Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
30 November 2012

Ditulis oleh
Rheisnayu Cyntara

Kategori :
Bangunan Bersejarah - Budaya - Berjalan-jalan

7 Komentar

Borobudur, Bangga Maka Jaga.

Posted on : 30 November 2012
Categories : Bangunan Bersejarah - Budaya - Berjalan-jalan

Pernah mendengar tentang Candi Borobudur? Pasti pernah, dong! Pernah berkunjung ke Candi Borobudur? Saya yakin sebagian besar sudah ya. Nah, jika belum pernah dan ingin tau lebih banyak tentang candi Buddha terbesar di dunia yang telah diresmikan sebagai World Heritage No. 592 oleh UNESCO ini maka simak artikel tentang Borobudur ini.

Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, pada tahun 1814 menemukan candi Borobudur pertama kali. Sedangkan pemugaran selesai pada tahun 1984 saat pemerintahan Soeharto dan tahun 1991 Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Duniaoleh UNESCO.

Letak candi Borobudur adalah 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta tepatnya di Kecamatan Borobudur, sekitar 3 km dari kota Mungkid (ibu kota kabupaten Magelang, Jawa Tengah). Saya berangkat dari terminal bus Giwangan Jogja dengan bus kecil jurusan Jogja-Borobudur dengan tarif Rp12.000,-. Bus berhenti di terminal Borobudur, dari terminal Borobudur kita bisa naik becak, andong, atau berjalan kaki. Tidahk jauh kok, hanya sekira 300 m atau 10 menit jika berjalan kaki. Akan tetapi apabila ingin naik becak maka siapkan uang kurang lebih Rp10.000,-

Jam buka candi adalah pukul 07.00-18.00 WIB setiap hari. Setelah sampai dan mengantri akhirnya saya pun mendapatkan tiket masuk candi seharga Rp30.000,- (dewasa) dan Rp12.500,- (anak-anak). Dilarang membawa makanan ke area candi dan harus dititipkan di tempat penitipan dekat pembelian karcis, minuman masih diperbolehkan. Mungkin aturan ini dibuat untuk tindakan preventif dari para wisatawan yang suka buang sampah sembarangan. Hayoo ada yang ngerasa?

Masuk ke area candi kita harus memakai kain batik yang telah disediakan tanpa dipungut biaya, untuk menghormati keagungan candi dan upaya untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap batik khas Indonesia yang telah diakui secara resmi oleh UNESCO.

Dari kejauhan sudah terlihat bangunan candi yang mengerucut ke atas seperti teratai yang tersusun di atas bujursangkar dan lingkaran yang melambangkan kosmos atau alam semesta dalam Buddha Mahayana. Sepuluh pelataran menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana tentang tingkatan Bodhisattva untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu yang diperkirakan dibangun antara tahun 760-830M pada masa puncak kejayaan wangsa Syailendra. Pembangunan Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga tahun 825. Wuih lama yah!

Pintu gerbang utama Candi Borobudur menghadap ke timur. Kok bisa tau? Iya, karena relief yang berada di candi Borobudur ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina yang berasal dari Bahasa Sanskerta daksina yang artinya Timur. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai dan berakhir pada pintu gerbang sisi Timur di setiap tingkatnya. Nah, jika ingin tau lebih detail tentang relief-relief di dinding candi sebaiknya memakai jasa tour guide yang banyak bekerjasama dengan paket tur and travel.

Semakin ke atas hawa terasa menyengat padahal saya sudah berusaha datang pagi, tenyata jam 9 di Borobudur panasnya sudah berasa sampai ubun-ubun. Sepertinya topi yang saya pakai tidak banyak menolong. Oh iya, ada juga jasa penyewaan payung hanya Rp3000,- rupiah.

Bagi yang ingin merasakan sensasi melihat sunrise atau sunset di Borobudur harus merogoh kocek lumayan dalam. Informasi yang saya dapat dari petugas, tiket untuk melihat sunrise atau sunset adalah Rp380.000,- (manca) dan Rp200.000,- (lokal). Bagi pemegang tiket sunrise diperbolehkan untuk mulai masuk candi pada pukul 4 pagi - 6 sore. Sedangkan bagi yang ingin mnikmati sunset, diperbolehkan berada di dalam candi hingga pukul 19.00. Tiket sunrise tidak dapat ditukarkan, maksudnya jika kita berhalangan mendapatkan pemandangan sunrise yang kita harapkan maka tidak dapat diundur untuk besok. Sedangkan untuk sunset, tiket dapat ditukarkan jika kira-kira kita memprediksi bahwa hari ini sunset kurang bagus. Jadi, pikir masak-masak ya jika ingin membeli tiket. Sayang sekali apabila tidak mendapat momen yang pas padahal sudah mengeluarkan biaya yang lumayan.

Di Borobudur, banyak arca tanpa kepala, tangan, atau bagian-bagian lainnya. Kepala adalah bagian yang paling banyak hilang. Konon, karena untuk mencuri seluruh arca Buddha terlalu berat dan besar, arca sengaja dijungkirkan dan dijatuhkan oleh pencuri untuk diambil kepalanya. Bahkan pada tahun 1896, Raja Thailand Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan 8 gerobak penuh arca dan kini dipamerkan di Museum Nasional di Bangkok. Sedih ya?

Tapi sekarang pengamanan bangunan candi dari tangan nakal para pengunjung sudah diperketat. Pada bagian teratas candi tampak para security yang bertugas mengawasi dan mengingatkan para pengunjung yang ngeyel menduduki atau bahkan memanjati arca untuk berfoto. Tak segan-segan, petugas akan menegur menggunakan pengeras suara. Apa tidak malu tuh? Harusnya sebagai “pemilik” Candi Borobudur ini kita punya kesadaran tinggi untuk menjaga keindahan ancient heritage kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Padahal sudah banyak lho peringatan yang dipasang, ini salah satu contohnya.

Saat ini, di Candi Borobudur sedang dilakukan pemugaran karena adanya kebocoran di area candi pada tingkat 4 dan 7. Kebocoran ini dapat merusak bagian dan kekokohan candi bila tidak cepat diperbaiki.

Saya hanya bertahan selama satu setengah jam saja untuk berkeliling dan melihat-lihat bangunan candi yang sungguh menakjubkan ini. Saya turun dengan napas ngos-ngosan dan kehausan. Banyak tempat teduh di sekitar candi yang bisa dipakai untuk melepas lelah kok, sekalian membaca informasi singkat tentang sejarah dan tahap pemugaran Candi Borobudur yang disediakan di jalan keluar dari kompleks candi. Nah, jika telah keluar dari kompleks candi maka kain batik yang tadi kita pakai wajib dilepas dan ditaruh di tempat yang telah disediakan.

Turun dari area inti Borobudur, ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi berikutnya. Ada museum Karmawibhangga yang berisi artefak-artefak yang ditemukan sekitar candi pada saat dilakukan pemugaran, antara lain guci, cangkir, piring, lingga atau prasati, dll. Selain itu, terdapat juga batuan candi yang rusak akibat jamur, pengapuran, erupsi, gempa bumi, dan pengeboman pada tahun 1985. Tapi, sayang tidak diperbolehkan untuk memotret di area sini. Di museum ini juga terdapat potongan-potongan batu candi dan juga unfinished budha statue dari stupa induk.

Museum Kapal Samudraraksa adalah tempat menarik lainnya. Di dalamnya, terdapat tiruan dari kapal cadik yang digambarkan pada relief candi. Kita dapat pula berjalan-jalan di Taman Lumbini, berkeliling kompleks candi dengan kereta mini dengan membayar Rp5000,-, naik delman, atau menyewa sepeda seharga Rp10.000,- (sepeda single) dan Rp20.000,- (sepeda thundem). Jika ingin berbelanja, pergilah ke sentra makanan dan kerajinan di gerbang keluar candi. Ingin tahu sejarah singkat tentang candi Borobudur? Ada toko yang khusus menjual bukunya dalam beberapa bahasa juga postcard, yaitu toko Kopari. Harus pintar menawar ya, bargain skill sangat diperlukan lho di sini.

Hari semakin sore, saya pun bersiap-siap untuk kembali ke Jogja. Tapi bangunan ini, Borobudur, seakan selalu memiliki beribu alasan untuk sekedar ditoleh dan dipandangi kembali. Saya pun menoleh, tersenyum, sambil mengaguminya sekali lagi. Menakjubkan bukan para nenek moyang kita zaman dahulu? Saat belum ada peralatan modern, mereka bisa membangun bangunan sebesar dan semegah Borobudur ini. Sebagai orang Indonesia kita patut bangga dan ikut berperan secara aktif dalam upaya pelestarian warisan budaya yang membanggakan ini. Mari!

Tag : Borobudur

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR