Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
22 November 2012

Ditulis oleh
Shera Betania

Kategori :
Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang

1 Komentar

Mendaki Gunung Rinjani

Posted on : 22 November 2012
Categories : Mendaki Gunung, Trekking, - Berpetualang

Pendakian ke Rinjani sudah terkenal sebagai salah satu yang tersulit dilakukan di Indonesia. Gunung yang dipercaya masyarakat lokal sebagai tempat bersemayamnya Dewi Anjani ini merupakan gunung api kedua tertinggi di Indonesia. Memiliki ketinggian 3.726 mdpl, dalam cerita rakyat Lombok dikenal dengan sebutan pesanggrahan Dewi Anjani. Keberadaan Dewi Anjani di Rinjani dipercaya selalu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya.


Persiapan fisik dan mental menjadi syarat penting untuk mendaki Gunung Rinjani, juga harus ada niat hati dan pikiran yang positif serta motivasi yang kuat. Untuk memulai pendakian, kami berangkat dari hotel di sekitaran Senggigi pukul setengah 6 pagi. Sekitar pukul 8 pagi kami sudah tiba di Sembalun dan menikmati sarapan pagi di sana. Setelah sarapan pagi, kami menuju kantor Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) untuk melakukan pendaftaran (registrasi) dan mendapatkan tiket masuk. Setelah melakukan pendaftaran, kami menuju pintu masuk Sembalun dan dimulailah petualangan alam 3 hari 2 malam.

Indahnya kebersamaan di Puncak Rinjani


Sebuah tim terdiri dari 5 pria dan 3 wanita disertai 2 orang guide pun memulai perjalanan menuju Pos 5 Sembalun, tempat tenda akan didirikan. This will be a long and winding road. Jalur dimulai dengan melewati padang rumput luas. Hijau muda, hijau tua, coklat dan birunya langit adalah warna-warni sepanjang perjalanan. Kemudian kami masuk ke area hutan, udara mulai terasa sejuk dengan sinar Matahari yang malu-malu menyinari perjalanan kami. Sebuah awal yang menyenangkan. Perjalanan masih terus menyenangkan hingga kami menemukan pos pertama. Dalam perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa trekker yang baru saja turun gunung. Di pos pertama kami bertemu dengan 4 orang asing yang sebelumnya jauh berada di belakang kami namun bisa bertemu kami di pos pertama. Entah kami yang terlalu santai atau mereka yang terlalu cepat.

Setelah beristirahat sejenak sekira 10 menit untuk minum dan makan makanan ringan, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang dilalui masih berupa savana yang terbentang luas. Cantik dan ciamik bagai permadani. Kami kemudian berjalan melewati beberapa bebatuan hingga akhirnya sampai ke Pos 2 dan menikmati makan siang di sana. Makan siang yang dimasak oleh para porter terbilang sederhana. Lumayan lama kami harus menunggu para porter mempersiapkan makanan sambil duduk berkumpul di batuan bawah jembatan; rasanya perut sampai berteriak. Mie rebus dengan berbagai jenis sayuran ditemani teh hangat dan kopi adalah menunya. Hampir 1 jam kami menghabiskan waktu mengobrol, bercanda dan foto-foto sambil menunggu makanan dihidangkan. Rasa lapar terhapuskan setelah menyantap habis makan siang dengan menu seadanya tersebut. Makan siang kami juga ditemani oleh beberapa pitu (monyet) yang bergelantungan di pohon dekat kami beristirahat. Mulai siang itu, kami pun membiasakan diri dengan pola makan siang serupa di siang-siang berikutnya.

Setelah makan siang, minum teh dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan panjang siang itu. Masih ada 3 pos yang harus dilalui. Perjalanan berikutnya adalah menuju Pos 3 dan 4 yang mulai menantang. Kami melewati bebatuan besar dan jalan yang menanjak. Setiap perjalanan menurun kami anggap sebagai bonus. Ya, bonus untuk kami, untuk kaki kami. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan mampu membuat kami mampu melupakan kelelahan. Teman-teman seperjalanan yang kompak dan selalu membuat tertawa mampu membuat kami menawar keletihan.

Sesungguhnya tim 8 orang ini adalah tim baru yang terbentuk karena memiliki tujuan yang sama, yaitu mendaki Rinjani. Perbedaan yang ada mampu melebur di tengah perbincangan, komunikasi dan gurauan yang mampu menawar rasa letih. Tim yang menyenangkan dan membangkitkan semangat.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pos Sembalun. Perjalanan dari pos 4 ke pos 5 merupakan perjalanan yang melelahkan, melintasi jalur yang dikenal dengan nama Bukit Penyesalan. Bukit ini benar-benar membuat orang menyesal. Bagaimana tidak menyesal, saat melintasinya membuat ingin kembali ke Pos 1 yang sudah jauh ditinggalkan. Sementara, usaha menuju Pos 5 merupakan perjuangan mendaki yang sangat luar biasa. Bukit penyesalan tidak hanya satu, namun ada 5 bukit (itu menurut beberapa orang yang kami temui). Kami tidak menghitung sudah berapa bukit yang kami lalui. Sudah terlalu lelah untuk menghitung. Jalur menanjak berupa lahan tanah berbatu kerikil. Belum lagi kabut yang mulai naik dan rasa dingin yang menusuk kulit kami. Rasanya sungguh membuat kesal.


Sedikit demi sedikit, perlahan tapi pasti kami mendaki bukit yang satu ke bukit yang lain. Hingga saat sampai di bukit terakhir, mata kami dimanjai oleh panorama alam yang luar biasa. Gunung Rinjani di sebelah kiri, bukit dengan barisan cemara di sebelah kanan dan pancaran sinar Matahari yang menyeruak diantara pepohonan cemara. Pancaran sinar Matahari yang menyeruak menghasilkan gambaran mata yang luar biasa cantiknya. Kami pun tak segan mengabadikan setiap momen dan sejenak beristirahat sambil menikmati keindahan alam yang luar biasa cantiknya.


Setelah cukup beristirahat dan menikmati pemandangan, Matahari juga mulai turun. Sambil terus menanjak naik, kami menapaki akhir dari Bukit Penyesalan. Kami tiba di pundak bukit dan melihat salah satu keindahan alam Rinjani lainnya yaitu Danau Segara Anak. Kami pun mendirikan tenda tak jauh dari danau cantik ini. Sekira pukul 8 malam, tenda kami sudah berdiri tegak. Kami menikmati makan malam berupa nasi goreng yang terasa sangat nikmat disantap bersama di dalam tenda. Angin yang bertiup hingga menusuk tulang mulai kami rasakan. Kami berkumpul mengitari api yang dibuat porter untuk menghangatkan diri sambil menikmati teh panas. More tea, kata salah satu porter kami saat menawarkan teh. Sejak itulah more tea menjadi semacam tagline khas bagi kami. Setelah puas menikmati kehangatan api unggun kecil, satu per satu kami mulai beristirahat, membaringkan badan agar siap menanjak esok paginya.

Pagi hari sekira pukul 3, kami sudah bersiap diri. Setelah menyesap teh panas, kami berjalan beriringan mendaki puncak Rinjani. Perjalanan kami bisa dikatakan agak telat dari yang sebaiknya. Tapi, dengan tekad yang kuat kami terus berjalan perlahan, seiring dengan fajar yang makin meninggi. Di sisi kanan-kiri jalur adalah jurang. Sementara, jalan yang kami daki adalah pasir tebal yang mudah longsor; sungguh jalur yang menantang dan menyulitkan. Jalan yang menanjak, batu-batu besar dan kecil yang mudah longsor dan jarak pandang yang terbatas menuntut kami untuk pandai-pandai memilih jalur.

Dengan bahu membahu kami bersama-sama berjalan hingga sampai di Puncak Rinjani. Ya, Puncak Rinjani yang dimaksud di sini adalah adanya plat dengan tulisan Puncak Rinjani 3.726 M. Sebenarnya kami hampir putus asa untuk mencapai titik ini, kami memutuskan untuk berhenti mendaki di jarak beberapa meter dari titik puncak ini. Saat melihat bendera Merah Putih, kami memutuskan berjalan hingga bendera itu. Tak disangka, bendera itu diserta tulisan “Puncak”. Rasanya? Lega dan senang. Ternyata kami sudah sampai di puncak.


