Indonesia's Official Tourism Website

Login User

sublayer sublayer
sublayer sublayer

Ditulis pada:
14 Agustus 2012

Ditulis oleh
Ririn Datoek

Kategori :
Budaya - Desa Tradisional

0 Komentar

Salam dari Bena

Posted on : 14 Agustus 2012
Categories : Budaya - Desa Tradisional

“Itu Gunung Inerie, Bena ada di balik gunung itu!” Itulah percakapan yang tak akan pernah saya lupa. Keesokan harinya, saya benar-benar membuktikannya. Jam 9 pagi kami berangkat menuju Desa Bena, salah satu desa megalith yang ada di Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada di Pulau Flores. Benar saja, baru saja perjalanan menuju Bena, mulut saya sudah ternganga-nganga.

Jalanan menuju Bena adalah jalan aspal halus berukuran kecil saja. Rumah-rumah adat sudah nampak di kiri dan kanan jalan. Dari awal perjalanan, Gunung Inerie sudah terlihat jelas. Kadang Gunung Inerie tampak di kanan kami, dan beberapa detik berikutnya ada di kiri kami, membuat kami berteriak, ”Your turn….your turn”, untuk mengambil shot Gunung Inerie dari sisi kanan atau kiri.

Di sebuah spot, Yanto menghentikan mobil. Ternyata dia membawa kami ke sebuah gardu pandang di mana kami dapat melihat Gunung Inerie yang berdiri tegak dengan lembah menghijau dan layer-layer bukit berbaris mengelilingi desa. Langit biru maksimal bersaput awan putih menyempurnakan lukisan indah ini. Subhanallah!

Dari tempat kami berdiri nampak atap-atap rumbia Kampung Bena dan Luba. Benar kata Yanto, Bena ada di balik Gunung Inerie. Ketika sampai di Bena, cuma ada satu kata yang keluar dari mulut saya..WOOOWWW. Kali ini saya tidak lebay. Sebuah kampung dengan rumah-rumah tertata rapi saling menghadap dan batu-batu megalith tersebar dari ujung ke ujungnya. Beberapa ibu tampak sedang menenun kain Bajawa.

Saat itu kami di temani Pak Yoseph. Seorang tetua kampung Bena yang fasih bercerita apa saja tentang Bena. Seorang lelaki dengan semangat yang tak pernah luluh untuk melestarikan kekayaan yang dimiliki oleh Bena dan penghuninya. Masa muda Pak Yoseph dihabiskan di Pulau Jawa (istrinya orang Purworejo) untuk mencari tahu segala sesuatu tentang Bena.

Di kampung Bena terdapat 45 unit rumah yang didiami oleh sembilan suku, yaitu: Suku Dizi, Suku Dizi Azi, Suku Wahto, Suku Deru Lalulewa, Suku Deru Solamae, Suku Ngada, Suku Khopa, dan Suku Ago. Untuk membedakan antara satu suku dengan suku lainnya maka dipisahkan berdasarkan sembilan tingkat ketinggian tanah di kampung ini dan kubur batu yang menjadi batas tiap-tiap suku.

Rumah adat hanya terdiri dari 3 jenis bahan ijuk, bambu dan kayu. Rumah keluarga inti pria disebut sakalobo dan ditandai patung pria memegang parang dan lembing di atas rumah. Sementara rumah keluarga inti wanita disebut sakapu’u. Di bagian depan rumah-rumah adat tersebut nampak tanduk kerbau, rahang dan taring babi sebagai lambang status sosial. Jumlah tanduk atau rahang babi yang tergantung di bagian muka rumah adalah jumlah hewan hasil sumbangan para kerabat saat rumah didirikan. Pada saatnya tiba si empunya rumah akan mengembalikan dengan hewan sejenis kepada si penyumbang.

Kampung Bena akan menjadi sangat ramai saat bulan Desember tiba, bahkan masyarakat Bena yang ada di luar Flores akan mudik untuk merayakan natal dan tahun baru. Mereka akan berpesta di lapangan di tengah kampung. Kebiasaan ini mungkin di picu oleh adanya Bhaga, kayu yang dipasang di atap rumah sebagai pengingat bagi generasi muda Bena agar sejauh apapun mereka pergi maka mereka harus ingat untuk pulang ke kampung halaman.

Bapa Yoseph yang sangat fasih berbahasa Belanda dan Jawa ini membawa kami ke Gardu Pandang di ujung perkampungan Bena. Di sini Bapa Yoseph bercerita tentang kampung Bena yang berbentuk kapal. Menurut legenda, dahulu ada kapal yang tak bisa melanjutkan pelayarannya karena terhalang Gunung Inerie. Kapal yang membatu kemudian dijadikan lokasi pendirian kampung Bena. Di sini Bapa Yoseph juga bercerita tentang mimpinya membuat buku tentang kehidupan Bena. Buku yang dibuat asli oleh penduduk Bena agar semua terekam hingga tradisi akan lestari sepanjang masa. Sebuah mimpi besar yang harus mendapat dukungan kita semua.

Dari spot ini pula saya bisa menikmati Gunung Inerie dengan bebas. Benar-benar berdiri kokoh di depan mata. Semilir angin, gunung, bukit, ngarai yang hijau, saya kehabisan kata-kata!

Tag : Kampung Bena

 

ARTIKEL TERKAIT DI INDONESIA.TRAVEL

TULIS KOMENTAR