“Upacara Pelebon Agung pun dimulai dan perayaan kehidupan sesungguhnya berawal. Kehidupan manusia merupakan berkah dari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) sehingga hidup perlu disyukuri. Kematian juga merupakan suatu berkah Tuhan dan sudah semestinya tidak perlu ditakuti namun harus pula disyukuri. Kematian sesungguhnya bukanlah akhir, tetapi awal. Lebih penting juga adalah cara hidup seseorang di dunia dan bagaimana harapan keluarga setelah kematian itu”.
Puncak acara Pelebon Jenazah Ida Dwagung, Raja Peliatan Raja Peliatan IX berlangsung meriah dan luar biasa. Sebuah upacara prosesi kematian yang lebih tepatnya layak disebut sebagai perayaan kehidupan.
Ribuan pengunjung memadati jalanan sekitar Puri Agung Peliatan hingga Pura Dalam Puri Peliatan. Sungguh pemandangan yang luar biasa yaitu bercampurnya ribuan masyarakat dengan turis dari berbagai negara. Mereka larut dalam suasana prosesi agung yang jarang akan dilihat.
Hari baik yang ditentukan pedanda untuk proses puncak ini diawali oleh hujan rintik-rintik. Akan tetapi, para pembuat bade, naga banda, dan lembu, seolah tidak memperdulikan air hujan akan membasahi karya monumental yang telah dibuat selama berbulan-bulan. Hal itu dikarenakan panitia Pelebon telah menugaskan sejumlah pawang hujan untuk mengantisipasi turunnya hujan saat puncak acara, bahkan mereka telah bekerja sejak berhari-hari sebelumnya.
Pagi hari pukul 04.00 waktu Bali upacara pelebon dimulai dari dalam puri dan di sekitar luar puri hingga kemudian perlahan hingga pukul 12.10 semua persiapan itu rampung dan acara puncak siap digelar saat matahari condong sedikit dari titik tengahnya. Suara microfon dari pembawa acara berbunyi memandu acara yang agung ini. Sesekali berbicara dalam beberapa bahasa dibumbui lelucon yang mengundang gelak tawa pengunjung. Ini benar-benar sebuah acara yang menggembirakan bagi masyarakat Peliatan. Turis mancanegara tak ingin melewatkan pemandangan yang mengagumkan ini, petualangan wisata budaya ini akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan seumur hidup.
Para pedanda memercikan air suci kepada para pengusung bade, naga banda dan lembu, mereka berharap kelancaran dan kekuatan untuk mengangkat benda-benda raksasa ini sepanjang 1 kilometer lebih. Saat-saat dimulainya pengusungan peti jenazah menaiki jembatan menara tragtag ke menara tumpang 11 maka bersoraklah kegembiraan keluarga dan masyarakat. Kemudian ketegangan merasuki pengunjung saat menara bade diputar dan bersiap untuk dimantrai oleh pedanda. Pengunjung terkesima benda-benda raksasa ini dapat diangkat dengan kerja sama dan kekompakan yang sanggup membuat bulu kuduk merinding. Akhirnya ketiga benda inipun diusung menempuh jarak lebih dari 1 kilometer menuju Pura Dalam Puri Peliatan. Kurang lebih 8000 pengusung dari 13 banjar telibat dalam pelebon ini.
Menara kremasi bade diputar 3 kali di setiap pertigaan untuk membingungkan semangat almarhum sehingga tidak akan kembali. Ini adalah salah satu atraksi luar biasa yang paling menegangkan dilihat pengunjung dan masyarakat. Menara sebelas tumpang tingginya 25,5 meter dan beratnya mencapai belasan ton. Masyarakat Hindu Bali sangat menghormati bentuk kehidupan bahkan untuk pepohonan dan tanaman di sepanjang trotoar. Kali ini untuk acara agung pelebon maka mereka terpaksa mengorbankan beberapa tetumbuhan yang harus ditebang atau rusak terinjak saat pengusungan dan perputaran menara bade. Sementara lembu putih yang tingginya mencapai 9,5 meter diusung dengan gagahnya dan ditunggangi seorang anak laki-laki yang juga berbaju putih. Tidak terlewat naga banda ditemani dua patung kakek nenek dan iringan gamelan Bali yang berbunyi meriah.
Pengusung bade mengenakan kaos putih bertuliskan Ida Dwagung Puri Agung Peliatan. Mereka berasal dari 13 banjar dan bergantian mengusungnya. Bagi masyarakat adat Peliatan, apa yang mereka lakukan untuk pelebon agung ini adalah sebuah bentuk pengabdian dan kecintaan kepada rajanya. Masyarakat sangat menghormati keluarga Puri Agung Peliatan karena mereka dekat dengan rakyat dan selalu terjun dalam acara kemasyarakatan.
Akhirnya lembu, naga banda, dan menara bade tiba di Pura Dalam Puri Peliatan dan disambut tepuk meriah masyarakat dan pengunjung yang sudah berkumpul menunggu sejak pukul 11.00 siang. Menara jembatan untuk menaikan bade atau tagtag telah disiapkan, juga tempat kremasi dengan 4 tiang menopang atapnya. Peti jenazah pun akhirnya dimasukan ke dalam tubuh lembu putih yang dirobek dari punduk hingga ke depan ekornya. Kemudian 2 pedanda lengkap dengan pakaian khusus dan perlengkapannya memercikan air sambil membacakan mantra-mantra terakhir sebelum pembakaran. Istri dan keluarga Raja Ida Dwagung Puri Agung Peliatan terlihat mengantar jenazah orang yang paling mereka hormati dan cintai. Tidak ada raut wajah kesedihan atau tangisan melainkan kegembiraan karena perayaan kehidupan akan dimulai. Potongan tubuh lembu pun ditutup dan semua yang menaiki tragtag turun bersiap untuk menyalakan tungku perapian berbahan bakar gas disimpan di tepat di bawah tubuh lembu putih.
Bumm!! Bunyi tungku api menyala langsung mengenai bagian bawah badan lembu. Warna putihnya dalam hitungan detik sudah hangus berubah menjadi hitam legam. Kemudian di sampingnya naga banda pun ikut terbakar. Sebuah pemandangan yang luar biasa dimana semua orang terpana dan bunyi klik kamera secara bersamaan mengiringi berubahnya keindahan karya seni ini menjadi abu yang sedikit pun tidaklah sia-sia untuk sebuah sebuah upacara pelebon agung. 2 orang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air untuk berjaga-jaga sisa pembakaran yang berjatuhan ke bawah. Sekitar 1 jam proses pembakaran ini selesai dan setelahnya kemudian diambil sisa abu jenazah untuk dikumpulkan dan dimasukan ke dalam kelapa untuk dihanyutkan di Pantai Lebih.
Setelah upacara ini, keluarga dapat tenang mendoakan leluhur dari tempat suci dan pura masing-masing. Sebuah ikatan keluarga yang sangat erat, dimana masyarakat Bali selalu ingat dan menghormati lelulur dan juga orang tua mereka. Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berhubungan erat dengan karma dan perbuatan selama hidup. Roh yang lahir kembali ke dunia ada di dalam lingkaran keluarga. Lingkaran hidup mati adalah karena hubungannya dengan leluhurnya. Bahwa di satu saat nanti dia akan menjadi leluhur juga, dan bahwa roh leluhur yang mengalami reinkarnasi akan kembali dalam lingkaran keluarga lagi, sebuah lingkaran kehidupan dimana seorang cucu merupakan reinkarnasi dari orang tuanya.
Pelebon adalah sebagian saja dari wisata budaya yang dapat Anda saksikan di Bali, Pulai indah yang seolah tidak akan pernah habis membuat pengunjung berdecak kagum.