Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
0.00/5 (0 votes)
 

Dilihat:18199

Beranda » Piramida Cartensz: Gunung Tropis Bersalju Abadi

Piramida Cartensz: Gunung Tropis Bersalju Abadi

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. cartenz

  2. cartenz 1

  3. cartenz 2

  4. cartenz 3

  5. cartenz 4

  6. cartenz 5

 

Tinjauan

Heinrich Harrer, penulis buku terkenal yang menulis “Tujuh Tahun di Tibet”, selalu terpesona oleh Puncak Jayawijaya di Papua. 12 tahun setelah kembali dari Tibet pada tahun 1950, Heinrich Harrer bersama dengan tiga temannya, Temple, Kippax dan Huizinga, memutuskan untuk menaklukkan Puncak Jayawijaya. Pada tahun 1962 mereka menjadi pendaki pertama yang mencapai puncak Carstensz (Jayawij

Heinrich Harrer, penulis buku terkenal yang menulis “Tujuh Tahun di Tibet”, selalu terpesona oleh Puncak Jayawijaya di Papua. 12 tahun setelah kembali dari Tibet pada tahun 1950, Heinrich Harrer bersama dengan tiga temannya, Temple, Kippax dan Huizinga, memutuskan untuk menaklukkan Puncak Jayawijaya. Pada tahun 1962 mereka menjadi pendaki pertama yang mencapai puncak Carstensz (Jayawijaya), salah satu dari 7 gunung tertinggi di dunia.

Puncak Jayawijaya, lebih dikenal oleh para pendaki gunung sebagai Piramida Carstensz yang memiliki ketinggian 4.844 meter di atas permukaan laut, dan selama berabad-abad telah manarik minat -gletser abadi khatulistiwa terutama para petualang dan pendaki gunung yang ingin mencapai gletser. Pada 1623, seorang penjelajah Belanda, Jan Carstensz, melihat gunung yang tertutup salju dan menamakan gunung itu dengan nama belakangnya. Fenomena alam ini sangat jarang karena es alami biasanya tidak turun di sepanjang khatulistiwa. Sayangnya, penurunan gletser yang signifikan telah ditemukan pada beberapa lokasi seperti di Puncak Trikora dan Glacier Meren antara 1939, 1962 dan 1994 hingga tahun 2000. Salju abadi yang luas ini masih sangat mengagumkan.

Pendakian ke puncak memerlukan teknik khusus dan mendaki medannya hanya direkomendasikan bagi pendaki yang berpengalaman. Terdapat tiga pendakain tersulit dari lima titik pendakian. Menjadikan puncak ini sebagai salah satu puncak paling sulit untuk ditaklukan di dunia, dan puncak tertinggi antara Andes dan Himalaya, jika Anda behasil menaklukkan Puncak Carstensz maka jeritan kemenangan dan kegembiraan akan Anda teriakan di puncak Jayawijaya.

Tampilkan Lebih

Lihat dalam Peta

Transportasi

Ada sejumlah perusahaan yang khusus melayani perjalanan dan pendakian ke Jayawijaya. Biasanya, pendaki berkumpul di Bali dan terbang ke Timika, Papua, dan kemudian ke Nabire. Nabire adalah kota paling dekat dengan rute pendakian. Pendaki juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi suku Dani di Lembah Baliem dalam perjalanan pulang. Perjalanan dengan operator wisata berpengalaman atau dengan pemandu

Ada sejumlah perusahaan yang khusus melayani perjalanan dan pendakian ke Jayawijaya. Biasanya, pendaki berkumpul di Bali dan terbang ke Timika, Papua, dan kemudian ke Nabire. Nabire adalah kota paling dekat dengan rute pendakian. Pendaki juga memiliki kesempatan untuk mengunjungi suku Dani di Lembah Baliem dalam perjalanan pulang. Perjalanan dengan operator wisata berpengalaman atau dengan pemandu sangat dianjurkan.

Garuda Indonesia, Kartika, dan Merpati memiliki penerbangan ke Papua dari Jakarta atau Denpasar, Bali. Biasanya, mereka transit di Makassar sebelum ke Sorong, Timika, atau Biak, dan sampai di Jayapura.

Garuda terbang dari Jakarta ke Timika, dan Denpasar, Bali ke Timika. Kembali ke Jakarta atau Bali, Garuda terbang dari Timika, Biak, dan Jayapura. Lion Air terbang dari Nabire ke Ambon dan kemudian ke Denpasar, Bali.

Catatan: Trigana Air, Susi Air, dan Avia Star  terbang dari Timika ke Nabire.

Rute pendakian dibuka oleh penjelajah Indonesia telah dianggap sebagai rute paling aman, dimulai di desa-desa Ilaga, Boega, Hoya, Tsinga, dan beberapa desa lain yang melindunginya. Karena area pertambangan Freeport berada di zona gunung ini, membuat lebih sulit untuk mencapai puncaknya. Namun, rute ini, dikenal sebagai rute Sugapa-Suanggama, bekas pertambangan yang baik untuk dilalui oleh pejalan kaki dan pendaki.

Mengambil rute tradisional ini, pejalan kaki atau pendaki akan menghabiskan 22 hari di kaki gunung yang indah, berinteraksi dengan penduduk setempat [Lihat: Wamena], menikmati pemandangan indah, merasakan jalan berlumpur dan rawa, melintasi jembatan kayu, akhirnya mencapai akhir yang mendebarkan.

Tampilkan Lebih

Aktivitas Terkait

Berpetualang

Berpetualang Berparahu, trekking, berselancar, dan panjat tebing,  hanyalah  sebagian petualangan yang mendebarkan jantung yang ditawarkan Indonesia....

selengkapnya