Sumenep merupakan Kabupaten di Jawa Timur yang berada di ujung Timur Pulau Madura dan merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah Pulau Madura. Kota ini cukup tua, bahkan sebelum Majapahit berdiri, Sumenep sudah berdiri. Sejarah bahkan mencatat, saat itu Arya Wiraraja (Adipati Sumenep) pernah membantu Raden Wijaya yang akan mendirikan Majapahit untuk mendapat sejengkal tanah di Desa Tarik. Karena sungkan dengan Arya Wiraraja maka Raja Kediri saat itu akhirnya memenuhi permintaan tersebut.
Memasuki kota Sumenep maka Anda akan merasakan suasana sangat berbeda dengan kota lainnya di Madura. Logat dan tutur bahasa serta cara berpakaiannya berbeda dengan masyarakat Madura pada umumnya. Logat mereka sama seperti logat bahasa Jawa (kromo inggil) yang santun. Cara berpakaian masyarakatnya pun berbeda dengan daerah lain di Madura.
Sumenep dikatakan sebagai benteng budaya Madura, hal ini bisa kita lihat dari sisa-sisa kebesaran kerajinan Sumenep yang berjejak pada sejumlah bangunan-bangunan kuno dan kerajinan rakyat, salah satunya adalah Batik Tulis Sumenep. Semua peninggalan kerajaan ini dapat Anda nikmati di Museum dan Keraton Sumenep.
Untuk informasi geografis bagi Anda, letak Kabupaten Sumenep berada di ujung Pulau Madura, yaitu 113° 32'54" - 116° 16' 48" Bujur Timur dan 4° 55' - 7° 24' Lintang Selatan ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Sumenep atau dalam bahasa Madura disebut Songènèb adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki luas 2.093,457573 km² dengan populasi ±1 juta jiwa. Di Utara berbatasan dengan Laut Jawa, di Selatan ada Selat Madura, di Barat dengan Kabupaten Pamekasan, dan di Timur ada Laut Jawa dan Laut Flores.
Bagian daratannya seluas 1.146,927065 km2 terbagi atas 18 kecamatan, yaitu Ambunten, Batang-Batang, Batu Putih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Guluk-Guluk, Kalianget, Lenteng, Manding, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, Batuan, dan Sumenep Kota. Sementara itu bagian kepulauan luasnya 946,530508 km2 yang terbagi atas 9 kecamatan, yaitu Arkasa, Gayam, Giligenteng, Masalembu, Nonggunong, Raas, Sapeken, Talango, dan Kangean. Jumlah pulau di Kabupaten Sumenep sebanyak 126 pulau. Pulau yang berpenghuni sebanyak 48 pulau, tidak berpenghuni 78 pulau, yang telah diberi nama 104 pulau, serta yang belum diberi nama ada 22 pulau.
Deretan Kepulauan Kangean di timur Pulau Madura ibarat gadis berbanjar yang menari. Selain itu masih ada lagi Pulau Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, dan Pulau Raja. Kawasan kepulauan ini disebut juga sebagai objek wisata Island Resort. Objek wisata itu menawarkan birunya laut yang jernih, lekuk pantai dan terumbu karang yang sudah mati menjadi batuan, serta kesunyian yang menenangkan. Semua itu bisa Anda nikmati dengan biaya relatif murah.
Madura dikenal memiliki gambaran masyarakat bertemperamen keras, memiliki budaya karapan sapi dan carok yaitu perkelahian dengan senjata clurit antarlelaki hingga tewas. Keadaan tanah tandus dan udara panas itu mengesankan
Madura sebagai pulau yang tak punya pepohonan hijau dan panorama alam yang elok dipandang mata. Nah, anggapan tersebut tidak seutuhnya benar. Pulau terbesar di Provinsi Jawa Timur ini memang tandus dan panas. Namun, ini tak berarti Pulau Madura tidak memiliki potensi wisata yang mempesona. Bila tak percaya maka cobalah datang ke daerah paling timur ”Pulau Garam’‘, yaitu Kabupaten Sumenep dan dapatkan pengalaman mengesankan di sini.
Masyarakat kabupaten Sumenep sangat ramah karena adanya pengaruh budaya kalem keraton Jawa yang dianut masyarakat terutama para bangsawan dan abdi dalem Keraton Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep pada masa kolonial dikuasai oleh keluarga keadipatian Madura, yaitu keluarga Cakraningrat.
Untuk menuju kota Sumenep Anda dapat menggunakan jalur darat melalui jembatan Suramadu dari Surabaya langsung menuju Madura. Perjalanan dari Pelabuhan Kamal ke kota Sumenep dapat ditempuh dengan bus maupun minibus dengan lama perjalanan sekitar 3 jam.
Berwisata di Sumenep setidaknya perlu lebih dari sehari. Sebab untuk menikmati keindahannya Anda harus menyusuri laut menuju deretan kepulauan ini. Setelah lelah naik kapal menyusuri kepulauan maka Anda bisa beristirahat di sejumlah penginapan dan hotel di Kota Sumenep. Kemudian melanjutkan berwisata darat, yakni Masjid Agung, Keraton Sumenep, situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, Pantai Lombang, se
Berwisata di darat maka wajib mengunjungi Keraton Sumenep yang terletak di pusat kota sekitar alun-alun Kabupaten Sumenep. Keraton Sumenep dikenal dengan sebutan “Potre Koneng” atau Putri Kuning yaitu merujuk kepada seorang permaisuri Keraton Sumenep, Ratu Ayu Tirto Negoro yang memiliki kulit kuning bersih yang berasal dari negeri Cina. Bahkan untuk menghormati sang permaisuri maka atap keraton diberi warna kuning cerah. Bangunan ini didirikan pada paruh kedua abad ke-18 atas prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau Tumenggung Arya Nata Kusuma. Diarsiteki seorang China bernama Liaw Piau Ngo yang memadukan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa.
Sebelum memasuki keraton, Anda akan disambut gapura dengan nama “Labang Mesem”. Dalam bahasa Indonesia “labang” berarti pintu, dan “mesem” adalah senyum. Gapura ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung. Di sisi kanan keraton, terdapat “Kantor Koneng”, yaitu ruang kerja raja Sumenep yang sekarang difungsikan sebagai museum. Ruangan ini berisi koleksi peralatan rumah tangga keraton. Di luar keraton, Anda juga dapat mengunjungi Masjid Jamik Sumenep yang di bangun satu masa dengan keraton ini juga. Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun tahun 1779 M sampai 1787 M oleh Panembahan Sumolo dari Kraton Sumenep.