Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
21 November 2012

Ditulis oleh
BUDIANA YUSUF

Kategori :
Bangunan Bersejarah

3 Komentar

Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung

Posted on : 21 November 2012
Categories : Bangunan Bersejarah

Siapa yang tak mengenal Bandung—kota wisata yang sangat populer dengan wisata belanja dan kulinernya. Selain 2 hal di atas, sebenarnya masih banyak yang dapat dinikmati dari kota ini. Wisata alam, budaya dan sejarah dapat menjadi pilihan lain untuk berwisata di Bandung sehingga kita tidak akan pernah bosan berkunjung ke Bandung.

Selain memiliki beberapa museum, di Bandung kita juga bisa menikmati suasana kota tua di beberapa sudutnya dengan banyaknya gedung–gedung tua yang berarsitektur unik. Arsitektur gedung-gedung tua di kota Bandung didominasi oleh gaya arsitektur yang dikenal dengan istilah art deco. Tak heran, pada tahun 2001, Bandung menjadi peringkat 9 dari 10 World Cities of Art Deco. Karena banyaknya bangunan bergaya art deco ini pula kemudian kemudian Bandung dijuluki Paris van Java.

Masa kejayaan arsitektur art deco di Bandung terjadi sekitar tahun 1920-an. Ketika itu pemerintah Hindia Belanda berencana memindahkan Ibukota dari Batavia ke Bandung. Untuk tujuan tersebut, secara bertahap didirikanlah gedung–gedung baru untuk perkantoran pemerintah Hindia Belanda di Bandung. Gedung – gedung tersebut dibangun dengan gaya arsitektur yang sedang populer saat itu yaitu langgam art deco.

Langgam art deco berkembang setelah berakhirnya Perang Dunia I hingga meletusnya Perang Dunia II. Saat itu masyarakat dunia sibuk menata kembali lingkungannya yang rusak akibat perang. Para seniman dan arsitek saat itu seakan diberi kesempatan untuk mencari inovasi baru untuk membangun kembali lingkungannya yang porak-poranda, hingga kemudian lahirlah gaya seni yang saat ini dikenal dengan langgam art deco.

Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung

Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung

Menikmati kemegahan bangunan tua di Bandung dapat kita mulai dari Jalan Asia–Afrika. Di jalan yang bersejarah ini banyak berjejer bangunan kuno yang megah baik yang berarsitektur art deco maupun langgam arsitektur klasik lainnya. Grand Hotel Preanger, Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka, Toko De Vries dan Kantor Pos Bandung merupakan beberapa diantaranya.

Grand Hotel Preanger pada awalnya merupakan sebuah toko hingga kemudian mengalami beberapa kali renovasi dan berubah fungsi menjadi hotel. Hotel bergaya art deco geometric ini didesain ulang oleh C.P. Wolff Schoemaker pada tahun 1929 dibantu oleh seorang muridnya sebagai juru gambar yang tak lain adalah Ir. Soekarno, yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia.

Menikmati Kemegahan Arsitektur Art Deco di Bandung

Hotel Savoy Homman pada awalnya bernama hotel Homann, yang dimiliki oleh keluarga Homann. Pada tahun 1940 hotel bergaya art deco jenis streamline moderne ini didesain ulang oleh Albert Aalbers yang kemudian namanya ditambah menjadi Hotel Savoy Homann. Beberapa tokoh dunia pernah menginap di hotel ini, salah satunya adalah Charlie Chaplin. Pada waktu diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, hotel ini bersama dengan hotel Grand Preanger menjadi tempat menginap para pemimpin dunia.

Di sebelah utara Hotel Savoy Homann terdapat Gedung de Vries. Gedung ini disebut-sebut sebagai pusat perbelanjaan pertama di Bandung. Tahun 1909 dan 1920 dilakukan pemugaran toko de Vries oleh biro arsitek Edward Cuypers Hulswitt dengan gaya klasik indis. Terakhir pada tahun 2010 toko ini kembali dipugar hingga tampilannya seperti tampak saat ini.

Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada tahun 1895 dengan nama Societeit Concordia. Pada tahun 1926 bangunan ini direnovasi seluruhnya oleh Wolff Schoemacher, Aalbers dan Van Gallen. Pada tahun 1954 gedung ini di pugar kembali untuk keperluan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada tahun 1955.

Masih di jalan Asia–Afrika, terdapat Kantor Pos Besar Bandung. Kantor pos ini selesai dibangun pada tahun 1928 hasil rancangan arsitek J. Van Gendt dengan gaya art deco geometric. Dahulu jalan tempat kantor pos ini berada bernama Postweg (Jalan Raya Pos). Jalan Raya Pos merupakan jalan sepanjang 1000 km yang dibangun pada masa Gubernur Jendral Daendels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan dan melewati kota Bandung.

Di jalan Braga, kita bisa melihat jajaran toko-toko kuno bergaya art deco. Di jalan ini juga terdapat Gedung DENIS Bank (sekarang Bank Jabar) yang di bangun pada tahun 1936 oleh arsitek Albert Aalbers bergaya art deco jenis streamline moderne. Berdekatan dengan DENIS Bank terdapat gedung bekas bioskop Majestic hasil karya arsitek C.P. Wolff Schoemaker yang telah berdiri sejak tahun 1925. Kini gedung bekas bioskop tersebut bernama New Majestic dan difungsikan untuk kegiatan seni budaya.

Masih di Jalan Braga, kita juga bisa menikmati keindahan Gedung Bank Indonesia yang dahulu bernama Javasche Bank. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont dan Edward Cuyfers dengan gaya Neo Klasik.

Di Bandung utara, kita juga bisa menikmati keindahan arsitektur art deco, salah satunya adalah Villa Isola yang terdapat di dalam komplek kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Villa ini di bangun tahun 1933 oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker.

Belum lengkap rasanya jika kita berkunjung ke Bandung tanpa mengunjungi gedung yang menjadi ikon kota Bandung, yaitu Gedung Sate. Gedung bergaya Indo–Eropa ini mulai di bangun pada tahun 1920 hasil rancangan Ir. J. Gerber. Adanya ornamen mirip tusuk sate di puncak gedung ini menjadikan gedung ini dikenal dengan sebutan Gedung Sate. Konon jumlah 6 bulatan dalam tusuk sate tersebut menandakan pembangunan gedung ini menghabiskan dana sebanyak 6 juta Gulden. Saat ini Gedung Sate difungsikan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Selain gedung–gedung tersebut di atas masih banyak lagi gedung–gedung kuno di Bandung dengan berbagai langgam arsitektur klasik lainnya yang dapat kita nikmati keindahannya. Gedung–gedung tersebut tersebar di seluruh penjuru kota Bandung. Pada akhirnya, keberadaan gedung–gedung kuno di Bandung ini menjadi daya tarik pariwisata tersendiri sehingga harus dijaga kelestariannya.

Tag : Kreative Independent Clothing Kommunity Festival (KICKfest) di Bandung, Pameran Foto "Discover the Beauty of Pacitan" di ITB, Bandung

 

TULIS KOMENTAR