Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Menengok Bermulanya Sejarah Melayu di Ujung Tenggara Sumatera Barat

Menengok Bermulanya Sejarah Melayu di Ujung Tenggara Sumatera Barat

Ditulis 5 Jun 2013 pukul 19:36 | Dilihat: 5589

Menengok Bermulanya Sejarah Melayu di Ujung Tenggara Sumatera Barat

Pemerintah daerah dan warga Pulau Punjung di Kabupaten Dharmasraya menyambut ratusan pembalap sepeda yang menyelesaikan etape 4 Tour De Singkarak dengan aneka suguhan kesenian tradisional. Warna-warni atraksi seni dan budaya yang ditampilkan beriringan itu selaras dengan kenyataan bahwa memang warga  Dharmasraya adalah multietnis dan budaya.

 

Pembalap, official, panitia, undangan, dan masyarakat yang berkumpul di halaman Kantor Bupati Dharmasraya disuguhi beberapa atraksi kesenian seperti reog ponorogo, gendang tasa, tarian tor-tor, dan tentunya budaya minang. Bupati Dharmasraya Adi Gunawan mengutarakan kepada Indonesia.travel bahwa tujuan ditampilkannya beragam kesenian tradisional tersebut secara bersamaan adalah untuk memperkenalkan bagaimana kekayaan budaya di Dharmasraya.

 

Kabupaten Dharmasraya memang kabupaten yang baru berdiri dan salah satu yang termuda di Sumatera Barat. Kendati demikian, kabupaten ini adalah rumah tertua bagi banyak peninggalan sejarah mula Kerajaan Melayu di Nusantara. Di Dharmasraya masih tersisa peninggalan arkeologi berupa candi, artefak, masjid, makam raja-raja Kerajaan Melayu, dan juga rumah gadang.

 

Benda bersejarah dari beragam abad itu memang belum banyak dikonservasi namun jelas menjadi saksi bisu sejarah kerajaan Hindu-Budha dan Islam di Sumatera Barat. Perpaduan budaya Hindu-Budha dan Islam di Dharmasraya tentunya sangat berpotensi menjadi wisata sejarah yang menarik sekaligus berharga. Pemerintah setempat terus berupaya mengembangkannya sebagai tujuan wisata sejarah yang dapat menarik minat wisatawan.

 

Di kawasan Dharmasraya inilah dahulu pernah berdiri Kerajaan Melayu dengan ibu kotanya bernama Pulau Punjung. Dharmasraya diambil namanya dari manuskrip pada prasasti Padang Roco yang menyebutkan bahwa Dharmasraya adalah ibu kota dari Kerajaan Melayu setelah kejatuhan Kerajaan Sriwijaya. Luas kekuasaan tersebut membentang dari Semenanjung Malaya hingga Sumatera seperti disebutkan dalam Prasasti Grahi di Chaiya di selatan Thailand dan naskah China berjudul Zhufan Zhi berangka tahun 1225.

 

Disebutkan pula Kerajaan Melayu di Dharmasraya sempat menjalin hubungan kerja sama dengan Kerajaan Singhasari. Sementara itu, catatan sejarah yang lain dari Kitab Nagarakretagama menyebutkan bahwa Dharmasraya adalah bagian dari wilayah taklukkan (vassal) Kerajaan Majapahit.

 

 

Pembalap Asia Tenggara Dominasi Etape Keempat Tour de Singkarak 2013

 

Etape 4 Tour de Singkarak 2013 mengambil start dari Kabupaten Sijunjung menuju finish di Pulau Punjung, Dharmasraya sejauh 189,5 km. Jarak yang ditempuh pembalap kali ini memang tidak sepanjang etape 3 sebelumnya tetapi hampir seluruh pembalap merasakan tekanan berat pada kondisi cuaca yang begitu panas.

 

Jalur balap etape keempat ini lebih banyak jalanan lurus diselingi beberapa tanjakan membuat kompetisi antarpembalap merata dan saling berdekatan kelompoknya. Meski demikian, rangkaian akhirnya terpecah menjadi beberapa rombongan. Hingga menjelang garis finish, aksi saling menyusul diperagakan pembalap terdepan hingga akhirnya pembalap Malaysia, Loh Sea Keong yang membela tim Continental Cycling Team (Singapura) berhasil menjadi yang tercepat.

 

Loh Sea Keong menorehkan catatan waktu 04.29.44 diikuti dua pembalap Indonesia, yaitu Fito Bakdo Prilanji (CCN Cycling Team, Brunei) dan Rastra Patria Dinawan (Timnas Indonesia). Ketiga pembalap ini tiba di garis finish secara berdekatan dan mempertontonkan pertarungan adu sprint yang menghibur penonton yang hadir.

 

Balapan etape keempat ini memang didominasi pembalap dari Asia Tenggara namun pada klasemen umum masih dikuasai Alireza Asgharzadeh asal Tabriz Petrochemical Team, Iran. Alireza kembali berhak menyandang Yellow Jersey yang sebelumnya direbut Johan Coenen dari Tim Luxemburg. Coenen harus puas di posisi 2 dengan selisih waktu 8 detik.

 

Setelah menyelesaikan etape empat, keesokan harinya Kamis (6/6), semua pembalap akan melanjutkan etape kelima yang cukup menantang dari Sawahlunto menuju Muaro Labuh sejauh 138,5 km.

 

 

 

 

Berikan Komentar Anda