Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Banyuwangi Ethno Carnival 2: Menghidupkan Kembali Barong Using

Banyuwangi Ethno Carnival 2: Menghidupkan Kembali Barong Using

Ditulis 19 Nov 2012 pukul 11:00 | Dilihat: 10275

Banyuwangi Ethno Carnival 2: Menghidupkan Kembali Barong Using

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) hari ini, Minggu, 18 November 2012 kembali digelar untuk yang kedua kalinya setelah sukses dalam penyelenggaraannya tahun lalu. Berbeda dengan tahun sebelumnya, BEC ke-2 kali ini membawakan tema “Re_Barong Using” dengan makna menggali makna yang terkandung di dalam seni barong sebagai inspirasi untuk menciptakan kreasi bertemakan barong dalam berbagai bentuk, bahan maupun warna.  

 

Seperti tahun lalu, gelaran BEC ke-2 ini juga bekerja sama dengan Dynand Fariz dari Jember Fashion Carnival (JFC). Namun demikian, BEC memiliki keunikan tersendiri bila dibandingkan dengan daerah lainnya, terutama pada iringan musiknya, yaitu musik tradisional Banyuwangi yang dinamis bercampur dengan musik modern. Sebelum ikut serta dalam carnival, para peserta BEC ini juga telah melalui proses yang panjang selama beberapa bulan, yaitu mengikuti workshop sampai pemilihan desain terbaik.

 

Acara dimulai ketika rombongan bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, beserta para pejabat dan tamu undangan yang berjalan dari pendopo tiba di lokasi. Turut hadir di perhelatan akbar ini adalah Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata I Gde Pitana, Dirjen Bea Cukai Basofi Sudirman yang mantan gubernur Jawa Timur, Bupati Malang Rendra Kresna, pimpinan Grup Media Surya Paloh, Perwakilan Konjen Spanyol di Bali dan lain-lain.

 

Dalam kata sambutan pembukaannya, Abdullah Azwar Anas mengungkapkan bahwa perhelatan BEC ke-2 ini adalah hasil proses kreatif perpaduan antara budaya lokal tradisional dengan budaya modern yang terus berkembang. Bupati Banyuwangi yang baru 2 tahun menjabat ini juga memperkenalkan tagline pariwisata baru Kabupaten Banyuwangi, yaitu “Sunrise of Java”. Hal ini karena Banyuwangi merupakan daerah di ujung timur Pulau Jawa yang pertama kali terpapar sinar matahari terbit di pagi hari dan menjadi sebuah spirit untuk mengembangkan daerah Banyuwangi dalam bidang budaya dan pariwisata serta meningkatkan ekonomi masyarakat.

 

Selain itu Abdullah Azwar Anas juga mengatakan bahwa BEC ke-2 ini mengambil tema Re_Barong Using yang terinspirasi dari Barong Banyuwangi dan Bali. Re_Barong Using itu sendiri dimaknakan sebagai rekonstruksi, redefinisi, reaktualisasi, reproduksi, dan revolusi perkembangan masyarakat Kabupaten Banyuwangi ke arah yang lebih baik lagi.

 

Pada gelaran Banyuwangi Ethno Carnival ke-2 ini, tema yang digunakan adalah Re_Barong Using dengan sub tema Barong bernuansa merah, hijau dan kuning. Re_ dalam tema ini bermakna menata ulang dari segi bentuk tanpa merubah nilai-nilai asli yang terkandung di dalamnya (rekonstruksi), merumuskan dan meluruskan dari sudut pemahaman diri (redefinisi), mempertahankan jati diri melalui jalan memperbanyak diri (reproduksi), mengaktualisasikan diri kembali (reaktualisasi), dan percepatan penataan, perumusan, pertahanan dan aktualisasi diri (revolusi) seperti yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Suprayogi.

 

Setelah BEC ke-2 resmi dibuka oleh Helmy Faishal, 100 orang penari Gandrung mempertunjukkan kebolehannya. Muncul dari balik panggung dengan busana bernuansa merah, para penari ini perlahan bergerak menuju arena carnival dengan gerakan-gerakan lincah gemulai khas tari Gandrung.

 

Iring-iringan kemudian dimeriahkan oleh kehadiran para talent dari Jember Fashion Carnival (JFC) yang turut meramaikan BEC ke-2 ini. Seperti yang telah kita ketahui, JFC telah berhasil memperkenalkan daerah Jember ke dunia internasional. Sampai tahun 2012 ini, JFC telah diselenggarakan untuk yang ke-11 kalinya. Iring-iringan ini diikuti oleh peserta terbaik BEC tahun 2011.

 

Lalu tak lama setelah JFC, dihadirkan 10 Barong dalam bentuk asli yang menginspirasi BeC ke-2 ini. Tak jauh berbeda dengan Bali, Banyuwangi juga memiliki tarian tradisional Tari Barong. Bagi masyarakat Using, Barong merupakan sebuah simbol kebersamaan dan mempunyai makna yang sama, yaitu "Bersama". Pada setiap ritual masyakat Using, kehadiran Barong selalu ada walaupun dibawakan dalam berbagai bentuk dan versi, namun tetap memiliki arti kebersamaan.

 

Sosok Barong ini kemudian menjelma dalam sebuah tata busana yang kreatif dan unik. Pernak-pernik dan elemen-elemen yang terdapat pada Barong dikreasikan kembali ke dalam suatu bentuk yang apik. Tangan-tangan kreatif pastinya mempunyai andil yang sangat besar di sini, sehingga Barong tidak selalu diasosiasikan sebagai tarian yang menyeramkan dan menakutkan.

 

Barong-barong dalam sub tema Barong Merah, Hijau dan Kuning hadir membawa semarak dan kemeriahan Banyuwangi Ethno Carnival ke-2 ini. Unsur-unsur tradisional seni budaya Banyuwangi telah melebur bersatu dengan budaya modern. Satu demi satu peserta Re_Barong Using mempertunjukkan kreativitas terbaiknya dengan bangga, disaksikan oleh ribuan pasang mata tamu undangan dan penonton, diabadikan oleh puluhan kamera fotografer serta ditonton oleh jutaan pemirsa televisi dan netter dari seluruh dunia.

 

Hujan deras yang turun tak mematikan semangat para peserta dan penonton, malah dianggap sebagai restu dari Yang Maha Kuasa atas perhelatan besar ini. Masyarakat Banyuwangi pun merasa memiliki BEC yang hanya sekali setahun diselenggarakan tersebut. Tua, muda, anak-anak larut bersama di dalamnya. Mereka memenuhi jalan Veteran, jalan Satsuit Tubun, jalan PB Sudirman dan jalan Ahmad Yani yang menjadi rute peserta carnival ini dan di Kantor Bupati Banyuwangi sebagai tujuan terakhir. Kesempatan berfoto bersama para peserta carnival yang berbalut busana dengan desain terbaik ini pun tak dilewatkan.

 

Dua hari ini telah usai tiga gelaran, namun pada beberapa hari mendatang masih banyak acara yang akan diadakan dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2012, yaitu Pagelaran Wayang Kulit (23 November), International Power Cross Championship (1-2 Desember), International Banyuwangi Tour de Ijen (7-9 Desember), Konser Band Ungu (12 Desember), Festival Kuwung (22 Desember) dan puncaknya adalah pada malam resepsi Harjaba ke-241 (22 Desember).


Event-event berskala lokal, nasional dan internasional ini tak pelak makin membawa nama Banyuwangi makin wangi. Dengan demikian akan makin banyak menarik wisatawan untuk datang dan berkunjung ke berbagai destinasi wisata yang terdapat di Banyuwangi, seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Pantai Sukamade, Pantai Gragajan, G-Land, dan masih banyak lagi. Hal ini patut dicontoh dan ditiru oleh daerah-daerah lainnya di Indonesia.


Indonesia.travel.

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda