Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Berita

Beranda » Berita » Nasi Jinggo Mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai

Nasi Jinggo Mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai

Ditulis 1 Jul 2013 pukul 13:12 | Dilihat: 4873

Nasi Jinggo Mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai

Menanti penerbangan di bandar udara atau airport memang bisa membosankan apalagi saat perut belum terisi dan penantian terasa panjang. Itulah sebab, kebanyakan bandar udara menyediakan kantin, cafe, bahkan restoran cepat saji bagi penumpang pesawat yang menunggu penerbangan.

 

Berbeda dengan bandar udara lain yang memberi ruang bagi kuliner modern, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai di Bali memberi tempat bagi kuliner lokalnya yang merakyat, yaitu nasi jinggo. Belum setahun ini, nasi jinggo masuk executive lounge di Bandar Udara Ngurah Rai, bahkan kuliner tersebut dijajakan di cafe serta warung di bagian dalam airport.

 

Nasi jinggo adalah kuliner yang tak asing di telinga wisatawan dan masyarakat Bali. Hal yang membuat jenis makanan ini unik adalah porsi nasinya yang tidak terlalu banyak, lauk pauk berupa ayam suwir berempah merah dan sedikit sambal goreng tempe sebagai pelengkap. Rasanya memang agak pedas, cocok bagi lidah yang memuja makanan oriental. Apabila Anda tidak suka pedas maka lebih baik minta yang tidak ada sambalnya ke penjual. Nasi jinggo biasanya juga menyediakan lauk pauk tambahan seperti telur puyuh, ceker ayam pedas, dan lainnya. Lauk pauk tambahan itu biasanya dijual terpisah bergantung selera.

 

Nasi Jinggo selalunya dijajakan di tepi jalanan Kota Denpasar dan sekitar Kuta atau Sanur. Nasi ini semakin populer hingga menembus luaran Bali dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu porsi kecil dan dijajakan di tepi jalan. Jenis makanan rakyat ini tentunya bisa dijadikan menu alternatif cerdas untuk menghemat pengeluaran Anda di Bali. Nasi jinggo sekilas mirip nasi kucing di Yogyakarta, bedanya hanya pada cara penyajian, bumbu serta isinya.

 

Sedikit perubahan penampilan dilakukan agar lebih masuk dengan suasana airport. Daun pisang dibuat lebih menonjol untuk menguatkan unsur tradisional dan piring anyaman daun lontar atau daun kelapa ditawarkan agar lebih nyaman bagi penikmat. Sendok plastik sudah disiapkan dalam bungkusan daun pisang. Harganya pun disesuaikan, yaitu mulai Rp5.000,- di tepian jalan menjadi Rp15.000,- di dalam airport.

 

Salah satu penjual nasi jinggo di salah satu terminal penerbangan domestik mengaku bahwa ia sanggup menjual sebanyak 100 bungkus per hari. Pengunjung semakin hari kian bertambah yang tertarik dengan penampilan bungkus nasi ini sehingga selalu bertambah yang ingin mencicipinya. Memang rasanya pun tak diragukan untuk memuaskan rasa penasaran.

 

Selama ini tak banyak makanan tradisional yang masuk di bandar udara apalagi makanan rakyat yang seolah tak pantas masuk level upper middle dan upper class. Nasi Jinggo membuktikan bahwa pandangan itu salah. Berapa banyak lagi jenis makanan di Indonesia yang berstatus sama dengan nasi jinggo? Apakah status itu bisa melejit seperti nasib baiknya sekarang? Mungkin bandar udara lain dapat mengadopsi kuliner unik setempat yang patut diangkat dan dipromosikan lebih jauh lagi. Bandar udara dapat menjadi meja hidangan terdepan untuk menawarkan kepuasan cita rasa kuliner lokal bagi wisatawan dan traveler.

 

Photo courtesy : http://travel.kompas.com/read

Link Terkait

 

 

Berikan Komentar Anda