Dari Ruteng ibukota kabupaten Manggarai, petualang akan memperoleh berbagai pilihan atraksi dan daya tarik, mulai dari fenomena budaya, sejarah, alam, hingga religi yang berusia sangat tua.
Kapel atau Chapel Ruteng berdiri tepat di tengah kota dengan dua menaranya yang menjulang walau usianya telah melampaui puluhan tahun. Ruangannya dipenuhi tiang-tiang berseni dengan suasana khidmat.
Tak jauh
!DOCTYPE>
Dari Ruteng ibukota kabupaten Manggarai, petualang akan memperoleh berbagai pilihan atraksi dan daya tarik, mulai dari fenomena budaya, sejarah, alam, hingga religi yang berusia sangat tua.
Kapel atau Chapel Ruteng berdiri tepat di tengah kota dengan dua menaranya yang menjulang walau usianya telah melampaui puluhan tahun. Ruangannya dipenuhi tiang-tiang berseni dengan suasana khidmat.
Tak jauh dari sana, terlihat Gunung Anak Ranaka yang sering dikunjungi oleh wisatawan untuk menikmati kekayaan faunanya terutama burung. Kegiatan bird watching sudah menjadi bagian dari apa yang dikenal terkait Gunung Anak Ranaka.
Ruteng Pu’u atau Compang Ruteng dikenal sebagai cikal bakal terbentuknya kota Ruteng. Di sini rumah tradisional masih dapat dinikmati bersama dengan altar yang berada di tengah kampung. Masyarakatnya bertani beberapa komoditi unggulan seperti jambu mete, kopi, kopra, kemiri, dan kakao. Anda dapat melihat mereka menjemur produk pertanian tersebut di areal dekat rumah sehingga hal ini menjadi pemandangan menarik.
Salah satu daya tarik terbaik yang ditawarkan Manggarai ialah Liang Bua, tempat dimana Homo floresiensis pernah ditemukan, digali, diteliti, dan kembali disimpan di kedalaman tanah yang berada di mulut gua primitif. Keberadaan Homo floresiensis ini menggoyahkan teori penyebaran manusia dan peradabannya yang konon diperkirakan berawal dari Afrika. Akan tetapi, pada waktu yang hampir sama, di Ruteng tepatnya di Liang Bua, manusia kerdil dengan peradaban yang hampir sama sudah muncul.
Di Ruteng, angkutan kota tersedia menuju Liang Bua. Bila menggunakan kendaraan pribadi atau sewaan, silakan menuju Desa Ru’ah yang berada di jalur antara Ruteng dan Liang Bua tepatnya Jalan Ruteng-Reo. Setelah kira-kira 2,5 kilometer terdapat belokan ke kiri ke arah Liang Bua dan sekitar 11,5 kilometer Liang Bua akan ditemukan di sebuah daerah yang bisa dibayangkan 50 tahun lalu masih sebuah gua yang dimanfaatkan sebagai sekolah dasar oleh seorang pastor.
Wae Rebo kini menjadi andalan Manggarai sebagai salah satu kabupaten yang menawarkan budaya masyarakat aslinya. Wae Rebo sungguh memukau, terletak di antara kaki gunung dan bukit-bukit yang menghijau. Rumah-rumah tradisional dengan bentuk kerucut berdiri dalam formasi melengkung dengan lapangan di tengahnya. Wae Rebo sungguh tidak ada duanya dalam konteks bentuk arsitektur dan fungsinya. Perjalanan menuju Wae Rebo cukup panjang dengan memakan waktu hingga berjam-jam dan perlu seorang pemandu untuk dapat menangkap semua informasi yang ada di dalamnya. Bahasa daerah yang digunakan di Wae Rebo belum tentu dapat difahami oleh semua orang walau berasal dari Flores.
Cancar ialah kawasan di Desa Cara sekitar 17 kilometer dari Ruteng. Kawasan ini begitu tersohor di kalangan petualang dan pengunjung yang sengaja datang ke Ruteng karena formasi lahan sawahnya yang unik. Pembagian lahan sawah dilakukan secara tradisional yang disebut lingko. Penentuan lingko ini begitu unik dan bersendi pada tali kepercayaan kepadaTuhan langit dan Tuhan bumi sehingga terbentuk lingkaran petak sawah yang menyerupai jaring laba-laba. Tentu saja hal ini dapat dilihat dari atas bukit agar semua lingkaran-lingkaran sawah yang dimiliki oleh masing-masing klan bisa dengan jelas Anda lihat.
Menuju ke arah Manggarai Barat, Desa Melo dapat dijumpai di tepi jalan dimana masyarakatnya akan dengan senang hati menerima tamu kehormatan. Tradisi menerima tamu dengan simbol menggunakan transaksi berupa uang yang sangat filosofis dilakukan sebelum tamu diundang makan. Mereka akan menjamu tersebut di rumah tamu yang nyaman menghadap ke kaki bukit yang luas panoramanya. Di desa ini tamu akan dikejutkan oleh sebuah tarian perang yang luar biasa dan mencengangkan yaitu caci yang dimainkan oleh kelompok Compang To’e. Di sini beberapa penari caci akan memainkan peran penyerang dan penangkis. Mereka lengkap berkostum tradisional serta lagu dan tradisi berkomunikasi dengan penonton. Untuk memesan pertunjukan caci sekaligus paket penerimaan tradisi dan makan siang maka bisa dipesan dengan biaya sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta untuk 25 orang.