“Tiada kata sepadan untuk menggambarkan keindahan gotong royong masyarakat Peliatan, Ubud, saat mempersiapkan upacara pelebon Raja Peliatan IX tanggal 2 November 2010 nanti. Ada nilai yang mengikat daripada sekedar bekerja bersama-sama, yaitu rasa saling memiliki dan melindungi yang meresap hingga ke benak sebagai sebuah pengabdian yang luhur”.
Akhirnya bade tingkat 11 dengan ketinggian 25,5 meter selesai dan sayap bade melengkapi keindahan karya monumental ini. Bade tingginya 10,5 meter, bale 3 meter, tumpang 12 meter, serta pondasinya 3,10 x 2,45 meter. Menara kremasi juga sudah siap berwarna kuning yang dikombinasikan dengan putih sebagai simbol kesucian dan melambangkan perjalanan pulang menuju kemurnian. Sayap bade dipasang meski dalam suasana hujan, setelahnya terlihat indah padanannya dalam warna warni yang megah. Merah, kuning emas, hijau, hitam, dan putih melambangkan warna dari para dewa. Dalam upacara ini juga ada lebih dari 70 simbol hewan dimana yang utama seperti gajah, lembu, naga, ikan, singa, dan lain-lain.
Masyarakat Ubud, turis asing dan lokal, bahkan kru media tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto di depannya. Itu karena dalam hitungan jam karya megah dari tangan-tangan seniman terampil ini nantinya akan dibakar untuk menyempurnakan proses pengantaran ruh jenazah.
Dalam kepercayaan Hindu Bali, upacara pembakaran mayat melambangkan pembersihan jiwa orang yang telah meninggal dunia, mengembalikan unsur-unsur asli dari makhluk hidup yang diciptakan serta melepaskan jiwa dari ikatan duniawinya. Upacara kremasi adalah suatu proses yang panjang dengan prosesi baik sebelum dan sesudah kremasi itu sendiri. Upacara kremasi besar untuk Ida Dwagung Puri Peliatan merupakan tontonan yang akan menghibur, khususnya bagi wisatawan, menunjukkan kekuatan dan keagungan budaya Bali. Karya ini diproduksi sepenuhnya oleh tangan-tangan terampil yang berdedikasi tinggi dari masyarakat lokal yang benar-benar layak disebut seniman sejati.
Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa setelah kematian, arwah yang meninggal berdiam di dekat tubuhnya yang sudah tinggalkan, mengambang di ruangan atau tinggal di atas pohon yang ada di sekitarnya. Saat itu unsur alam seperti air, angin, tanah atau api belum memutuskan ikatan terakhir yang menghubungkan roh dengan lumpur kematian di atas tanah tersebut. Manusia memiliki bayu, sabda, idep, dan setelah meninggal ketiganya akan dikembalikan ke Brahma, Wisnu, Siwa. Ketika seseorang meninggal, diyakini bahwa atman atau jiwa tetap dekat dengan tubuh. Tubuh seseorang terdiri dari lima unsur, meliputi api, udara, air, bumi, dan kosong. Kelima elemen harus dikembalikan ke alam, yang akan dirilis sehingga mereka dapat menemukan jalan ke surga dan bersatu dengan Sang Pencipta. Mempersiapkan pelebon meski memakan waktu berbulan-bulan dianggap masyarakat Bali bukanlah pekerjaan berat, melainkan sebuah perayaan keagamaan dan budaya. Sesajian dipersiapkan terdiri beragam makanan pokok, seperti bebek, telur, dan daun kelapa.
Upacara pelebon tidak harus menjadi upacara duka namun sebuah perayaan. Ini adalah upacara untuk menghibur yang telah wafat dan tidak mengganggu jiwanya dengan tangisan. Namun upacara ini membutuhkan waktu, energi, dan uang dalam jumlah besar. Seluruh keluarga dan teman, bahkan masyarakat membagi biaya di antara mereka, seringkali ini membutuhkan waktu beberapa bulan bahkan tahunan. Salah satu cara penyelesaiannya adalah melibatkan masyarakat dalam acara massal ini untuk mengurangi beban biaya.
Upacara puncak tanggal 2 November nanti terbuka untuk umum. Hanya saja pengunjung diharuskan mengenakan pakaian yang sesuai, yaitu tangan dan kaki yang tertutup. Prianya menggunakan kain, kemeja putih, dan udeng semacam ikat kepala khas Bali. Sementara wanita mengenakan kebaya atau kemeja putih, kain, selendang pinggang, serta tentunya wajib mematuhi semua petunjuk yang diberikan panitia.
Upacara kremasi keluarga kerajaan Puri Agung Peliatan dilaksanakan sebagai penghormatan atas perjalanan hidup Raja Ida Dwagung. Peristiwa terbesar yang mungkin tidak kita saksikan sekitar 30 tahun ke depan. Di sini Anda akan menyaksikan sebuah tampilan kreasi masyarakat, dedikasi, kolaborasi, dan budaya yang penuh kehidupan. Sulit menemukan hal seperti ini di belahan dunia manapun.