Banyak orang yang berpendapat kalau puncak atau summit itu adalah titik paling tinggi di gunung Rinjani. Padahal sebenarnya titik tersebut adalah view point terbaik. Dari summit of the summit itu, tampak seluruh pemandangan indah sekitar Gunung Rinjani. Ya, kami sampai ke Puncak Rinjani. Kami sempat menikmati terbitnya Matahari pagi. Indah, cantik; mungkin inilah salah satu spiritual moment saya. Di puncak itu, saya merasa diri ini sangat kecil dan merasakan kebesaran Tuhan. I am nothing. Dia, pencipta alam ini, pencipta diri saya. Dia-lah yang Maha Hebat. Ia mampu menciptakan lukisan alam seindah ini.


Mata ini sungguh dimanjakan oleh keindahan pemandangan hingga tidak bisa berkata apa-apa. Waktu yang ada kami nikmati dengan mengabadikan setiap momen, setiap pemandangan, setiap keindahan. Seiring Matahari meninggi, pemandangan sekitar gunung makin terlihat. Danau Segara Anak, Gunung Anak Baru, sebagian wilayah Lombok, bahkan Gunung Agung di Bali dapat dengan jelas kami lihat dari sana.


Setelah puas berlama-lama di puncak, kami pun turun kembali ke Sembalun. Trek yang kami lalui sama dengan waktu kami menanjak, hanya saja saat ini jalurnya menurun. Pasir-pasir dan bebatuan kerikil yang licin cukup mengganggu napas dan penglihatan. Masker dan sunglasses pun dikerahkan. Udara makin panas membuat kami juga membuka kancing jaket. Jalan menurun memang lebih cepat daripada saat mendaki. Sekira pukul 9, kami pun sudah sampai di tenda Sembalun Lawang untuk beristirahat sejenak dan menikmati sarapan pagi di sana. Setelahnya, sekira pukul 10 kami mempersiapkan diri untuk menuju Danau Segara Anak sebab akan menghabiskan malam di sana. Selain danau, kami berniat akan menikmati hot spring water yang tak jauh dari danau. Bayangan air panas membuat kami makin terpacu untuk tetap semangat.

Perjalanan menuju danau memang menurun, namun jalan yang kecil dan tidak rata membuat kami harus mengeluarkan tenaga ekstra. Gurauan-gurauan kecil beberapa anggota tim mampu membuat kami tidak memikirkan lelah dan sulitnya jalur yang harus dilalui sekaligus menjadi asupan penambah semangat kami. Siang hari, sekira pukul 1 siang kami sampai di pos persinggahan untuk makan siang. Di tempat ini, kami bertemu rombongan turis dari Belanda. Tidak sengaja mendengar percakapan mereka bahwa di Belanda gunung tertinggi itu memiliki ketinggian hanya 100 meter. Sontak saya tertawa mendengar hal itu. Kalau 100 meter sih bukit, bukan gunung. Beruntung lah orang Indonesia yang memiliki banyak kekayaan dan keindahan alam yang tidak dimiliki negara lain. Indonesia kaya. Indonesia indah. Indonesia cantik.

Selesai beristriahat dan santap siang, kami melanjutkan perjalanan. Tak sabar rasanya ingin merendam kaki di air panas. Setibanya di pinggiran Danau Segara Anak, pemandangan indah, cantik dan ketenangan sekejap menyeruak. Kabut seakan menyambut kedatangan kami. Sudah ada beberapa kelompok yang mendirikan tenda saat kami datang ke danau.

Kami bergegas menuju hot spring water sambil membawa pakaian dan peralatan mandi yang kami butuhkan. Berjalan melewati ilalang-ilalang dan bebatuan, udara dingin makin menusuk. Tapi pemandangan indah tetap dapat kami nikmati, sementara di kejauhan terlihat kepulan asap. Kami menuruni bebatuan untuk tiba di lokasi pemandian air panas. Ternyata tak sekedar air panas, tapi juga ada air terjun kecilnya. Air panas ini mengandung belerang yang bagus untuk kesehatan kulit.

