Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
26 November 2012

Ditulis oleh
Anggun Nugraha

Kategori :
Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang

4 Komentar

Mengejar Matahari Bromo Dari Penanjakan yang Spektakuler

Posted on : 26 November 2012
Categories : Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang

Jurnal Perjalanan

Petugas Front Office Java Banana seolah sudah terbiasa dengan jam jaga dini hari. Segera setiap tamu dibangunkan agar tak terlambat. Telfon di setiap kamar tertentu dideringkan sebagai pertanda waktu bangun telah tiba. Biasanya pukul 3.00 dini hari, tamu yang ingin memburu matahari terbit di balik pegunungan Bromo sudah siap menaiki mobil khusus berjenis Jeep yang tak akan tunduk pada ganasnya jalan pegunungan yang menanjak dan berpasir.

Mengapa tamu datang ke Bromo tak lain biasanya untuk dapat mengabadikan momen penting yang seolah lebih dari sekedar kepuasan pribadi. Ada keinginan sentimental yang berbinar dari tiap pengunjung saat harus berjalan mendaki jalan sempit di tengah kegelapan. Bagi sebahagian orang, bangun pagi saja sudah menjadi satu tantangan, dan di sini, itu baru titik awal. Setelah kira-kira 20 menit menaiki jeep, tantangan berikutnya jauh lebih getir bila dirasakan, yaitu menguji ketahanan fisik sekitar 30 hingga 40 menit berjalan menanjak hingga pelataran di timur puncak gunung Pananjakan, dimana tak kurang dari 80 hingga 100 orang merasakan kegirangan yang sama.

Gelap pagi masih sangat pekat. Jalan tak mungkin terlihat bila lampu sorot tak diambil serta. Dari tempat parkir Jeep, pengunjung yang merayap jalan berdebu tebal tak menyadari, bahwa udara di sekelilingnya penuh partikel pasir halus yang menyesakkan nafas. Hampir semua yang mengetahui kondisi itu, langsung mengenakan masker yang dibawanya atau dibelinya di tempat parkir jeep. Beberapa pengunjung terlihat mengeluarkan botol air minum, dan tak hentinya ditenggak saat beristirahat di setiap ujung belokan jalan.

Gunung Bromo

Di puncak, segalanya jelas bahwa segala perjuangan mendaki jadi tak berarti karena sejauh mata memandang, keindahan cakrawala luar biasa terpajang dari sisi utara ke selatan. Mentari mulai terpancar membiaskan warna kuning keemasan. Awan putih nampak meluncur menuruni lembah terhempas angin pagi. Perpaduan sinar dan gerak tabir awan seperti episode alam yang diatur dalam skenario nan indah. Binar sinar semakin memancar sehingga tak henti video yang dibuat menjadi pembuktian otentik dari keagungan alam. Kamera foto bersahutan mengabadikan detik demi detik mentari, menorehkan definisi lekukan Gunung Batok yang nampak paling depan di horizon pegunungan Bromo-Tengger-Semeru.

Gunung Bromo

Gunung Pananjakan dengan ketinggian 2.770 meter di atas permukaan laut, merupakan spot terbaik untuk melihat sunrise di balik Gunung Semeru di kejauhan yang posisinya sejajar dengan Gunun g Batok yang berdiri di depan Kawah Bromo dan Gunung Widodaren. Gunung Pananjakan lebih tinggi dari Kawah Bromo (2.329 meter di atas permukaan laut), sehingga dari sini, Bromo, Batok, dan lautan pasir tampak dengan jelas.

Bukit terjal berbatu di Penanjakan dijadikan amphitheatre olehpemuja keindahan alam. Seperti domba pegunungan, mereka mencari pojok nyaman untuk berdiri, menjadi saksi hidup kemegahan terbitnya mentari pagi. Dalam beberapa menit sorot lampu alam terhebat di seluruh galaksi ini menerpa wajah setiap penyaksi matahari terbit. Seperti gunung emas, bukit berbatu itu merona. Kemenangan terasa meliputi pelataran.

Gunung Bromo

Suasana penuh kepuasan, kengerian, dan kegirangan bercampur baur dalam kepanikan mengambil foto atau video, karena ada kekhawatiran semua keajaiban ini akan terlewat tanpa bukti kenangan.

Sebelum turun kembali ke lapangan parkir, tak sedikit yang berbagi kekaguman sambil menyeruput air kopi panas atau mie rebus yang dijual penduduk setempat. Tak peduli itu teman lama atau kenalan baru, mereka menjadi satu kelompok seperjuangan, domestik atau internasional.

Gunung Bromo

Tanpa diatur, setiap orang meninggalkan theatre alam itu karena matahari sudah semakin menjulang. Kekurangan waktu tidur mereka sepertinya harus ditebus segera dan mereka bergegas kembali. Menikmati matahari terbit di Bromo sungguh sebuah keajaiban. Di ketinggian yang tak setiap orang mampu menembusnya, presentasi keseharian dari mentari terbit menjadi begitu spektakuler.

Gunung Bromo

Akses

  1. Diawali dari Surabaya, perjalanan menuju Bromo memakan waktu 2-3 jam tergantung kondisi lalu lintas ke Probolinggo, melalui kota Sidoarjo, Bangil dan Pasuruan.
  2. Terminal Bis di Surabaya: Purabaya atau Bungurasih. Terminal Bis di Probolinggo: Banyuangga. Bis AC dan Non-AC tersedia. Tarif Bis AC sekitar Rp 25.000 dan Non-AC sekitar Rp 15.000 saja.
  3. Dari Probolinggo gunakan angkutan umum walau tidak pernah terjadwal pasti. Alternatif lain ialah sewa mobil dengan biaya sebesar Rp 350.000 sekali jalan atau Rp 50.000 bila sharing dengan penumpang lain ke Cemoro Lawang via Sukapura.
  4. Bila kebetulan Anda berhenti di� Sukapura, ojek atau angkutan umum bisa digunakan dengan membayar hingga sekitar Rp 50.000 hingga penginapan Anda.
  5. Penginapan jenisnya bervariasi, mulai dari Rp 150.000 hinggaRp2.250.000 per malam. Di penginapan biasanya disewakan baju hangat / jaket dengan tarif Rp 10.000.
  6. Harga sewa Jeep untuk menuju Bromo tergantung berapa banyak tujuan wisata yang ingin dikunjungi. Bila mengunjungi pelataran Penanjakan dan Laut Pasir (ke Kawah Bromo) saja, tarifnya Rp 350.000 saja dimana satu Jeep dapat berisi 4 hingga 5 orang. Bila ditambah dua tujuan lainnya seperti padang rumput Teletubbies dan Watu Singo, maka tarifnya Rp 650.000.
  7. Kuda dapat disewa di Penanjakan dengan harga Rp 65.000 untuk menaiki jalan mendaki dan turun.

Tips

  1. Gunakan sepatu pendaki atau sepatu tertutup, jaket, sarung tangan, kupluk (long beanie hat), masker, dan kacamata saat ke Bromo. Masker berguna untuk melindungi pernafasan dari debu saat mendaki. Debu sudah tercampur dengan kotoran kuda sewa sehingga dengan mudah menjadi sumber penyakit pernafasan bila terlalu banyak masuk saluran pernafasan. Kupluk berguna untuk melindungi telinga dari dingin dan menahan panas badan yang banyak keluar lewat kepala. Kacamata lebih baik yang menempel pada kulit dan mengikuti lingkar bentuk wajah karena debu yang tertiup angin sangat mudah masuk mata Anda.
  2. Lindungi kamera Anda dari debu. Saat debu tertiup angin, hindari menggunakannya karena tidak sedikit kamera menjadi macet dan rusak karena debu halus masuk ke dalam sela-sela kamera. Maka, bawalah serat microfiber pembersih lensa, blower, dan juga kuas pembersih kamera.
  3. Bawa obat tetes mata dan obat masuk angin untuk menjaga kenyamanan wisata di Bromo. Hal ini tidak banyak diinformasikan tapi begitu berguna.
  4. Pastikan waktu kunjungan Anda adalah waktu teraman, dengan cara melihat status gunung api dengan jalan menelfon salah satu hotel di sekitar Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru atau melihat informasi lewat website.

Tag : Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Menembus Lautan Pasir Bromo

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR