Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Pengusungan Naga Banda Pelebon 2 November 2010

Pengusungan Naga Banda Pelebon 2 November 2010

Ditulis 29 Oct 2010 pukul 10:17 | Dilihat: 2908

Pengusungan Naga Banda Pelebon 2 November 2010

“Pengusungan naga banda adalah sebagian saja dalam rentetan proses ritual pelebon hingga puncaknya 2 November nanti. Turis lokal dan mancanegara telah berkumpul di Denpasar, Ubud, dan sekitarnya bersiap untuk kemeriahan yang menyenangkan dalam ritual Pelebon Raja Peliatan IX, Ubud. Sebuah ritual megah yang mungkin tidak akan Anda saksikan hingga sekitar 30 tahun ke depan”.

Rabu siang waktu Bali tampak ribuan wisatawan terkesima melihat prosesi pengusungan Naga Banda di Peliatan Ubud Bali. Patung naga tersebut berukuran besar dengan ekor memanjang di arak meriah. Ini adalah rentetan acara sebelum kremasi jenazah Raja Peliatan IX, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali yang akan digelar puncaknya tanggal 2 November 2010.

Pengunjung antusias menonton iring-iringan saat warga mengangkat Naga Banda dari Puri Peliatan menuju Pura Merajan Puri Agung Ubud. Dalam Prosesi pengusungan Naga Banda tersebut terlihat dua gajah dan tiga kuda ditunggangi oleh penglingsir atau sesepuh Puri Ubud dan kerabatnya. Terdengar pula lantunan tetabuhan merdu khas Bali mengiringi pengusungan Naga Banda. Ada pula dua anak perempuan cantik yang diusung dengan tandu di antara barisan wanita Bali yang berpakaian adat.

Meski ramai pengunjung acara tersebut berjalan tertib dengan pengamanan dari pecalang (petugas pengamanan tradisional desa adat di Bali). Selain tentunya pengamanan dari aparat kepolisian, satpol PP, Dinas Perhubungan, dan TNI. Tempat parkir kendaraan untuk pengunjung sebelumnya telah disiapkan di Lapangan Astina. Hal ini untuk mencegah berkumpulnya kendaraan di dalam areal puri dan pinggir jalan. Kepadatan pengunjung ini adalah suasana yang sangat berbeda dan sulit Anda temukan di daerah lain. Naga banda yang diarak tersebut dilihat oleh pengunjung sebagai sebuah pencampuran antara ajaran agama dan kesetiaan pada budaya, serta keagungan karya seni dalam simbolisasi yang menawan.  

Dalam mitologi Hindu di Bali, sungai yang mengalir berliku-liku dan kulit bumi yang berlapis-lapis digambarkan sebagai naga-naga yang membelit inti bumi, dimana inti bumi dilukiskan sebagai Bedawang Nala atau Bedawang Api. Terjadinya gempa bumi dalam pandangan masyarakat Hindu Bali adalah karena naga-naga yang bertugas membelit Bedawang Nala  ini terlena sekejap dan bergerak sehingga terjadilah gempa bumi.

Naga induk yang dikenal dalam mitologi Hindu Bali ada tiga yaitu Sang Hyang Anantabhoga, Sang Hyang Basuki, dan Naga Taksaka.

Sang Hyang Anantabhoga menggambarkan lapisan kulit bumi yang memikul alam kita ini dengan punggungnya (Anantabhogastawa). Dari kulit bumi inilah timbul segala jenis tumbuh-tumbuhan yang diibaratkan bulu-bulu naga yang memberikan manusia sandang pangan yang tidak habis-habisnya.

Sang Hyang Naga Basuki, dalam “Basukistawa” dilukiskan sebagai Indragiri atau penguasa gunung. Gunung dalam pandangan umat Hindu di Bali bukan saja sebagai singgasana Ida Batara atau linggih tetapi juga merupakan hulu mata air yang melahirkan sungai berliku-liku dan  membuat  tanah menjadi subur.

Sementara itu Naga Taksaka digambarkan sebagai naga bersayap yang menguasai udara sehingga udara dapat memberikan kehidupan kepada semua makhluk. Sebab itulah dahulu awalnya Dalem yang menjadi raja Pulau Bali menetapkan bahwa beliau dan turunannya jika meninggal akan menunggang Naga Banda sebagai penebusan terhadap ikatan duniawi saat masih hidup. Rasa keterikatan inilah yang harus diputuskan dengan cara menghidupkan satwam dalam upacara disimbolkan dengan pendeta yang memanah Naga Banda. Apabila ikatan duniawi ini tidak dapat dilepaskan maka Sang Hyang Atma akan dililit dibawa ke neraka. Namun, apabila ikatan ini mampu dilepaskan maka Sang Hyang Anantabhoga akan menjadi kendaraan Sang Hyang Atma untuk pergi ke surga. Sebuah simbolisasi yang tidak rumit bagi masyarakat Hindu Bali.

Naga Banda adalah lambang upacara kremasi kerajaan dan khusus disiapkan bagi anggota kerajaan untuk membawa arwah mereka ke nirwana. Naga banda yang bersisik kulit emas itu dibuatkan khusus dari Puri Agung Ubud, sedangkan lembunya dibuat di Puri Agung Peliatan, Ubud. Naga banda itu dijemput 27 Oktober 2010 dari Puri Ubud menuju Puri Peliatan. Pada saat upacara pelebon, naga banda dengan panjang kurang lebih tiga meter itu akan dipanah oleh Ida Pedanda Lingsir Griya Santhi Peliatan, Ubud. Naga banda adalah lambang upacara pelebon, dengan tujuan untuk membawa jiwa yang meninggal dalam perjalanan ke surga. Naga banda akan menjadi salah satu kendaraan untuk berangkat jenazah yang akan dikremasi. 

Dalam upacara Pelebon Raja Peliatan IX tanggal 2 November 2010 nanti, selain naga banda, ditandai juga dengan Bade tumpang solas tinggkat 11 dengan ketinggian 25,5 meter.  Bade ini terdiri dari bagian setinggi 10,5 meter, Bale-balean tinggi 3 meter dan tumpang dengan tinggi 12 meter. Bade ini memakai pondasi berupa pengawak dasar ukuran 3,10 meter x 2,45 meter. Bade adalah wadah untuk mayat yang diusung bersama dengan sebuah replika lembu atau sapi berwarna putih yang besar dan indah.

Lembu yang tampak megah dan berwarna putih ini diperkirakan berukuran terbesar di Bali dan dengan mengenakan mahkota sesuai kedudukan orang yang meninggal. Terbuat dari rangkaian bambu dibungkus kain putih yang diimpor dari Norwegia, pembuatannya memakan biaya hingga ratusan juta. Bila Anda melihatnya secara lebih dekat maka terlihat seperti kulit sapi sungguhan, sungguh luar biasa! Lembu ini nantinya akan dibakar bersama dengan jasad orang yang meninggal.

Upacara pelebon atau dikenal juga sebagai ngaben adalah prosesi pembakaran mayat yang bertujuan untuk mengembalikan unsur-unsur pembentuk tubuh manusia kembali ke alamnya serta melepaskannya dari ikatan keduniawian. Sebuah upacara yang bila dipandang oleh orang selain Hindu Bali sebagai prosesi yang rumit namun kenyataannya sangat sederhana untuk dipahami.

Upacara ini adalah salah satu tradisi budaya Bali yang sangat di kenal sampai ke manca negara karena kemegahan dan keunikannya. Terlebih untuk pelebon dari keluarga kerajaan di Bali yang akan lebih meriah dan dapat menghabiskan biaya hingga miliaran rupiah dengan persiapan yang memakan waktu berbulan-bulan.  Oleh karena itu, acara kremasi jenazah Raja Peliatan IX, Ubud adalah salah satu prosesi terbesar dan termegah dalam kurun waktu 30 tahun terakhir se-Ubud.

Arak-arakan Bade, Lembu, dan Naga Banda dipersiapkan untuk prosesi upacara 2 November nanti melibatkan sekitar 25 banjar. Hingga hari Kamis, 29 Oktober 2010, keluarga kerajaan dan masyarakat Peliatan tampak sibuk bersiap-siap menyempurnakan persiapan.

Wisatawan mancanegara dan Nusantara tampak lalu-lalang mengabadikan persiapan ini. Sebuah persiapan untuk prosesi kematian yang menyenangkan dan meriah seperti ungkapan dalam film “Eat Pray Love” kala Ketut Liyer berpesan kepada Liz ”Datanglah saat upacara kremasi setelah saya meninggal, karena upacara ngaben itu mengasyikkan”.

 

Berikan Komentar Anda