Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Apresiasi Wonderful Indonesia 2013:The Great Indonesian Songbook, Sound From Rote Ndao

Apresiasi Wonderful Indonesia 2013:The Great Indonesian Songbook, Sound From Rote Ndao

Ditulis 12 Dec 2013 pukul 11:32 | Dilihat: 1100

Apresiasi Wonderful Indonesia 2013:The Great Indonesian Songbook, Sound From Rote Ndao

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Apresiasi Wonderful Indonesia 2013 bagi berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi dalam perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Acara tersebut dilangsungkan pada 12 Desember 2013 bertempat The Ritz Carlton Jakarta, Pacific Place.

 

Malam Apresiasi Wonderful Indonesia 2013 ini secara khusus menghadirkan Wamenparekraf, Sapta Nirwandar, CEO dan Founder MarkPlus, Inc, Hermawan Kartajaya. Keduanya dalam kesempatan tersebut meluncurkan buku bersama bertema Pariwisata, yaitu "Buku Tourism Marketing 3.0". Dalam acara ini turut pula diluncurkan Tourism Philatelic Series bertema Destinasi Pariwisata Indonesia oleh Direktur Utama PT POS Indonesia, Budi Setiawan.

 

Selain itu, diperkenalkan pula jalinan kerja sama Sister City antara Jakarta (Indonesia) dan Melaka (Malaysia) yang menghadirkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama bersama Chief Minister of Melaka Y. A. B. Datuk Seri Idris bin HJ Haron. Kerja sama ini secara khusus terkait keberadaan pariwisata Kota Tua Jakarta dengan Kota Tua Melaka dimana memiliki jejak sejarah yang sama, yaitu peninggalan Belanda.

 

Acara Apresiasi Wonderful Indonesia 2013 malam itu dikemas dalam bentuk konser musik bertajuk The Real Wonder of The World: The Great Indonesian Songbook, Sound From Rote Ndao. Beberapa musisi yang tampildiantaranya adalah: Ivan Nestorman dan Dwiki Dharmawan Sasando Orchestra, Lea Simanjuntak, Monita Tahalea, dan David NAIF. Secara khusus konser ini berupaya mengenalkan sasando dari Pulau Rote agar menjadi instrumen musik yang bukan saja diapresiasi di negeri sendiri tetapi juga dapat dikenalkan ke dunia internasional.

 

Sasando merupakan alat musik tradisional Nusantara yang telah masuk dalam program upaya mendapatkan penghargaan dari UNESCO. Oleh karena itu, perlu menformulasikan kegiatan khusus agar sasando menjadi instrumen internasional. Selain agar diakui menjadi alat musik yang mendunia, sasando juga diharapkan  dapat memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat NTT, terutama bagi masyarakat pembuat sasando atau kerajinannya.

 

Sasando sendiri merupakan instrumen musik tradisional berbahan pohon lontar dan bambu khas dari Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Rote, sasando sering disebut sasandu yang berarti alat yang bergetar atau berbunyi, sedangkan di Kupang disebut Sasando. Nama sebutan kedua kemudian lebih popular di masyarakat hingga kini.

 

Sekilas sasando serupa alat musik petik lainnya seperti biola, gitar atau kecapi namun uniknya sasando memiliki  bunyi merdu khas dan berbeda. Bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur, sasando dimainkan dalam beberapa keperluan seperti menghibur kerabat yang berduka cita. Sering pula sasando menjadi pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu, atau sekadar alat musik penghibur.

 

Sasando sendiri dimainkan dengan cara dipetik dan tidaklah mudah karena dibutuhkan harmonisasi perasaan dan teknik sehingga tercipta alunan nada merdu. Memainkan sasando memerlukan keterampilan jari-jemari memetik dawai seperti pada harpa. Sasando dimainkan menggunakan dua tangan dengan arah berlawanan. Inilah yang unik dan berbeda. Ketika memainkannya, tangan kanan berperan memainkan accord sedangkan tangan kiri bertugas sebagai pengatur melodi dan bass.

 

Bahan pembuat sasando secara keseluruhan terbuat dari pohon-daun lontar, bambu, kecuali dawai yang terbuat dari kawat halus seperti senar string. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) atau dikenal dengan pohon siwalan adalah sejenis palma (pinang-pinangan). Pohon ini banyak dimanfaatkan penduduk Pulau Rote selain sebagai bahan baku sasando juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti bahan pembuat kipas, tikar, topi, aneka keranjang, dan tenunan pakaian.

 

Ada beberapa jenis sasando saat ini, yaitu sasando gong dan sasando biola. Sasando gong lebih dikenal di Pulau Rote dimana memiliki nada pentatonik dan biasanya dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan mengiringi syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian kini berkembang menjadi 11 dawai. Sementara itu, sasando biola adalah sasando bernada diatonis. Disebut sasando biola karena menyerupai nada biola namun memiliki 32 dan 36 dawai. Bentuknya sasando biola diameter bambunya lebih besar.

 

Sebenarnya selain kedua jenis sasando di atas, ada pula sasando elektrik (listrik) yang memiliki 30 dawai. Ini merupakan pengembangan dari sasando biola yang diberi sentuhan teknologi. Sasando elektrik tidak menggunakan wadah dari daun lontar yang membutuhkan ruang resonansi (wadah penampung suara) tetapi   bunyinya langsung dapat di perbesar lewat alat listrik. Sasando jenis ini dikembangkan oleh Arnoldus Eden (almarhum), yaitu seorang musisi sasando asal NTT.

 

Bagi Anda yang berminat untuk mempelajari sasando maka saat menyambangi Pulau Rote dapat meminta penduduk asli di sana untuk mengajarkannya langsung kepada Anda. Alternatif lain di Kota Kupang Anda dapat mengungunjungi salah satu sanggar sasando yang beralamat di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kabupaten Kota Kupang.

 

NTT sendiri sebagai provinsi yang menaungi Pulau Rote memiliki banyak tujuan dan atraksi wisata yang amat memukau dan terus dipromosikan. Beberapa di antaranya adalah: Kelimutu, Alor, Lembata, Taman Nasional Komodo, Pantai Nembrala, Taman Laut Mbay, Desa Wisata Kampung Bena, dan lainnya. 

 

 

 

 

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda