Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Sawahlunto Gelar The International Homestay Promotional Fair 2013

Sawahlunto Gelar The International Homestay Promotional Fair 2013

Ditulis 13 Jun 2013 pukul 20:50 | Dilihat: 5919

Sawahlunto Gelar The International Homestay Promotional Fair 2013

Sebuah kota mengubah perspektif dirinya dari wilayah tambang batu bara yang mulai redup menjadi kawasan wisata dengan segudang atraksi yang mengasyikkan sekaligus mengharukan. Kota kecil yang dikelilingi bukit bak kuali ini  terus dikunjungi wisatawan meski hanya memiliki dua hotel. Akan tetapi, itu rupanya tidak masalah karena masyarakatnya bersedia menyediakan kamar di rumah mereka untuk ditinggali sebagai sebuah homestay.

 

Kota Sawahlunto menyulap dirinya dari kota tambang batu bara menjadi kota wisata sejak awal 2001. Meski hanya tersedia satu dua hotel di Sawahlunto tetapi puluhan homestay di sini adalah salah satu yang terbaik di Tanah Air. Tidak mengherankan dengan prestasi itu Sawahlunto pun ditunjuk menjadi tuan rumah perhelatan The International Homestay Promotional Fair 2013 pada 10-13 Juni 2013. Pada 2012 acara serupa sempat digelar di Malaysia namun hanya Indonesia yang turut serta. Tahun ini, ketika dilangsungkan di Sawahlunto, Indonesia, negara-negara ASEAN sangat berminat turut serta di dalamnya.


Bukan hanya acara itu saja, pada waktu bersamaan digelar pula ASEAN Workshop on Cultural Heritage Tourism karena kota ini memang memiliki banyak warisan kolonial sisa pusat tambang batu bara. Di Sawahlunto, wisatawan dapat menikmati beragam jejak sejarah kolonial berupa gedung bergaya Eropa, kereta api uap yang masih berfungsi, hingga museum dan lubang tambang batu bara itu sendiri.

 

Sawahlunto Gelar The International Homestay Promotional Fair 2013


The International Homestay Promotional Fair diselenggarakan untuk mempopularkan Sawahlunto sebagai kota homestay juga mempererat kerja sama pariwisata antarnegara ASEAN. Delegasi yang turut serta dalam acara ini datang dari The Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) (Indonesia-Malaysia-Thailand), Brunei Darussalam, Filipina, Laos, Myanmar, Kamboja, Singapura, dan Vietnam.


Secara khusus The International Homestay Promotional Fair menjadi ajang untuk berbagi informasi tentang pengelolaan homestay di negara ASEAN. Kegiatan ini juga menghadirkan beberapa perwakilan daerah di Indonesia seperti Bali, Jawa Timur (Malang), Jawa Tengah (Dieng dan Borobudur), Sumatera Barat, dan Yogyakarta.  Uniknya selama penyelenggaraan acara ini semua peserta menginap di homestay yang tersebar di dua kecamatan yaitu Talawi dan Lembah Segar.


Sawahlunto setidaknya memiliki sekira 53 homestay dengan kapasitas 116 kamar. Homestay di Sawahlunto tergabung dalam Asosiasi Homestay Sawahlunto dimana kamar dan pelayanannya terstandarisasi PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Sumatera Barat dan Dinas Pariwisata Sawahlunto. Harga sewa homestay ini mulai Rp70 ribu hingga Rp250 ribu dan sudah termasuk dua kali makan.


Wisatawan yang menginap di homestay-homestay Sawahlunto dapat merasakan keramahan dan kehangatan keluarga khas Minangkabau. Selain menawarkan pengalaman berbeda, homestay ini juga memiliki paket-paket wisata yang menarik seperti trekking, rafting, sanggar seni, wisata sejarah, desa wisata, atau pasar tradisional. Selalu ada saja tamu yang menginap di homestay apalagi saat Pemkot menggelar acara. Bahkan, baru-baru ini saat Tour de Singkarak 2013 digelar, ada ratusan tamu memanfaatkan untuk menginap di homestay.


Homestay di Sawahlunto dikembangkan secara berkesinambungan termasuk dipromosikan lewat internet dan jalinan kerja sama dengan asosiasi homestay di dalam dan luar negeri. Akomodasi berupa homestay yang dikelola di Sawahlunto dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki masalah pengembangan hotel untuk akomodasi wisatawan.

Sawahlunto Gelar The International Homestay Promotional Fair 2013


Walikota Sawahlunto, Ir Amran Nur, mengutarakan pada Indonesia.travel bahwa bukti keberhasilan pengembangan homestay di Sawahlunto adalah semakin banyaknya wisatawan datang ke kota ini. Pada 2004 jumlah kunjungan hanya 14 ribu tetapi saat ini mencapai 742.000 wisatawan. Peningkatan tersebut juga diiringi upaya pembaharuan lokasi bekas peninggalan tambang yang menjadi tujuan wisata. Beberapa di antaranya adalah gereja peninggalan kolonial, Museum Gudang Ransum, Lubang Tambang Mbah Soero, serta stasiun dan Museum Kereta Api Sawahlunto yang menyediakan trip kereta uap Mak Itam. Baru-baru ini Sawahlunto juga membangun Waterboom, Dreamland, Bioskop 4 Dimensi, dan Taman Satwa.


Peningkatan jumlah wisatawan telah berdampak pada ekonomi masyarakat Sawahlunto. Bahkan, kota ini memiliki angka kemiskinan terrendah kedua di Tanah Air setelah Denpasar, Bali. Masyarakat Sawahlunto sadar betapa pariwisata dapat berperan meningkatkan perekonomian sehingga mereka berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan.


Kota Sawahlunto, di Sumatera Barat dulunya adalah salah satu wilayah tambang batu bara terbesar di Nusantara sejak 1981. Di sinilah cermin penjajahan masa kolonial akan amat mengharukan untuk ditelusuri dari jejak sejarahnya. Wisatawan dalam dan luar negeri pun berdatangan untuk melihat langsung kisah tahanan yang menjadi kerja paksa tambang batu bara dimana mereka dirantai kaki atau tubuhnya. Tahanan sekaligus pekerja tambang tersebut datang dari berbagai wilayah di Indonesia dan hingga kini keturunan mereka masih mempertahankan budaya dan adat leluhurnya masing-masing sehingga menjadikan Sawahlunto sebagai etalase mini multibudaya Nusantara.

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda