Muhibah KRI Dewaruci di edisi ke-59 dan usianya yang ke-60 tahun tidak berlebihan bila disebut paling fenomenal. Itu karena sejak kapal ini dibuat tahun 1953, tiap tahun Dewaruci terus berlayar secara rutin meski dengan jarak tempuh yang berbeda-beda. Akan tetapi, perjalanan kali ini mencatat rekor jarak tempuh terjauh dan waktu pelayaran terlama, sekaligus yang terakhir. Dua di antara tiga kapal layar seangkatan Dewaruci telah bebas tugas,satu tenggelam di dasar laut, satunya lagi dimuseumkan. Kini hanya Dewaruci sendirian yang masih mengarungi lautan.
Setelah merapat di Dermaga Porasko, Jayapura pada Rabu (25/1), kadet beserta kru kapal KRI Dewaruci disambut masyarakat Jayapura dalam sebuah upacara yang dipimpin Wakil Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) X Jayapura, Kolonel Laut Imron beserta jajaran staff, dan juga instansi terkait. KRI Dewaruci singgah di Jayapura, Papua, di teluk yang dikatakan para travel writer juga naturalis Inggris Sir Alfred Wallace, sebagai teluk lebih indah dibanding di Ternate, Maluku.
Papua sendiri menjadi persinggahan terakhir di wilayah Indonesia sebelum kapal legendaris ini melintasi perbatasan luar negeri di Papua Nugini. KRI Dewaruci direncanakan mengunjungi 21 kota di 9 negara berbeda selama sekitar 277 hari sejak 15 Januari hingga 16 Oktober 2012. Dalam muhibah tersebut, salah satu misi Dewaruci adalah pencitraan pariwisata Indonesia yaitu “Wonderful Indonesia” sekaligus menjadi pelayaran terakhir karena kapal itu segera dipensiunkan.
Di Dermaga Porasko, kapal latih tertua yang dimiliki Indonesia tersebut menggelar open ship bagi pelajar di Jayapura. Selain itu, para pelaut kapal buatan tahun 1952 ini menghadiri jamuan makan malam yang diadakan Komandan Lantamal X. Keesokan harinya diadakan juga kegiatan olahraga bersama.
Di Jayapura, prajurit dan kadet berjumpa pula dengan Panglima Kodam Cendrawasih, Pemkot Jayapura, Polda Jayapura, dan Walikota Jayapura. Acara kesenian digelar seperti reog ponorogo, rampak gendang, dan remo. Di sini pula KRI Dewaruci melakukan supply ulang logistik yang akan diperlukan selama perjalanan berikutnya ke Kwajalein, di Kepulauan Marshall, pada Sabtu (28/1).
Seperti juga etape pertama dari Surabaya menuju Jayapura yang ditempuh selama waktu 11 hari, pelayaran menuju Kwajalein diperkirakan memakan waktu hampir sama hanya saja jaraknya yang berbeda. Surabaya–Jayapura berjarak 1.885 mil, sedangkan Jayapura menuju Kwajalein berjarak 1.794 mil.
Perjalanan menuju Kepulauan Marshall ini menjadi awal misi kampanye Wonderful Indonesia yang sebenarnya. Kepulauan Marshall merupakan bagian negara Amerika Serikat sekaligus negara asing pertama akan disinggahi KRI Dewaruci. Lama perjalanan ke Kepulauan Marshall diperhitungkan memakan waktu 11 hari non-stop dengan mengarungi Samudera Pasifik sejauh 1.794 mil laut.
Tantangan dietape ke-2 ini jauh lebih berat karena KRI Dewaruci akan memasuki Samudera Pasifik yang terkenal bergelombang tinggi. Prakiraan cuaca menyebutkan gelombang di bagian utara Samudera Pasifik akan mencapai 15 meter. Komandan Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci, Letkol Laut (P) Haris Bima Bayuseto mengatakan ia dan segenap awak lain tak gentar dan akan mencoba melalui jalur yang diperhitungkan lebih aman, seperti dilansir Fajar Online, Sabtu (28/1).
KRI Dewaruci telah mempersiapkan bahan bakar sekira 25 ton solar yang didatangkan dari lima mobil tangki masing-masing berkapasitas 40 ribu liter solar (5 ton solar) yang dimasukkan dalam tiga tangki di lambung geladak dasar. Dibekalkan pula 5 drum minyak pelumas mesin masing-masing 200 kilogram.
Salah satu yang membuat laju kapal menjadi berat adalah kebutuhan air tawar untuk masak dan mandi itu mencapai 75 ton. Beban tersebut belum termasuk kebutuhan makanan seperti 14,4 tonberas yang diangkut dari Surabaya. Dengan bobot total mencapai 874 ton, kapal memang sulit dipacu dengan maksimal tetapi untuk memenuhi jadwal kedatangan maka Dewaruci tetap dipacu dengan kecepatan rata-rata 7 knot. Selebihnya bergantung cuaca dan arah angin untuk mengembangkan layar demi menambah daya dorong kapal.
Selama tiga hari beristirahat di Jayapura, awak mesin KRI Dewaruci melakukan perbaikan ringan. Selain mengencangkan baut-baut yang sempat kendur, mereka juga mengganti beberapa pak dan seal yang mengakibatkan oli bocor. Perbaikan sehari dapat dituntaskan pada malam setelah sandar sehingga selama open ship (kunjungan ke atas kapal oleh warga maka mesin sudah siap hidup nonstop selama 11 hari di laut.
Dalam muhibah dunia ini, KRI Dewaruci akan menyinggahi 21 negara di Asia, Afrika, Amerika Serikat, dan Eropa. Muhibah ini selama 277 hari sejak 15 Januari hingga 16 Oktober 2012 dengan rute sebagai berikut: Surabaya - Jayapura, Jayapura - Kwajelein (AS), Kwajelein-Honolulu (AS), Honolulu - San Diego (AS), San Diego - Manzanillo (Meksiko), Manzanilli - Panama, Panama - New Orleans (AS) , New Orleans - Miami (USA), Miami - Charleston (USA), Charleston - New York (AS), New York - Norfolk (USA), Norfolk - Baltimore (AS), Baltimore - Boston (USA), Boston - St Yohanes (Kanada), St John - Porto (Portugal), Porto - Cádiz (Spanyol), Cadiz - Malta, Malta-port Said (Mesir), port Said - Jeddah (Arab Saudi), Jeddah - Salalah (Oman), Salalah - Colombo (Srilanka), Kolombo - Belawan (Indonesia), Belawan - Jakarta, Jakarta-Surabaya.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekkraf) diwakili Wakil Menteri, DR. Sapta Nirwandar, menegaskan bahwa pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2012 ialah 8 juta kunjungan dan pemasaran melalui berbagai kesempatan perlu dimanfaatkan. Dalam hal ini, termasuk juga bekerja sama dengan TNI AL dalam muhibah KRI Dewaruci yang akan menghadiri peringatan 200 tahun perang besar di Amerika Serikat. Kemenparekkraf sebelumnya telah menandatangani MoU di Dermaga Koarmatim, Ujung, Jawa Timur (15/1) untuk misi kampanye Wonderful Indonesia.