Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » International Travel Blogger Trip : Perlukah Waktu Seumur Hidup untuk Jelajahi Kekayaan Indonesia?

International Travel Blogger Trip : Perlukah Waktu Seumur Hidup untuk Jelajahi Kekayaan Indonesia?

Ditulis 29 Oct 2012 pukul 11:09 | Dilihat: 21669

International Travel Blogger Trip : Perlukah Waktu Seumur Hidup untuk Jelajahi Kekayaan Indonesia?

Memanfaatkan perilaku masyarakat digital di era ini, Kemenparekraf mengundang travel blogger untuk membantu mengenalkan beragam daya tarik wisata popular di Indonesia. Travel blogger memiliki kebiasaan unik, yaitu menuliskan setiap gerak, rasa, dan pikirannya selama melakukan perjalanan dari destinasi ke destinasi dalam bentuk  jurnal. Aktivitas mereka secara nyata dikuti dan dibaca pelanggannya melalui blog serta media sosial seperti Twitter, Instagram, dan Facebook. Ada banyak cerita dan foto lahir dari para petualang ini, harapannya pariwisata Indonesia dapat lebih dikenalkan dari sudut pandang traveler, bukan hanya apa yang dilihat oleh turis. 

 

Direktorat Jendral Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) baru-baru ini sukses menggelar International Travel Blogger Trip yang diikuti beberapa peserta dari berbagai negara. Berlangsung sejak 7 hingga 19 Oktober 2012, peserta travel blogger dikenalkan pada beragam kekayaan alam hayati dan non hayati yang menjadi destinasi unggulan pariwisata Indonesia. Kegiatan ini bukan seperti sebuah famtrip belaka melainkan  cara baru mempromosikan pariwisata indonesia secara kreatif dan mengikuti perkembangan di masyarakat.

 

Peserta travel blogger yang umumnya pelaku sosial media, penulis, fotografer, serta konsultan perjalanan wisata tersebut datang dari berbagai negara asing, yaitu: Michael Turtle (Australia), Stephen Bugno (USA), Amalla Vesta Widaranti (Indonesia), Veny Lai (Indonesia), Cailin O’neil (Kanada), David Lee (USA), Juno Kim (Korea Selatan), Anton Diaz (Filipina) dan Kirsten Alana (USA), Jansen Siregar, Bowo Hartanto. Turut hadir pula menemani adalah Olga Lidya dan Nila Tanzil saat trip ke Taman Nasional Komodo dan Bali.

 

 

 

Menjelajahi rute cukup panjang dan memakan waktu 12 hari tersebut peserta diajak menyambangi 6 destinasi yang memukau di Nusantara. Mereka berkesempatan menyambangi Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Borobudur dan sekitarnya di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Gunung Bromo dan sekitarnya di Jawa Timur, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, dan tentunya Bali.


David Lee dari New York City, AS, begitu takjub ketika bertatapan langsung dengan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah menyusuri pedalaman Sungai Sikonyer ke Camp Leakey, David melihat bagaimana orangutan dipelihara dan dirawat di alam aslinya yang tersisa di muka bumi. Kekaguman David pada orangutan dibuktikan dengan selalu mengenakan kaos (t-shirt) bergambarkan orangutan yang diberikan sebagai souvenir dari Kemparekraf meski perjalanan sudah berlanjut ke destinasi berikutnya.


Sementara itu, Cailin O’neil dari Kanada mendapatkan hadiahnya setelah bersusah payah meniti satu demi satu tangga menuju Penanjakan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Kakinya yang sempat cedera tak menghentikan pendakian yang dimulai sejak pukul 03.30 dini hari. Kehadiran Matahari menyembul di balik awan menghadirkan bayangan panorama indah Gunung Semeru dari kejauhan, Gunung Bromo mengepulkan asap, dan Gunung Batok yang bak piramida itu melengkapi lanskap menakjubkan. Cailin pun langsung membuat video perjalanan di Bromo untuk dikabarkan secara luas di media online.


Lautan pasir dan kawah Gunung Bromo mengingatkan sebagian travel blogger pada padang pasir di Timur Tengah berdasarkan narasi visual seperti bisikan yang tak terdengar. Kali ini mereka menyuarakannya dalam tulisan dan foto kepada penikmat blog mereka. Vesta dan Veny, blogger asal Indonesia, berhasil memilihkan sepenggal keajaiban alam Indonesia bagi para travel blogger dalam ketakjuban tak terbantahkan.


Berbeda lagi, Kirsten Alana dari AS  tak dapat menahan diri saat air laut di Pink Beach di Taman Nasional Komodo merayu matanya. Kejernihan yang tak pernah ia lihat sebelumnya dengan warna yang memukau membuatnya terjun seketika dari perahu. Walau komodo yang sebelumnya ia lihat di Pulau Rinca dan Pulau Komodo begitu memikat perhatian dan keingintahuannya, seolah kalah menarik saat berada di Pink Beach. Kirsten melahirkan kata-kata dan foto memikat dengan segenap perasaan dan keceriaannya selama di Pink Beach dan Pulau Kanawa lalu disebarkannya lewat Twitter dan Instagram.


Bowo Hartanto dari Indonesia pun tak mau kalah, ia segera melihat sekeliling, karena Pink Beach seolah tidur dalam dekapan bukit yang memeluknya. Ia mendaki bersama penulis Indonesia.travel untuk merengkuh keindahan pantai merah jambu ini dari atas bukit sebelum menyelami taman terumbu karangnya yang sehat. Pemandangan dari ujung tanjung yang menjulur di laut sepertinya menjadi pengalaman spiritual baginya.


Bali menjadi destinasi penutup merangkum perjalanan terbaik travel blogger selama 12 hari. Tradisi para pengelana ini sudah mengerak dan tak terbantahkan yang paling memuaskan jiwa. Tari Kecak di Uluwatu begitu menyentuh hati setiap blogger. Setelah itu Ubud pun ikut memuaskan sisi hati mereka. Sehari di Ubud jelas bagi mereka kurang sehingga timbul kesadaran bahwa perlu seumur hidup untuk tahu segala kekayan Indonesia.


Perpisahan disisihkan dengan keindahan Matahari terbenam di Pantai Petitenget yang kawasannya sudah sangat berubah, mengalahkan riuh rendahnya Legian dan Kuta. Potato Head Beach Club menjadi titik terakhir untuk makan malam bersama. Kemegahannya membuat mereka tak percaya bahwa Indonesia memiliki segala yang tak terbayangkan. Sebelum pergi ke destinasi lain di belahan dunia lain, mereka menikmati lembutnya treatment di spa Kokonut Suite yang menjadi tempat tinggal sementara mereka selama di Bali.

 

Anda dapat melihat aktivitas kegiatan para blogger ini di laman web pribadi dan situs micro blogging Twitter mereka berikut ini.

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda