Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Kirab Budaya

Kirab Budaya

Ditulis 18 Apr 2011 pukul 00:58 | Dilihat: 450

Kirab Budaya

Seribu seniman berkumpul di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk melakukan ritual kontemporer "Siraman Jiwa Loro Blonyo" pada 15-17 April 2011. Kegiatan ini merupakan satu rangkaian kegiatan pengembangan kepariwisataan kawasan bertajuk "Borobudur Bangkit Bersama".  Acara ini dihadiri ribuan masyarakat yang berjejal di sepanjang jalan untuk menyaksikan kirab tersebut.

Seniman yang ikut berperan serta berasal dari 21 grup kesenian tradisional di seluruh Kabupaten Magelang, antara lain, seni jatilan, topeng ireng, warok, soreng, kuda lumping, dan campur. Mereka tergabung dalam Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) yang dipimpin Umar Chusaeni bersama pengurus Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kabupaten Magelang.

Kirab budaya "Borobudur Bangkit Bersama" adalah upaya mengembangkan pariwisata di Borobudur setelah sempat terpuruk akibat letusan Gunung Merapi. "Kami ingin membangkitkan kembali gairah pariwisata di Kabupaten Magelang pasca-bencana Merapi ini, " ujar koordinator pawai budaya, Siswantoro Hadi seperti dilansir Kompas.com.

Jalur kirab sepanjang sekitar satu kilometer dimulai dari Lapangan Tingal, Desa Wanurejo, Jalan Balaputera Dewa, Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Jalan Pramudyawardani, dan berakhir di dekat Pasar Borobudur.  Berbagai tabuhan alat musik kesenian tradisional mengiringi kirab sebagai rangkaian kegiatan budaya dan promosi produk usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM).

Kegiatan bertajuk "Borobudur Bangkit Bersama" ini diprakarsai Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Kabupaten Magelang bekerja sama antara lain dengan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Pemkab Magelang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Magelang, TWCB, dan KSBI. Kegiatan ini untuk mendorong pengembangan pariwisata Borobudur pasca-erupsi Merapi dan promosi produk usaha kecil dan menengah. Kegiatan di Candi Borobudur dan kawasannya itu antara lain bazar produk UMKM, kirab budaya, lomba mewarnai gambar, jalan santai wisata, dialog budaya, pentas berbagai kesenian tradisional dan modern, performa seni, dan penyerahan bantuan untuk korban banjir lahar Gunung Merapi.

Sepasang patung raksasa “Loro Blonyo” yang dibuat Sujono, seniman Sanggar Saujana Merbabu, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, terpajang di depan Pondok Tingal. Tinggi patung pengantin laki-laki tiga meter dan lebar 125 centimeter, sedangkan tinggi patung perempuan 2,6 meter dan lebar 110 centimeter. Patung tersebut berupa sepasang pengantin, laki-laki dengan perempuan, dalam posisi duduk menggunakan pakaian adat Jawa. Bahannya dibuat dari berbagai jenis pohon mati akibat letusan Gunung Merapi akhir Oktober hingga pertengahan November 2010. Patung yang dalam tradisi Jawa sebagai lambang kemakmuran dan keharmonisan hidup berkeluarga.

Patung “Loro Blonyo” menjadi objek utama yang dikirab dan diarak paling depan-dikelilingi performance art puluhan seniman dengan badan berwarna emas dari Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI). Kirab ini juga meriah diikuti perias pengantin seluruh Magelang. Para perias tersebut kompak mengenakan pakaian adat khas Jawa.

“Siraman ini simbol pembersihan jiwa, tanda telah rampung pembuatannya dan siap dikirab. Semua yang terlibat dalam kegiatan selama tiga hari ini memiliki niat baik untuk pengembangan kepariwisataan Candi Borobudur pasca-letusan Merapi,” papar Sujono seperti dilansir Antaranews.com.


Sumber: travel.kompas.com, www.antaranews.com, www.solopos.com, www.promojateng-pemprovjateng.com.

Foto Courtesy : www.bisnis-jateng.com

Berikan Komentar Anda