Di pemandian ini sudah dipadati pendatang, baik lokal dan juga mancanegara. Turis asing bahkan tidak segan-segan memakai bikini di tengah dinginnya hawa gunung dan panasnya air. Menyenangkan sekali rasanya bisa menikmati air panas di tengah terjangan hawa dingin selama 2 hari ini. Kami berenang kesana-kemari, bahkan ada pula yang berdiri langsung di bawah air terjun. Hempasan air terjun dari ketinggian bisa jadi pemijit punggung yang mujarab. Namun berhati-hatilah, di sekitar pemandian terlihat sejumlah monyet (dalam bahasa setempat: pitu) yang mondar-mandir di tebing-tebing dan pohon-pohon. Kabarnya, mereka senang sekali mengambil barang-barang milik pengunjung pemandian air panas. Kami pun waspada dan selalu memperhatikan barang-barang bawaan kami, jangan sampai menjadi milik monyet-monyet itu.

Puas berendam, mandi dan bercengkrama, kami keluar dari air panas. Seketika itu pula, hawa dingin menusuk kulit. Kami sesegera mungkin berganti pakaian dan membereskan barang-barang untuk kembali ke kemah di pinggir danau. Sekira 15 menit berjalan, sampailah kami di tenda yang telah didirikan oleh para porter. Hari masih sore dan pemandangan danau sangat cantik. Saatnya mengabadikan momen indah ditemani model-model apa adanya. Danaunya terlihat berkilauan, bagaikan cermin. Cantik.

Saat malam tiba, kami kembali berkumpul mengelilingi api unggun. Santapan malam ini dipersembahkan oleh para guide dan para porter, yaitu ikan bakar mas yang dipancing langsung dari danau. Dibakar dengan bumbu apa adanya, ikan dibersihkan lalu diberikan perasan jeruk dan garam. Rasanya sih biasa saja, tapi suasana keakrabannya yang membuat momen tersebut luar biasa. Suatu malam terakhir kami di kawasan Rinjani yang luar biasa. Canda tawa dan kata-kata “more tea” kembali menemani malam hingga larut. Ikan habis disantap, waktunya kami beristirahat. Bintangnya berjuta-juta, bahkan lebih. Bulan tak ketinggalan menyinari malam dan menyemarakkan keindahan danau.

Danau Segara Anak

Hari terakhir kami di kawasan Rinjani, pukul setengah 5 kami sudah bangun, mencuci muka, menyikat gigi dan menikmati sarapan pagi serta bersiap untuk kembali melintasi alam Rinjani yang menantang. Wajah-wajah 'bantal' masih terlihat. Sekira pukul 6, setelah mengambil poto bersama, kami berjalan menyusuri pinggir danau menuju Senaru. Kami pulang melewati pintu Senaru. Guide kami berjalan di depan, memberikan wejangan dan arahan untuk kami melangkah. Jalur Senaru ini sangat berbeda dengan Jalur Sembalun. Jika di jalur Sembalun kami melewati padang luas savana, maka jalur Senaru akan menemui batu-batu dan hutan. Lebih ekstrim dan menantang. Sampai di ujung danau, tantangan pertama mulai menghadang. Bebatuan dan kerikil tajam dengan jalan yang menanjak harus kami lewati. Sesekali kami berpapasan dengan turis-turis asing yang turun dari Senaru dan ingin menuju Sembalun. Mereka pergi ke Rinjani melalui pintu Senaru. Setiap berpapasan, kami selalu mengatakan "You almost there…"—sebuah ungkapan memberikan motivasi, walau memang perjalanannya masih jauh dari yang diperkirakan. Ada yang menanggapinya dengan tertawa, ada yang percaya dan ada yang menanyakan kebenarannya. Kami hanya memberikan senyum motivasi kepada mereka.

Saat mendaki bebatuan terjal kami sesekali beristirahat sambil menikmati indahnya pemandangan Danau Segara Anak dan Gunung Baru yang tersaji di depan mata. Pemandangan yang tidak akan pernah dilupakan dan sangat berharga. Cantik luar biasa karya tangan Tuhan. Kami berhenti di beberapa titik untuk mengabadikan pemandangan indah ini dengan kamera. Rasanya hanya bisa tersenyum dan meneteskan air mata. Saya sudah ke gunung Rinjani dan saya disuguhi pemandangan indah ini. Tak terbayarkan dengan apapun. Luar biasa.

Hampir 3 jam kami berjalan, akhirnya sampai juga di Pos Puncak Senaru. Di puncak ini, kami bisa melihat Danau Segara Anak, Gunung Barujari, hamparan luas savana di sisi lain bukit Senaru, dan beberapa pulau di laut Lombok. Indahnya pemandangan ini. Tak habis kami berfoto-foto ria, bahkan sampai tak sempat mengistirahatkan kaki, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos 4. Kembali kami melewati savana luas dengan tanah debu yang tebal dengan jalan yang menurun. Jalan seperti ini akan kami lalui hingga menuju Pos 3. Setelah itu, kami melewati hutan. Perjalanan dari Pos 3 ke Pos 2 terbilang jauh, maka dari itu kami harus menghemat persediaan air minum.

Sampai di Pos 3, kami disambut oleh monyet-monyet yang melihat dari kejauhan, seperti meminta makanan yang kami makan. Akhirnya kami memberikan sedikit makanan ke monyet-monyet itu. Mereka terlihat agresif kalau tidak diberi. Sekitar setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2, melewati Hutan Senaru yang sejuk. Berjalan di jalur yang rindang, sinar Matahari seperti menyeruak menghangatkan perjalanan kami. Seperti petualang sejati. Jalannya menurun, tampak beberapa tanaman unik dan menarik di sepanjang jalur. Ada pohon yang kembar yang memiliki dua akar tapi satu batang. Kami berjalan tidak cepat, juga tidak lambat.

Tak beberapa lama, sekira pukul 2 siang, kami sampai di Pos 2 dan menikmati santap siang di sana. Sekira 1 jam kami beristirahat sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos terakhir. Hampir dua jam kami berjalan untuk menuju pintu Senaru. Di pos 1 kami bahkan tidak beristirahat, hanya berhenti sebentar. Tak lama kemudian, kami pun melihat gerbang Pintu Senaru. Di pintu ini, tampak penduduk yang berjualan dan bale-bale untuk beristirahat. Kami pun beristirahat setengah jam sebelum kembali berjalan menuju tempat kami dijemput, menuju parkir desa Senaru. Sampai di pintu Senaru, penting untuk mengabadikan diri dalam gambar dengan latar belakang pintu Senaru.

Taman Nasional Gunung Rinjani Pintu Senaru

Senangnya 3 hari 2 malam menjelajah di Gunung Rinjani. Pengalaman yang tak terbayarkan, pemandangan yang tidak ada lawannya, kuasa Tuhan yang mampu menciptakan semua itu. Gunung Rinjani, gunung yang menampilkan kecantikannya dari kejauhan dan lebih indah saat berada di dekatnya. Pengalaman mendaki yang melelahkan namun menyenangkan, pengalaman yang mengajarkan betapa hidup ini sebenarnya sederhana, karena Ia sudah menjadikan segalanya indah dan mencukupkan segala sesuatunya. Bagaimana kita harus menghargai hidup, menghargai indahnya alam ini, menghargai orang lain, menghargai segala sesuatu yang Ia anugerahkan kepada kita. Pengalaman yang menyadarkan diri bahwa kita tidak ada artinya dihadapan-Nya, tapi Ia menjadikan diri kita indah dan berharga dimata-Nya. Perjalanan mendaki Rinjani adalah perjalanan refleksi diri.

GALLERY

Tag : Gunung Barujari: Anak Gunung Rinjani yang Masih Aktif Membangun Diri, Taman Nasional Gunung Rinjani

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR