Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Pernikahan Agung Keluarga Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat Mengundang Perhatian Khalayak

Pernikahan Agung Keluarga Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat Mengundang Perhatian Khalayak

Ditulis 19 Oct 2011 pukul 15:09 | Dilihat: 1980

Pernikahan Agung Keluarga Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat Mengundang Perhatian Khalayak

Setelah prosesi panjang dan mengesankan selama tiga hari akhirnya puncak acara pernikahan agung Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat berlangsung khidmat, lancar dan meriah, menarik perhatian khalayak. Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nur Astuti Wijareni  (putri bungsu Sultan Yogyakarta) dan Achmad Ubaidillah yang kini bergelar Kanjeng Pangeran, keduanya kini resmi dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan.

 

Puncak acara dilangsungkan pada 18 Oktober dengan beberapa rangkaian acara. Dimulai dengan ijab qabul di Masjid Penenpen Keraton Yogyakarta sekitar pukul 07.30 pagi,  akhirnya calon pengantin pria, Yudhanegara, tiba di Bangsal Srimanganti untuk menunggu kedatangan Sultan Hamengku Buwono X.  Setelahnya, pukul 10.00 WIB prosesi panggih dimulai dihadiri langsung oleh Presiden SBY yang duduk berdampingan dengan Sultan, Wakil Presiden Boediono, juga beberapa menteri, duta besar, dan pejabat negara. Akad nikah menggunakan bahasa Jawa dipimpin Kanjeng Raden Pengulu Dipodiningrat.

 

Prosesi tersebut berlangsung di Bangsal Kencono Kraton Yogyakarta, acara Panggih dimulai dengan tari edan-edanan sebagai penolak bala. Berikutnya, kedua mempelai menjalani sejumlah ritual termasuk pondhongan atau mengangkat tubuh pengantin puteri yang berasal dari keluarga bangsawan.

 

Di sekitar keraton, khususnya dari Jalan Keraton Yogyakarta hingga kawasan Jalan Malioboro, hadir ribuan warga Yogyakarta dan wisatawan dalam juga asing menyaksikan Kirab Temanten.

 

Sekitar pukul 16.00, Kirab Temanten pun dimulai. Kereta kereta kuda yang dinaiki kedua mempelai maupun kerabat keraton lainnya berangkat dari Keraton Yogyakarta menuju Bangsal Kepatihan, tempat digelarnya acara resepsi pernikahan. 

 

Kirab dimulai dari Pintu Gerbang Keben. Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dan suaminya menggunakan busana paes ageng warna hitam dengan motif bordir jangan menir warna emas. 5 kereta kuda digunakan dalam kirab tersebut, salah satunya kereta Kyai Jongwiyat yang ditunggangi kedua mempelai. Ribuan warga Yogyakarta dan wisatawan yang memadati sepanjang jalan antara Keraton dan Malioboro mengarak kedua memplai dalam suasana yang meriah dan membahagiakan.

 

Resepsi penikahan yang belangsung di Bangsal Kepatihan menampilkan Tari Bedoyo Manten. Tarian sakral karya Sri Sultan Hamengku Buwono IX tersebut hanya boleh digelar saat pernikahan putri raja. Tariannya dibawakan enam penari putri Keraton yang masih gadis menceritakan perjalanan hubungan pasangan kekasih sampai keduanya menjadi suami istri.

 

Tamu resepsi akan dibagi dua lokasi. Sekitar seribu orang hadir saat proses Panggih di Bangsal Kencono pada pagi hari, sekitar pukul 10.00 WIB atau selepas Ijab Qabul. Sedangkan sisanya hadir di Kepatihan pada petang hingga malam hari.

 

Ucapan selamat kepada keluarga Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat dan pasangan mempelai datang dari berbagai pihak termasuk dari Presiden Amerika Serikat, Slovakia, serta dari perwakilan Sabah, Malaysia. Mereka menyampaikannya melalui email kepada Sultan.

 

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tabzir, berdasarkan laporan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, tingkat wisatawan yang mengginap di hotel-hotel meningkat dan sudah terjadi sejak sepekan menjelang pernikahan. Tingkat hunian hotel bahkan mencapai prestasi “full booked”. Wisman yang datang tersebut dari Eropa Barat dan Asia. Tidak hanya itu media asing pun tidak melewatkan kesempatan untuk meliput acara yang megah dan sakral ini.

 

Sumber : m.okezone.com, m.liputan6.com

Foto Courtesy : MI/M.Irfan/ip

1 Komentar

wasgiyanto

Ditulis 22 Oct 2013 pukul 16:18


selamat kepada putry dan pangeran Yogya aku bangga jogya masih ada keraton yang melestarikan adat istiadat jawa, sebagai kashasanah nasional, selagi lagi selamat kepada kajeng Sultan Ke X. semaga membawa rakyat Ngayojokarto tambah tetram...

Berikan Komentar Anda