Kawasan Kota Tua Batavia memiliki beberapa museum yang saling berdekatan, salah satunya adalah Museum Wayang di Jalan Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Kota. Museum ini memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia dan mancanegara yang terbuat dari kayu, kulit, maupun bahan lainnya.
Museum Wayang ini juga memamerkan boneka-boneka yang berasal dari Eropa, Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia yang beragam wayang seperti wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, wayang beber dan gamelan.
Wayang Indonesia telah diakui oleh UNESCO pada 7 November 2003 sebagai warisan dunia dari Indonesia. Anda dapat turut berapresiasi dengan mengunjungi Museumnya.
Kini Museum Wayang memiliki sekitar 5.147 koleksi wayang yang berasal dari sejumlah daerah di tanah air seperti Sunda, Jawa, Bali, Lombok dan Sumatera. Ada pula wayang mancanegara seperti dari Malaysia, Suriname, Perancis, Kamboja, India, Amerika, Inggris, Thailand, dan Vietnam. Bentuknya sangat beragam baik bentuk maupun coraknya.
Di museum ini juga terdapat seluruh perlengkapan seputar perwayangan mulai dari alat penerangan yang digunakan untuk membuat bayangan di belakang layar yang disebut Lampu Blencong. Ada pula instrumen pengiring seperti gamelan dan panggung yang biasa dipakai untuk panggung boneka.
Wayang berasal dari kata ‘bayang-bayang’. Awalnya wayang digunakan untuk melakukan komunikasi dengan roh leluhur atau nenek moyang dengan perantaranya yaitu dalang.
Gedung Museum Wayang sebelumnya merupakan gereja yang didirikan VOC tahun 1640 dengan nama “de oude Hollandsche Kerk”. Gereja tersebut untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara Belanda hingga tahun 1732. Tahun 1808 gedung ini hancur akibat gempa, selanjutnya tahun 1921 dibangun gedung bergaya Neo Renaissance yang fungsinya sebagai gudang milik perusahaan Geo Wehry and Co. Tahun 1938 seluruh bagian gedung ini dipugar dan disesuaikan dengan gaya rumah Belanda. Berikutnya tahun 1839 gedung ini dibuka sebagai museum dengan nama Museum Batavia oleh Gubernur Jenderal Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer.
Tahun 1957 museum ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) dan sejak itu nama museum diganti menjadi Museum Jakarta Lama. Pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Dekdipbud (kini Kemenbudpar) RI yang selanjutnya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang yang peresmiannya dilakukan pada 13 Agustus 1975 oleh Gubernur DKI Jakarta yaitu Ali Sadikin.