Loading...
1id.jpg banner_tamankomodo.jpg 2id.jpg 3id.jpg 4id.jpg 5id.jpg 6id.jpg 7id.jpg 8id.jpg

Keselarasan Mengagumkan 2 Hari Menjelang Pelebon di Puri Agung Peliatan

Ditulis 31 Oct 2010 pukul 11:09 viewer 352

“Masyarakat Bali tidak akan kehilangan kesenian dan kebudayaannya, karena hampir semua seni dan budaya di sini bersifat fungsional terhadap adat dan agama. Inilah keselarasan yang harmonis di antara agama, kesenian, dan kebudayaan yang luar biasa”. 


Pagi hari pukul 09.00 WITA, Puri Agung Peliatan menggeliat untuk persiapan upacara ngening. Sebagian wanita sibuk mempersiapkan sesajian buah-buahan dan bunga berwarna-warni, sebuah perpaduan yang memikat saat bersanding dengan baju tradisional Bali yang anggun.

Bunga dan buah-buahan sebagai sesajen yang mereka memiliki seolah tak pernah habis setiap harinya. Kita barangkali akan mengira bahwa mereka memindahkan seluruh buah dari dalam lemari es untuk dibawa dengan wadah di atas kepala. Bagaimanapun juga pengabdian ketuhanan yang merasuki masyarakat Hindu Bali adalah hal yang luar biasa dan begitu tiada bandingannya.

Hari itu upacara ngening digelar sebagai ritual perjalanan ke mata air untuk mengambil air suci dan akan digunakan secara simbolis untuk memandikan jenazah. Salah satu nama bagi agama Hindu di Bali adalah agama air. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila arak-arakan menuju mata air suci menjadi salah satu adegan yang indah dan patut disaksikan.

Sepanjang perjalanan alunan musik tradisional gamelan gong khas Bali menggema. Ceng-ceng berbunyi nyaring dan cepat sehingga membuat Anda dapat membedakan gamelan Bali dengan gamelan Jawa. Iring-iringan memadati hampir seluruh ruas jalan dan hanya menyisakan ruang untuk 1 mobil yang terpaksa dihentikan pecalang serta polisi pengatur lalu-lintas.

Ada dua anak kecil, yaitu lelaki dan wanita ditandu di antara arak-arakan, jelas mereka adalah sorotan utamanya. Keduanya didandani pakaian khas Bali yang meriah dengan perhiasan emas lengkap dari gelang, kalung, anting, keris, dan asesoris lainnya yang telihat sangat indah. Si anak lelaki mengenakan pakaian putih dengan gagah, sementara anak wanitanya mengenakan pakaian atas dada merah muda dan kain kuning kemasan sebuah perpaduan yang manis. Kedua anak kecil ini melambangkan kesucian dan kebersihan manusia yang siap mengantar pengambilan air suci untuk jenazah.

Di tempat pengambilan air suci, suasana khusyuk terasa, aroma dupa dan kembang-kembangan bercampur seirama dentingan lonceng dari pedanda (pendeta Hindu Bali). Ratusan orang menunggu saat segelintir orang saja yang dizinkan memasuki halaman pura kecil di samping mata air suci. Banyak turis terkesima sambil mengabadikan foto upacara yang unik ini, sementara kru wartawan lokal bahkan mancanegara serius menangkap moment ritual ini.

Malam harinya khusus di bagian dalam Puri Agung Peliatan diadakan prosesi ngening mengawali ritual pelebon. Sebuah tahapan untuk menyucikan jenazah dengan air yang diambil pagi hari sebelumnya. Dalam ajaran Hindu-Bali, sedikit atau banyak, manusia memiliki dosa. 3 orang pedanda memercikkan air suci ke ruang tempat jenazah disemayamkan bersebelahan dengan naga banda sebagai media untuk mengantarkan ruh jenazah. Bukan jenazah sebenarnya yang disucikan, melainkan perlambang jasad semata. 

3 orang pedanda mengucapkan mantra-mantra bersamaan sambil membunyikan lonceng dan memercikkan air suci. Para pedanda ini mengenakan mahkota dan perhiasan yang indah, sebuah kostum yang khusus dikenakan saat upacara keagamaan dan menghabiskan hampir 5 peti untuk menyimpan peralatannya.

Masyarakat Hindu Bali sejak dahulu telah menempatkan para brahmana (rohaniawan Hindu) dalam kasta tertinggi, kemudian diikuti para kesatria (bangsawan dan ahli pemerintahan dari kerajaan), weisya (pedagang, petani, dan nelayan), dan sudra (para pelayan). Sebuah sistem tingkatan sosial yang sekarang ini bergeser lebih pada perannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Hampir seluruh keluarga dan kerabat Puri Agung Peliatan hadir malam itu. Upacara penghormatan dan ibadah dilaksanakan dengan suasana khidmat dan penuh penghormatan. Para pelayan puri membagikan dupa dan kembang berwarna warni sebagai simbol penghormatan kepada para dewa. Sebuah suasana yang mengagumkan dan menjelaskan kepada kita mengapa masyarakat Bali yang tinggal di Pulau Bali maupun yang tinggal di luar pulau Bali konsisten menjalankan tata aturan dalam pelaksanaan upacara keagamaan. Sebagai pemeluk agama Hindu, mereka memiliki pandangan bahwa kehidupan ini didasarkan atas azas kebersamaan dan azas berbakti pada Tuhan, alam, masyarakatnya. Dengan azas kebersamaan tersebut mendorong manusia untuk berorientasi kepada sesamanya, sedangkan azas berbakti menumbuhkan loyalitas untuk mengabdi. Sesuai dengan keyakinan masyarakat Bali bahwa rasa bakti itu diwujudkan dalam bentuk yadnya yang ditujukan kepada Tuhan (Hyang Widhi Wasa), kepada sesama manusia, kepada mahluk lainnya, serta ditujukan kepada alam lingkungannya.

Selesai upacara ngening, di bagian depan pelataran gerbang Puri Agung Peliatan berlangsung acara meriah gamelan Bali. Atraksi pemain gamelan ini sangat luar biasa, mereka menunjukan kekompakan yang menghasilkan irama gamelan bali yang unik, khas, cepat, dan meriah. Gamelan Bali memiliki lebih banyak instrumen berbilah daripada berpencu. Logam alat gamelannya pun lebih tebal sehingga bersuara lebih nyaring. Gamelan Bali juga mengunakannya sejenis simbal yang disebut ceng-ceng. Anda akan hanyut dalam kemeriahan bunyi ceng-ceng ini.

Setelah itu ada juga acara topeng pajegan dan drama. yaitu  topeng ritual yang mengiringi upacara. Pelaku topeng pejagan adalah orang yang sangat tinggi tingkatan spiritualnya. Selain itu, ilmu agamanya harus luas, karena dia harus memberikan pencerahan kepada masyarakat yang saat itu menonton apa inti upacara pelebon itu, apa tujuan upacara, dan apa akibatnya kalau upacara ini tidak dilaksanakan. Seorang penari Topeng Pajegan adalah seorang pendharma wacana yang piawai, sekaligus memiliki kemampuan bercerita seperti seorang dalang. Peran yang dibawakannya adalah gabungan dari berbagai fungsi yang vital, yaitu memberikan dharma wacana tentang upacara pelebon yang digelar, memberikan hiburan, dan membuat air suci (nuwur tirtha) lewat Topeng Sidakarya.

Rentetan kemeriahan dan upacara adat 2 hari menjelang pelebon  di Puri Agung Peliatan ini menunjukan kolaborasi energi, kesamaan rasa, aura, rasa hormat, dan dedikasi keluarga dan masyarakat kepada raja Puri Agung Peliatan. Saat Anda datang ke Bali bukan hanya sebuah wisata alam dan wisata belanja yang dapat diperoleh, melainkan ada juga sebuah pengalaman unik dan mengesankan tentang harmonisasi seni, budaya, dan agama di Bali. Pelebon yang puncaknya digelar 2 November 2010 adalah sebuah acara wajib untuk masuk kalender wisata Anda 2 hingga 7 hari ke depan.   

Berikan Komentar Anda