kita siapa lagi?!

Borobudur dengan segala keindahan dan misteri keberadaannya akan selalu hidup di memori. Saya berjanji jika ada kesempatan akan kembali lagi suatu hari nanti.

Tag : Borobudur

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR