Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.75/5 (2 votes)
 

Dilihat:144127

Beranda » Taman Nasional Wakatobi » Pogeraha Adara dan Pulau Muna: Hiburan Naluri Purba Rakyat Pulau Kuda

Pogeraha Adara dan Pulau Muna: Hiburan Naluri Purba Rakyat Pulau Kuda

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Wakatobi

  2. Clown Fish

  3. Sunset

  4. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  5. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  6. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  7. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  8. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo courtesy by Indra Setiawan
  9. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  10. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  11. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  12. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  13. Pulau Tomia/Tomia Island

    Photo Courtesy by Indra Setiawan
  14. Wakatobi

  15. Wakatobi

  16. Wakatobi

  17. Wakatobi

  18. Wakatobi

  19. Wakatobi

  20. Wakatobi

  21. Wakatobi

  22. Wakatobi

  23. Wakatobi

  24. Wakatobi

  25. Wakatobi

 

Tinjauan

Keindahan bawah laut Wakatobi telah memukau banyak petualang. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa pesona budaya di atas daratannya juga tak kalah memukau. Salah satunya yang patut dilihat adalah atraksi di Raha, ibu kota Pulau Muna. Pulau Muna adalah sebuah pulau di lepas pantai Sulawesi Tenggara. Temukan di sini atraksi adu kuda tradisional yang dapat mengimbangi kepuasan nikmatnya keindahan bawah laut Wakatobi.

Masyarakat Muna mengenal adu kuda ini dengan sebutan Pogeraha Adara. Tradisi ini menggambarkan betapa kuda begitu penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Bisa jadi karena tradisi inilah pula kemudian Pulau Muna dikenal sebagai Pulau Kuda.  Salah satu yang kental dengan penamaan ini adalah penduduk Desa Lathugo di Kecamatan Lawa yang masih melestarikan Pogeraha Adara. Sehari-hari pun mereka banyak yang memakai kuda meski sarana transportasi sudah modern.

Setiap tahun sedikitnya 3 kali atraksi adu kuda digelar di lapangan terbuka Kecamatan Lawa, sekitar 20 km dari Raha. Acara ini biasanya digelar setiap HUT Kemerdekaan RI, Hari Raya Id Fitri, dan Id Adha. Kecuali itu Anda dapat menemukannya di Desa Lathugo, Kecamatan Lawa, karena di sini adu kuda diselenggarakan tiap bulan.

Saatnya Anda mencicipi pengalaman budaya yang berbeda, unik, dan menarik dalam Pogeraha Adaradi Pulau Muna

Atraksi ini adalah peninggalan raja-raja Muna. Awalnya pertunjukan adu kuda ini dimaksudkan sebagai penghormatan raja kepada tamu-tamu penting yang datang dari Pulau Jawa atau daerah lain. Sekarang, atraksi ini secara rutin digelar bertepatan pada hari-hari besar. Makna Pogeraha Adara mencerminkan kekuatan dan keuletan dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan sekalipun harus

Atraksi Pogeraha Adara dimulai dengan menampilkan kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan yang berbadan besar dan beringas. Di tempat lain, dimunculkan seekor kuda jantan dengan ukuran fisik sama besar. Kuda jantan itu akan berusaha mendekatkan dirinya ke kuda-kuda betina yang dipimpin seekor kuda jantan tadi. Akibatnya kuda jantan yang memimpin sejumlah kuda betina akan terpancing marah saat melihat kuda jantan asing mendekati kawanan kuda betinanya. Kedua kuda jantan sama besar ini telah dibuat gelisah dan saling iri satu sama lain hingga akhirnya bertarung. Siapa yang keluar sebagai pemenang maka akan mendapatkan kuda betina.

Kuda yang diadu adalah kuda jantan liar dari alam bebas. Uniknya, untuk menangkap kuda jantan liar tersebut tidak memakai laso tetapi seorang meintarano (pawang kuda) akan menirukan suara kuda betina sebagai pemancing. Jika kuda jantan mendekat maka sang meintarano tinggal menangkapnya. Kuda yang ditangkap kemudian dijinakan dan dilatih di sebuah lapangan dengan mengelus-elus hidung, telinga, hingga ke punggung kuda. Kuda yang diadukan tersebut khusus dipelihara memang untuk perkelahian.

Setelah perkelahian maka luka-luka  di badan kuda akan diobati dengan gerusan campuran karbon dari baterai bekas dan minyak tanah. Obat ini dipercaya mencegah infeksi dan luka akan cepat mengering. Setelah sembuh kuda aduan itu akan dilepaskan kembali ke alam bebas untuk kemudian suatu hari mungkin ditangkap kembali untuk memenuhi naluri purba rakyat Pulau Kuda.

 

Pulau Muna dan Kisah Epik “I La Galigo”

Dalam sejarah Pulau Muna yang dikenal sebagai Tanah Wuna. Jules Couvreur, seorang peneliti Belanda (1933-1935) menulis dalam jurnalnya secara mendalam tentang sejarah kerajaan Wunayang ada hubungannya dengan Buton.

Karyanya Couvreur kemudian dipublikasikan oleh Dr. Renevan Den Berg, seorang profesor linguistik dan peneliti bahasa Munadari Darwin, Australia. Rene menerjemahkan jurnal tersebut ketika Couvreur meninggaldi Den Haag tahun 1971 dalam usia 70 tahun.

Menurut Couvreur, 'Wuna' dalam bahasa Muna berarti 'bunga', Disebut begitu karena tidak jauh dari Kota Wuna itu terdapat sebuah bukit batu karang yang menyerupai bunga. Tebing ini disebut 'bahutara' atau 'bahtera' yang berarti perahu besar atau sebuah bahtera. Bahtera ini dikaitkan dengan Sawerigading yaitu tokoh karakter dalam kisah epik legendaris “I La Galigo”.

I La Galigo” adalah kisah epik terpanjang di dunia sekaligus lebih tua dari “Mahabharata”. Bahasa dalam epik legendaris ini adalah bahasa Bugis kuno. Sawerigading merupakan asli rakyat Wuna dan ayah dari La Galigo yang merupakan tokoh utama dalam epik “I La Galigo”. Meskipun Sawerigading dan La Galigo tidak pernah menjadi raja tetapi mereka berdua digambarkan sebagai petualang, pengembara, kapten kapal, dan pahlawan yang tak terkalahkan. Salah satu putra I La Galigo itu, La Tenritatta, pernah menjadi raja di Luwu, Sulawesi Selatan.

Dalam epik “I La Galigo”, Sawerigading dan I La Galigo digambarkan sebagai penakluk binatang besar dimana orang-orang pada umumnya di pulau Muna menjadikan adu kuda sebagai tradisi yang senantiasa dihidupkan. Menurut cerita bahwa orang yang datang ke Muna tidak bisa berjalan tegak dan dilarang berkuda. Kuda, rusa, dan anoa merupakan hewan endemik Sulawesi dan hanya bisa ditunggangi oleh raja-raja di wilayah tersebut.

Seperti dijelaskan Couvreur bahwa Kerajaan Wuna tidak pernah didirikan secara resmi sampai raja yang ke-7, La Kila Ponto (1538-1541) membangun benteng mengelilingi kerajaan dengan panjang 8 km, tinggi 4 meter, dan lebar 3 meter. La Kila Ponto kemudian diresmikan sebagai raja Buton dan Wuna diserahkan ke La Posasu, adik La Kila Ponto.

Saat ini, benteng yang mengelilingi kerajaan tersebut masih berdiri berpadu bersama masjid agung bergaya rumah Buton. Masjid tersebut dibangun pada 1712, kemudian direnovasi pada 1933 oleh La Ode Dika, salah satu raja Muna (1930-1938). La Ode Dika menerima bantuan dari Jules Couvreur untuk mengembangkan masjid tersebut. La Ode Dika dijuluki oleh Couvreur sebagai 'Komasigino' atau 'pendiri masjid'. La Ode Dika memiliki 14 anak dan beberapa dari mereka menjadi beberapa pemimpin lokal Sulawesi Tenggara.

Acara Terkait

01-31

Jan 2015

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Pogeraha Adara dan Pulau Muna: Hiburan Naluri Purba Rakyat Pulau Kuda

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Diving & Snorkeling

Diving & Snorkeling Rumah bagi seperempat kehidupan laut dunia, Kepulauan Indonesia termahsyur akan diving kelas dunia dan keindahan bawah laut yang memukau. Selami dan...

selengkapnya