Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

Ditulis 11 Mar 2013 pukul 14:12 | Dilihat: 9291

Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

Dalam pameran pariwisata terbesar dunia, Internationale Tourism – Börse Berlin (ITB Berlin) pada 9 Maret 2013 di Berlin, Jerman, paviliun Indonesia yang mengusung tema “Wonderful Indonesia” dianugerahi sebagai yang terbaik kedua di wilayah Asia, Australia dan Oceania. Penyerahan penghargaan dilakukan panitia ITB Berlin kepada Direktorat Jenderal Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif Indonesia, Esthy Reko Astuti dan Direktur Promosi Luar Negeri Kemenparekraf, Nia Niscaya dalam acara pengumuman The Best Exchibitor Award.

 

Dirancang oleh Wilhelm Johannes, paviliun Indonesia hadir dengan ikon kapal legendaris Indonesia phinisi. Kapal inilah yang menjadi latar belakang konsep Heart Matters yang diusung tim Wonderful Indonesia. Wilhelm Johannes mengatakan bahwa Heart Matters merupakan ungkapan segala sesuatu terkait dengan keindahan Indonesia yakni meliputi human (manusia), earth (bumi), dan art (seni). Kapal phinisi merupakan bentuk wujud fisik dan terjemahan dari ketiganya (Heart Matters).

 

Kapal phinisi merepresentasikan bentuk kearifan lokal luar biasa yang lahir dari hati dan pikiran masyarakat Nusantara dari dahulu hingga kini. Kapal Phinisi nyatanya memang merupakan transportasi laut masyarakat bahari di Nusantara sejak dahulu yang hidup di wilayah kepulauan dan didominasi perairan. Salah satu buktinya adalah bentuk kapal ini terpahat dalam relief Candi Borobudur.

 

Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

 Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

 

Paviliun Indonesia Terbaik Kedua dalam ITB Berlin 2013

 

Pinisi, adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, serta dua di belakang. Kapal jenis ini bisa dilihat bersandar di berbagai pelabuhan di Indonesia, seperti di Pelabuhan Paotere Makassar, di Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta, di Dermaga Ujung Surabaya, bahkan di pelabuhan kecil Labuan Bajo di Flores. Di banyak tempat di Sulawesi Selatan terutama di Bulukumba pembuatan kapal tradisional ini masih menggunakan teknik dan peralatan tradisional.

 

Menyoroti Kapal Phinisi sebagai ikon Paviliun Indonesia, perwakilan Indonesia juga hadir untuk mempromosikan wisata bahari Indonesia. Hal ini juga terkait berbagai wisata bahari yang dihelat melalui kegiatan yang telah berhasil diselenggarakan di perairan Indonesia seperti Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Wakatobi-Belitung, dan juga Sail Komodo dan Sail to Indonesia.

 

Photo courtesy :  http://www.itb-berlin.de/media/  , http://berita-kapal.blogspot.com/2012

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda