Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:50872

Beranda » Pantai Balekambang » Jalani Dhipuja: Upacara Penyucian Umat Hindu di Kota Malang

Jalani Dhipuja: Upacara Penyucian Umat Hindu di Kota Malang

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Balekambang Beach, Malang, East Java

  2. Balekambang Beach, Malang, East Java

  3. Pantai Balekambang/Balekambang Beach

  4. Pantai Balekambang/Balekambang Beach

  5. Pantai Balekambang/Balekambang Beach

  6. Pantai Balekambang/Balekambang Beach

  7. Pantai Balekambang/Balekambang Beach

 

Tinjauan

Apabila Anda berkesempatan mengunjungi Pantai Balekambangan dan melihat ribuan umat Hindu tumpah di pantainya maka jangan heran. Saat itulah sedang berlangsung sebuah upacara Hindu bernama Jalani Dhipuja. Anda akan menyaksikan umat Hindu dari berbagai penjuru di Kota Malang mengusung beragam jenis sesajen ke pantai yang berarus deras dan dikenal sebagai Tanah Lot Jawa tersebut.

Jalani Dhipuja adalah salah satu ritual keagamaan terpenting bagi umat Hindu di Malang yang memang selalu dilaksanakan di Pantai Balekambangan, Malang, Jawa Timur. Sebagaimana diketahui, bahwa pantai cantik yang berjarak sekira 70 km dari pusat kota ini memiliki tiga pulau batu karang dimana di salah satunya berdiri sebuah pura Hindu. Pura ini bernama Pura Ismoyo (sesuai nama pulau tempatnya berada) namun juga dikenal dengan nama Pura Amerta Jati.

Di pura sakral yang berdiri anggun di atas pulau batu karang inilah, upacara Jalani Dhipuja seringkali dipusatkan. Untuk mencapai Pulau Ismoyo tempat Pura Amerta Jati berdiri menantang samudera luas, terdapat sebuah jembatan seluas 1,5 meter dengan panjang sekira 100 meter sebagai penghubung antara pulau dan garis pantai.

Upacara Jalani Dhipuja selalu dilaksanakan 3 hari sebelum hari raya Nyepi dan meliputi serangkaian ritual keagaaman. Di Pulau Bali, upacara serupa, yaitu yang dilaksanakan 3 hari menjelang Nyepi, disebut Melasti. Inti dari perayaan Jalani Dhipuja adalah penyucian; dalam hal ini menyucikan jagat alit dan jagad gede (dunia kecil dan dunia besar). Hal yang dimaksud jagat alit adalah manusia itu sendiri yang dipercaya sebagai perwujudan dari bagian kecil alam semesta. Sementara itu, jagad gede adalah tentunya alam semesta beserta isinya, tempat manusia hidup dan berkehidupan.

Salah satu kelengkapan upacara yang terpenting dan tak boleh tidak adalah disediakannya jolen (sesajen) yang akan dilarung ke laut. Larung jolen ini merupakan simbolisasi atau ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi atas semua rezeki yang mereka terima selama ini, khususnya kepada Sang Hyang Baruna yang menguasai laut. Selain itu, pelarungan sesajen tersebut juga bermakna permohonan keselamatan dan dijauhkan dari segala mara bahaya di masa yang akan datang.

Jolen atau sesajen yang dibawa untuk dipersembahkan biasanya terdiri dari lima unsur, yaitu palem, patrem, puspem, toyem dan dupem (buah, daun, bunga, air, dan dupa). Kelima unsur tersebut dipercaya sebagai lambang atau mencerminkan hidup manusia. Jolen yang dibawa tiap daerah biasanya bentuk dan isinya berbeda-beda dan dihias sedemikian rupa. Sehari sebelumnya, masyarakat Hindu akan datang berbondong-bondong ke pura untuk mempersiapkan jolen dan keperluan upacara lainnya sehingga ritual jalani dhipuja dapat dilaksanakan dengan baik keesokan paginya.

Pagi-pagi sekali acara ritual dimulai dengan mendak ngarak Toyo Anyar yang sebelumnya disucikan dahulu di pura. Toyo anyar kemudian dibawa berarak untuk selanjutnya diserahkan kepada Pendeta Agung—Panaya Nirmala dan Putra Nirmala. Sebelum mulai dilarung ke laut, semua sesajen atau jolen juga akan disucikan oleh kedua pendeta tersebut dengan cara memanjatkan doa-doa.

Prosesi upacara sakral ini kemudian diakhiri dengan dilakukannya sembahyang Tri Sandya dan Kramaning Sembah bersama-sama di Pura Amerta Jati. Upacara jalani dhipuja ini adalah satu dari serangkaian upacara menjelang hari raya Nyepi. Selanjutnya, tepatnya keesokan lusa, umat Hindu Malang akan pula melakukan upacara Tawur Agung atau Ogohogoh di Stadion Gajahyana, Malang. Barulah keesokan hari setelah Tawur Agung, umat Hindu melakukan Nyepi dengan melaksanakan Tapa Berata penyepian.

Dalam melakukan upacara Nyepi, tidak ada yang boleh melakukan kegiatan apapun kecuali melakukan perenungan di rumah. Terdapat empat pantangan (catur brata penyepian) yang wajib dipatuhi umat Hindu hari itu, yaitu tidak menyalakan lampu (Amati geni), tidak melakukan kegiatan (Amati karya), tidak bepergian (Amati lelungan), dan terakhir adalah tidak berekreasi atau bersenang-senang (Amati lelanguan).

Pura Luhur Amertha Jati diresmikan pada 1985 oleh bupati Malang saat itu, Edi Slamet. Pura yang bentuknya tidak mirip dengan pura di Bali namun lebih mirip candi-candi kuno di Jawa Timur ini dibangun berdasar keputusan dari Pemerintah Kabupaten Malang untuk memberikan pelayanan kepada umat beragama, khususnya umat Hindu. Terlebih lagi, potensi wisata Pantai Balekambang yang mirip dengan Pulau Besakih di Bali, dimana sama-sama memiliki 3 pulau juga turut mendorong pemerintah setempat untuk membangun pura tersebut. Hal ini terkait dengan usaha meningkatkan pariwisata, terutama di pantai selatan Malang. Seiiring dengan itu, fasilitas dan akomodasi penunjang kegiatan berwisata pun dibangun di Pantai Balekambang.  

Sejak awal diresmikan, Pantai Balekambang menjadi salah satu pusat kegiatan ritual keagamaan Hindu dan sekaligus sebagai aset pariwisata daerah. Pada saat-saat perayaan upacara keagamaan, Pantai Balekambangan yang menawan akan dipadati ribuan pengunjung, mulai dari umat Hindu selaku pelaksana upacara jalani dhipuja atau pun masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan dari dekat upacara tersebut.

Selain jalani dhipuja, di Pantai Balekambangan yang menawan dengan pasirnya yang putih ini juga sering menjadi tempat diadakannya Suro’an, yaitu sebuah perayaan tahun baru Jawa.

Lihat dalam Peta

Jalani Dhipuja: Upacara Penyucian Umat Hindu di Kota Malang

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Olahraga Air

Olahraga Air Dengan lebih dari 17.000 pulau dan koleksi pantai yang memukau, danau yang masih murni dan sungai yang mengalir deras, rasanya sulit untuk ditemukan...

selengkapnya

Berjalan-jalan

Berjalan-jalan Berjalan-jalan selama setengah hari atau sehari penuh di hari libur atau diantara acara konferensi selalu menjadi pengantar yang indah dalam tujuan...

selengkapnya