Sebagai desa wisata, Kedisan mengandalkan potensi kekayaan dan keindahan alam dan udara pegunungannya yang hijau dan sejuk. Danau Batur sendiri merupakan danau terbesar di Bali dan berada di kawah Gunung Batur. Tempat ini dapat dicapai melalui Desa Kedisan.
Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama berada di kawasan Kedisan, diantaranya adalah trekking, mengarungi Danau
!DOCTYPE>
Sebagai desa wisata, Kedisan mengandalkan potensi kekayaan dan keindahan alam dan udara pegunungannya yang hijau dan sejuk. Danau Batur sendiri merupakan danau terbesar di Bali dan berada di kawah Gunung Batur. Tempat ini dapat dicapai melalui Desa Kedisan.
Ada banyak kegiatan yang dapat dilakukan selama berada di kawasan Kedisan, diantaranya adalah trekking, mengarungi Danau Batur, bersepeda mengelilingi danau yang berpanorama indah, dan lain sebagainya.
Restoran apung yang merupakan bagian dari sebuah resor dapat dikatakan sebagai ikon Desa Kedisan dan tak boleh dilewatkan. Restoran apung yang sebagian wilayahnya memang terapung di Danau Batur ini menawarkan sensasi makan di tengan danau dengan pemandangan alam memukau. Kesan romantis dan manis mungkin akan langsung Anda rasakan saat berada di restoran apung berlatar Gunung Batur dan keelokan alam tropis pegunungan. Alunan arus danau mungkin sesekali akan terasa saat Anda menyantap sajian makanan yang sebagian besar menunya adalah ikan air tawar. Ikan air tawar yang dimasak dan disuguhkan dengan berbagai cara (dibakar atau digoreng) tersebut merupakan hasil kekayaan dari Danau Batur. Biasanya ikan yang paling banyak terdapat di danau dan yang dijadikan menu pilihan adalah ikan nila dan mujair.
Mengingat letaknya yang berada di kaki Gunung Batur, desa ini dapat dijadikan tempat singgah sebelum mendaki puncak Batur. Desa ini juga hanya berjarak sekira 6 kilometer dengan Toya Bungkah yang juga biasa dijadikan sebagai titik pendakian Gunung Batur. Toya Bungkah juga terkenal karena memiliki pemandian sumber mata air panas yang dapat merelaksasi otot dan dipercaya berkhasiat untuk kesehatan kulit. Desa Kedisan terletak tak jauh dari (di bawah) Penelokan yang disebut-sebut sebagai tempat melihat keindahan Batur dari tempat yang lebih tinggi.
Dermaga kecil dibangun di Desa Kedisan, tepat di tepian Danau Batur. Dermaga ini adalah titik untuk memulai penyeberangan atau tur berkeliling danau. Terdapat banyak perahu kecil yang siap mengantar Anda selama kurang lebih 2 jam perjalanan berkeliling dan kembali lagi ke Desa Kedisan. Dari dermaga ini pulalah, Anda dapat menyeberang menuju Desa Trunyan yang terkenal dengan tradisi penguburannya yang unik. Mayat di desa ini tidak dikremasi seperti yang dilakukan oleh orang Bali kebanyakan, melainkan disimpan di sebuah batu besar yang memiliki cekungan 7 buah. Uniknya mayat tidak akan berbau busuk sebab konon pohon Taru Menyan yang ada di kawasan tersebut menetralisir baunya.
Untuk menikmati wisata budaya di Desa Kedisan, jadwalkan liburan Anda ke desa cantik ini di bulan Agustus atau September. Pada bulan tersebut, diadakan prosesi ngusabha tegen yang dilaksanakan setahun sekali. Upacara tersebut adalah bentuk syukur penduduk desa kepada dewi kesuburan yang ber-istana di Pura Dalem Prajapati. Ribuan warga desa akan memikul banten teganan (sesaji) ke lokasi upacara sebagai persembahan. Sesajen tersebut biasanya berupa sayur-sayuran, buah-buahan, ikan dan lain sebagainya. Khusus untuk upacara ini, ikan dan makanan lain yang dipersembahkan tidak boleh dimasak dengan cara digoreng, melainkan harus dikukus atau dibakar. Dikatakan juga sesajen wajib dipersembahkan seluruh kaum laki-laki yang ada di Desa Kedisan dengan isi sesaji dari banten tegenan serba dua puluh. Harapannya, selain sebagai bentuk pemujaan, penduduk juga memohonkan diberikan keselamatan dan kemakmuran. Upacara ini telah dilangsungkan secara turun-temurun selama bertahun-tahun dan tradisi ini tersurat pada lontar siwa purana. Uniknya, saat prosesi upacara ini berlangsung maka akan dilaksanakan pula tradisi cacah jiwa oleh seluruh masyarakat dengan cara membayarkan uang kepeng. Dari uang kepeng yang terkumpul, jumlah masyarakat Desa Kedisan dapat diketahui. Uang kepeng hasil cacah jiwa yang terkumpul kemudian akan ditanam dihalaman pura dengan maksud agar jumlah masyarakat tersebut tersampaikan kepada Ida Bhatara yang bersemayam di Pura Dalem.
Desa Kedisan juga merupakan salah satu desa penghasil kerajinan patung dari kayu. Anda dapat menemukannya di Banjar Bayad, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar. Berbagai jenis patung seperti patung Buddha, patung binatang seperti kucing, gajah dan lainnya dipahat para pengrajin dari Belalu Bali (albesia). Saat mengunjungi kawasan pengrajin kayu ini, Anda dapat langsung menyaksikan proses pembuatannya, mulai dari pemilihan kayu, proses mengukir, pengecatan, hingga tahap penyelesaian akhir pembuatan patung. Selain patung, para pengrajin juga membuat kerajinan mozaik yang berbahan dasar kaca. Kerajinan patung di Desa Kedisan sudah ada sejak 1970-an.
Masyarakat pelestari Kesenian Gambuh juga berada dan bernaung di bawah naungan Desa Adat Kedisan. Kesenian Gambuh adalah sejenis kesenian tari yang melibatkan sejumlah penari dan pemain gamelan yang perlu dilestarikan. Masyarakat pelestari kesenian ini terkumpul dalam sebuah organisasi (sekaa) yang bernama Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri. Kaga Wana Giri memiliki arti burung yang terdapat di sebuah gunung yang berhutan. Nama kaga adalah sama artinya dengan kedis, yaitu nama burung yang merupakan nama dari Desa Kedisan. Wana adalah alas (hutan), semetaran giri adalah gunung.