Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Tufa pun Terpukau Yogyakarta

Tufa pun Terpukau Yogyakarta

Ditulis 31 Jan 2013 pukul 10:10 | Dilihat: 9208

Tufa pun Terpukau Yogyakarta

Siapa yang tak mudah jatuh cinta pada kota yang satu ini? Bahkan Firehiwot Dado Tufa, pemenang New York Marathon kategori wanita 2011 yang datang bersama suaminya, Abiy Nadew Shiferaw, langsung mengakui dan terkesan dengan pesona Kota Gudeg tersebut. Yogyakarta memang punya daya tarik sendiri sebagai salah satu destinasi wisata yang kaya budaya dan situs bersejarah. Salah satu tujuan wisata yang dapat dijangkau dari Yogyakarta adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang telah diakui UNESCO sebagai World Heritage Site.

 

Tufa berkesempatan mengunjungi Yogyakarta dalam satu hari pulang pergi Jogja-Bali (30/1). Sekira pukul 08.40, Tufa dan Abiy tiba di Yogyakarta dan langsung dijemput Aryono Hendro selaku Deputy GM Marketing PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko. Mereka juga dikuti sejumlah media di Hotel Manohara. Media gathering berlangsung cukup singkat dilanjutkan pemberian souvenir oleh Achmad Muchlis selaku Corporate Secretary Taman Wisata. Tak menyiakan waktu, selesai pemberian souvenir, Tufa dan Abiy mengenakan sarung khusus yang harus dikenakan saat menelusuri bentangan sejarah Buddha yang terukir indah pada panil-panil relief Candi Borobudur. Untuk berkeliling Borobudur, Tufa didampingi pemandu lokal, yaitu Jean.

 

 

Menghabiskan waktu sekira 1 jam, Tufa tak menyiakan kesempatan untuk berfoto di situs terbesar Buddha yang dibangun abad ke-8 tersebut. Ia dan suaminya tak bisa menyembunyikan perasaan terkesan dengan kemegahan candi peninggalan Buddha yang spektakuler itu. Beberapa kali decak kagun terlontar dari mulut mereka sesaat setelah mendengar penjelasan sang pemandu.

 

Acara selanjutnya adalah makan siang di Hotel Manohara bersama Aryono dan Denny Ridwan Dimeng selaku Kasubman, International yang mana keduanya mendampingi perjalanan Tufa selama di Yogyakarta. Perjalanan dilanjutkan ke Keraton Yogyakarta namun sayang setibanya Tufa di sana keraton telah tutup pada pukul 14.00 WIB. Meski begitu, perjalanan ke sana tidaklah sia-sia sebab Tufa diajak melihat-lihat koleksi Museum Kareta Keraton tak jauh dari kompleks keraton.

 

 

 

Beragam kereta tua koleksi kesultan Hamengku Buwono baik yang terbuat dari besi atau kayu, masih digunakan atau sudah total dimuseumkan menjadi objek menarik untuk disimak. Kereta tertua adalah kereta besi buatan Portugis yang berusia nyaris 300 tahun, dibuat tahun 1815. Tufa didampingi pemandu lokal yang masih kerabat keraton saat melihat-lihat koleksi museum dan memberikan banyak penjelasan menarik perihal kereta-kereta kuno yang ditarik oleh kuda.

 

 

Tufa juga berkesempatan menyambangi Candi Prambanan atau juga dikenal sebagai Candi Rara Jonggrang, sebuah Candi peninggalan Hindu terbesar di Indonesia. Tufa dan Abiy terlihat masih bersemangat menelusuri kompleks candi yang dibangun abad ke-9 dan masih megah berdiri di daerah perbatasan antara Provinsi Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Tak jauh dari Candi Prambanan, Tufa dan Abiy juga menyempatkan mampir sejenak dan berfoto di depan Candi Sewu.

 

 

Destinasi terakhir pada trip sehari ke Yogyakarta adalah mengunjungi Ratu Boko yang letaknya sekira 3 km saja dari arah Selatan Candi Prambanan. Situs yang merupakan peninggalan Kraton Kerajaan Mataram Kuno ini diperkirakan berusia lebih tua dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Berlatarkan pemandangan hijau di atas bukit dan udara sejuk pegunungan, situs seluas 250.000 m² itu berada di atas ketinggian sekira 195,97 m dan memiliki daya tarik sendiri. Tak heran, situs yang memiliki 2 pintu gerbang ini kerap dijadikan tempat pre-wedding.

 

Selain gerbang yang masih kokoh berdiri, di kompleks Ratu Boko dapat pula ditemukan Candi Pembakaran yang diduga kerap digunakan untuk membakar persembahan kepada Dewa berupa hasil pertanian. Ada pula paseban atau dipercaya sebagai ruang tunggu bagi tamu raja. Pendopo adalah juga bagian situs yang masih bisa dilihat namun hanya bagian lantai batunya saja karena konon bangunannya terbuat dari kayu yang tentu saja mudah lapuk termakan usia. Tak jauh dari pendopo, nampak semacam benteng yang dibaliknya menyembunyikan kolam-kolam. Keputren atau kawasan tempat tinggal wanita juga bisa dilihat di kompleks Ratu Boko dan bahkan terdapat dua buah gua, Gua Lanang dan Gua Wadon yang dipercaya sebagai tempat meditasi.

 

Tufa mengaku ia menikmati sekali perjalanannya ke Yogyakarta dan menyukai semua tempat yang dikunjungi hari ini. Ia menobatkan kesemua tempat tersebut di atas sebagai tempat paling favorit. Sementara Abiy, ia memilih Borobudur dan Prambanan sebagai dua destinasi wisata paling favorit dalam kunjungan sehari ke Yogyakarta yang penuh kesan.

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda