Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Warga Larantuka Khidmat Gelar Semana Santa

Warga Larantuka Khidmat Gelar Semana Santa

Ditulis 21 Apr 2014 pukul 10:19 | Dilihat: 297

Warga Larantuka Khidmat Gelar Semana Santa

Warga Larantuka di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur dengan khidmat mengelar perayaan Minggu Suci yang dikenal sebagai Semana Santa. Kegiatan keagamaan tersebut berpusat di dua lokasi yakni Kapela Wure (Kapela Tuan Ma) di Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, dan Kapela Pohon Sirih (Kapela Tuan Ana-Kapela Yesus Kristus) di Larantuka. Puluhan ribu peziarah perayaan Semana Santa berdatangan ke datang ke Larantuka dari daratan Flores, Lembata, Adonara, Timor dan Sumba, serta  termasuk utusan dari Takhta Suci Vatikan dan perwakilan dari Pemerintah Portugal dan Timor Leste.

 

Prosesi Paskah di Larantuka adalah satu-satunya di Indonesia dan sama dengan yang ada di Kota Qurem de Fatima, Portugal. Perayaannya berlangsung setiap tahun, seminggu menjelang Paskah. Umat Katolik di tempat tersebut telah menggelar hari perayaan hari keagamaan sejak abad ke-16 diawali dengan akulturasi antara misionaris Portugis dan adat setempat. Prosesi puncak hari Jumat Agung atau Sesta Vera Pusat diadakan di dua patung suci, yaitu patung Yesus Kristus (secara lokal dinamai Tuan Ana) dan patung Perawan Maria (secara lokal dinamai Tuan Ma). Kedua patung tersebut dibawa oleh misionaris Portugis Gaspardo Espírito Santo dan Agostinhode Madalena pada abad 16. Patung-patung tersebut hanya ditampilkan kepada publik setiap hari Paskah.

 

Ada dua kegiatan utama perayaan Semana Santa, yakni Liturgi dalam pekan suci yang dimulai dari perayaan Kamis Putih sampai dengan Minggu Paskah dan kegiatan Devosi yang difokuskan pada sentra-sentra yang menjadi pusat perhatian para peziarah. Kegiatan devosi dipusatkan di Kapela Tuan Ma, Kapela Tuan Ana, Kapela Tuan Meninu, Kapela Tuan Berdiri di Wure yang ditandai dengan prosesi bahari ke Wure sampai penghantaran Tuan Meninu dari Kapela Tuan Meninu ke Kapela Tuan Ana melalui prosesi Bahari. Puncak kegiatan devosi pada Prosesi Jumad Agung adalah menghantar Patung Tuan Ma mengelilingi kota Larantuka.

 

Rangkaian perayaan Semana Santa sebelum harinya akan dilakukan kegiatan rohani sperti tikan turo atau menanam tiang-tiang lilin sepanjang jalan raya yang menjadi rute Prosesi Jumat Agung di kota tua Larantuka yang terletak di bawah kaki Gunung (Ile) Mandiri. Selain itu, ada aktivitas di Kapela Tuan Ma (Bunda Maria) dimulai dengan upacara Muda Tuan, yaitu pembukaan peti yang selama setahun ditutup oleh petugas conferia (badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah.

 

Semana Santa juga akan diawali sebelumnya  dengan prosesi Rabu Trewa (trewa artinya bunyi-bunyian atau sering juga disebut Rabu Abu). Warga boleh membunyikan musik atau bunyian lainnya. Gereja juga masih boleh membunyikan lonceng hingga pukul 20.00 namun setelah misa Rabu malam, bunyi-bunyian tak dibolehkan. Keesokan harinya, berlangsung perayaan perjamuan terakhir, Kamis Putih pukul 10.00 WITA. Suasana Larantuka pun menjadi sepi mirip seperti Nyepi di Bali. Saat itu, diadakan persiapan mengeluarkan Tuan Ma (patung Bunda Maria) di Kapel Maria Pante Kebis dan akan dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka. Kegiatan memandikan Patung Bunda Maria ini tertutup untuk umum namun setelah pemandian, warga akan mengambil air mandi di bak lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang. Air tersebut diyakini memiliki khasiat.

 

Patung Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat rangkaian Paskah dan tradisi Paskah di Larantuka pada Jumat Agung dilakukan di laut. Pada upacara laut ini, orang yang terpilih akan menaiki perahu dengan membawa Tuan Menino atau patung bayi Yesus. Prosesi laut mulai pukul 12.00 dari Pantai Kota menuju pesisir, ke Desa Pohon Sirih. Sebelum menuju kapel Tuan Ma dan Tuan Ana (patung Yesus Kristus anak Allah), warga lebih dahulu menyambut Tuan Meninu (Yesus Kanak-kanak) di pinggir Pantai Desa Pohon Sirih. Prosesi pengantaran Tuan Meninu diawali oleh satu orang terpilih dari suku khusus yang akan menjunjung Patung Tuan Meninu dari atas kapel menuju sampan khusus. Pada sampan ini, Tuan Meninu diletakkan di bagian depan dan satu orang pembawanya di belakang. Prosesi pengantaran ini diiringi warga menuju ke armida (tempat penataan patung) di dalam Kota Larantuka.

 

Untuk membuka jalan, anak-anak perwakilan suku setempat berada di barisan depan iringan prosesi laut dari seberang Larantuka ini. Satu sampan berisi dua anak suku yang disebut laskar kecil. Sebanyak 7-8 sampan laskar kecil ini mengawal Tuan Meninu. Di belakangnya, warga mengikuti prosesi laut menuju ke pesisir. Perjalanan laut menuju Pohon Sirih berlangsung satu jam. Di pesisir pantai, warga dari dalam Kota Larantuka sudah menunggu. Setibanya di Pohon Sirih, Tuan Meninu diantar menuju armida Pohon Sirih. Selanjutnya, warga berjalan menuju kapel Tuan Ma, lalu menjemput Tuan Ana, dan bersama warga menuju Gereja Katedral Larantuka.

 

Patung Tuan Ma setelah dikeluarkan akan dibersihkan dan dimandikan dilengkapi dengan busana perkabungan berupa sehelai mantel warna hitam, ungu atau beludru biru. Para peziarah Katolik yang hadir pada saat itu diberi kesempatan berdoa, menyembah, bersujud mohon berkat dan rahmat kepada Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum). Setelah pintu kapela dibuka, umat setempat serta para peziarah Katolik dari berbagai penjuru mulai melakukan kegiatan "cium kaki Tuan Ma dan Tuan Ana" dalam suasana hening dan sakral.

 

Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka mulai pukul 15.00 WITA. Pukul 18.00, umat kembali menjalani prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan dengan nyanyian ratapan yang dilakukan di gereja selama 15 menit lalu umat keluar dari gereja dan mengelilingi delapan armida di Larantuka. Tuan Ma dan Tuan Ana beserta iring-iringan menjenguk delapan armida ini hingga pukul 03.00 Wita, hingga kembali lagi ke gereja. Ini adalah puncak prosesi Semana Santa di Larantuka. Akan tetapi, ritual Paskah ini belum berakhir. Pada Sabtu pukul 07.00 Wita, Tuan Ma dan Tuan Ana diantar pulang ke kapel masing-masing.

 

Saat Tuan Ma dan Tuan Ana kembali ke kapel masing-masing, suku mengambil alih prosesi dan akan mengemas kembali Tuan Ma dan Tuan Ana, lalu kapel pun ditutup untuk umum. Berbagai suku, umat, masyarakat Flores hingga tamu asing berbaur dalam rangkaian prosesi lebih dari 24 jam ini. Sabtu sore, warga Larantuka melakukan Misa Sabtu Santo (Misa Malam Paskah), mulai pukul 18.00 Wita. Pada waktu inilah lonceng gereja boleh dibunyikan kembali. Selanjutnya, ritual Paskah ditutup dengan misa. Misa Minggu dilakukan tiga kali, pukul 06.00, 08.00, dan 16.00 Wita.

 

Meski perayaan Semana Santa berasal dari tradisi akulturasi Portugis dan tradisi penduduk lokal tetapi memiliki daya tarik bagi umat Katolik dari seluruh Tanah Air bahkan wisatawan mancanegara. Kabarnya perayaan serupa di Portugal sudah jarang digelar. Saat perayaan berlangsung di Larantuka maka ribuan lilin di sepanjang rute prosesi dan di tangan para peziarah telah menjadikan Larantuka sebagai kota perkabungan suci sekaligus daya tarik wisata religi yang penuh kesan.

 

Lihat tautan berikut untuk membaca tentang Semana Santa Larantuka

Photo Courtesy Ulet Ifansasti/Getty Images

 

 

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda