Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.83/5 (6 votes)
 

Dilihat:164985

Beranda » Bandung » Sensasi Naik Ular Besi dari Jakarta ke Bandung: Wisata Sejarah Jalur Kereta Api Batavia-Parahyangan

Sensasi Naik Ular Besi dari Jakarta ke Bandung: Wisata Sejarah Jalur Kereta Api Batavia-Parahyangan

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Hotel Preanger

  2. Boscha 2

  3. Boscha 4

  4. Boscha 12

  5. Boscha 13

  6. Boscha 14

  7. Gedung Sate

  8. Bandung Institute of Technology

  9. Hotel Savoy Homan

  10. Hotel Grand Preanger

  11. Braga Street Gallery

  12. Braga Street at night

  13. Dago

  14. Flyover Pasupati

  15. Cihampelas Street at night

 

Tinjauan

Kali ini sensasi atraksi berwisata ke Bandung jangan melulu berbelanja baju dan kulinernya yang lezat. Mengapa tidak sekarang Anda merasakan petualangan dengan menaiki ‘ular besi’ rute Jakarta-Bandung. Jalur kereta api sepanjang 151 km ini akan Anda tempuh selama 3 jam.

Pertengahan abad 19, Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Parahyangan namun potensial sebagai penghasil kina dan teh. Jalur Batavia-Parahyangan sangat berkelok-kelok dan begitu sulit ditempuh apalagi dengan jalur kereta api. Mampukah jalur kereta dibangun di medan yang berat tersebut?

Rute kereta Jakarta-Bandung merupakan jalur indah yang dengan segudang cerita dan sejarah. Rute lintasan Jakarta-Bandung dibangun pada 10 April 1869 dan masih beroperasi hingga sekarang dengan masa tempuh 2 jam 45 menit. Saat itu kereta api memakai lokomotif uap C28 dengan kecepatan maksimal 90 kilometer per jam.

Jika Anda berangkat dari Jakarta (Stasiun Gambir), Anda dapat menggunakan Argo Parahyangan. Argo Parahyangan menyediakan kelas Executive ber-AC dan non AC. Untuk jadwal, silakan hubungi 022 – 426 6383 pada jam kerja.

Di atas kereta, Anda dapat merasakan hawa dingin nan nyaman sambil duduk di sebelah jendela dan mengamati lintasan kereta. Nikmatilah lanskap indah berbukit dan hijaunya pepohonan terutama saat kereta api ini memasuki wilayah Cikampek, Karawang, dan Bandung. Ada hamparan sawah menguning atau nan hijau sangat menyejukan mata.

Pemerintah Hindia Belanda terlanjur jatuh hati pada kota Bandung hingga kemudian membangun jalur kereta api Batavia-Parahyangan pada 16 Mei 1884. Berikutnya dari sekadar kota persinggahan kemudian Bandung jadi kota tujuan wisata bahkan tempat tinggal.

Selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Anda juga dapat menikmati pemandangan bangunan tua di Stasiun Transmisi Cikampek, Stasiun Lemah Abang, Stasiun Cikampek, dan Stasiun Karawang. Bangunan stasiun tersebut rata-rata dibangun akhir abad ke-19.

Zaman Hindia Belanda, lokasi Lemahabang, Karawang, dan Cikampek pernah menjadi lokasi perlindungan para pejuang kemerdekaan setelah sebelumnya direbut dari Hindia Belanda. Saat itu jalur ini digunakan sebagai jalur angkutan logistik pangan dan perang. Sekarang fungsinya beralih untuk angkutan batu bara ke sejumlah industri di Karawang, Bekasi, dan Cikampek.

Pada masa itu jalur Batavia-Bandung menjadi favorit warga Belanda. Mevrouw, meneer, Noni, dan tuan  asal Belanda juga warga Eropa lainnya sangat menikmati suguhan pemandangan indah dan hawa sejuk yang dilewati kereta api lokomotif uap C28.

Atraksi paling mengesankan adalah saat kereta melewati jembatan tua yang dibangun perusahaan kereta api masa Hindia Belanda yaitu Staatspoorweg Maatschappij (SS). Saat melintasi Purwakarta sampai Padalarang, Anda dapat memperhatikan 3 jembatan baja di Ciganea, Cisomang, dan Cikubang.

Jembatan Ciganea dan Cisomang memiliki panjang 223 meter setinggi 72 meter. Sementara jembatan Cikubang panjangnya 300 meter, ditunjang empat pilar baja seberat 122 ton, total berat bajanya adalah 394,5 ton. Anda pun akan melintasi Sungai Cikubang yang indah.

Semua jembatan tersebut dibangun tenaga ahli Belanda tahun 1869 dan tetap dipelihara hingga saat ini terutama pada bagian penghubung antara rangka baja utama.

Pemerintah Hindia Belanda mengoperasikan kereta api Vlugge Vier dengan kecepatan maksimal 90 km/jam. Kereta ekspres tersebut sungguh elit di zamannya.

Awalnya jembatan pendukung jalur kereta api yang dibangun pemerintah Hindia Belanda saat itu mencapai 400 unit. Semuanya dibangun di sepanjang jalur Jakarta-Bandung, lintas Cikampek dan Sukabumi. Akan tetapi yang paling menakjubkan untuk Anda lihat ada di tiga tempat yaitu di Ciganea, Cisomang, dan Cikubang.

Lewati jalur kereta di jembatan tanpa pagar di atas jurang maka akan merasakan tubuh terasa melayang. Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak membuka pintu jendela, apalagi pintu gerbong karena terpaan angin cukup kencang di ketinggian tersebut. Cukup amati dari jendela bagaimana sensasi jantung berdebar dan pemandangan jurang berpadu hamparan sawah dan sungai.

Kereta api Vlugge Vier adalah cikal bakal kereta api Parahyangan yang beroperasi sejak awal 1970-an kemudian dilanjutkan  KA Argo Gede. Setelah Tol Cipularang beroperasi, akhirnya perjalanan “Vlugge Vier” pun tersisihkan.

Satu lagi sensasi yang akan Anda rasakan dalam rute kereta api Bandung-Jakarta, lintas Cikampek dan Karawang, yaitu melewati Terowongan Sasaksaat. Terowongan ini berada di antara Purwakarta dan Padalarang serta merupakan lokasi yang banyak diperbincangkan karena menyimpan kisah mistis dan misteri masyarakat setempat.

Terowongan Sasaksaat memiliki panjang 950 meter menerobos Bukit Cidepong dengan dinding cukup tebal hingga konon sulit dihancurkan para pejuang kemerdekaan saat itu untuk menghentikan logistik tentara Hindia Belanda. Terowongan Sasaksaat dibangun dengan ketelitian sangat tinggi karena berada di tanah perbukitan. Saat dibangun tahun 1902 hingga 1904, terowongan ini telah menelan korban pekerja rodi yang cukup banyak dimana  jenazah mereka dikuburkan di sekitar terowongan tersebut. Karena itu pulalah penduduk Kampung Cipicung, Desa Sumurbandung, Kabupaten Bandung sering mengidentikannya dengan nuansa mistis dimana setiap tanggal 17 Agustus selalu diberi sesajen berupa seekor domba untuk menolak bala. Saat kereta melintasi desa ini maka Anda pun akan melihat banyak domba dan kambing berkeliaran di rerumputan.

Sesampainya Anda di Bandung maka jangan hentikan wisata sejarah kereta api ini. Lanjutkanlah dahulu ke kantor pusat PT KAI di Jalan Perintis Kemerdekaan, tidak jauh dari Jalan Braga. Anda dapat melihat gedung tua berarsitektur art deco dimana pintu dan jendelanya terbuat dari besi baja. Apabila berkenan mengapa tidak mengunjungi gudang suku cadang kereta di Jalan Cikudapateuh. Gudang ini masih aktif menyimpan beragam suku cadang kereta api dan terus diupayakan menjadi museum. (Him/Indonesia.travel)

Lihat dalam Peta

Sensasi Naik Ular Besi dari Jakarta ke Bandung: Wisata Sejarah Jalur Kereta Api Batavia-Parahyangan

Cari

Aktivitas Terkait

Diving & Snorkeling

Diving & Snorkeling Rumah bagi seperempat kehidupan laut dunia, Kepulauan Indonesia termahsyur akan diving kelas dunia dan keindahan bawah laut yang memukau. Selami dan...

selengkapnya

Kuliner

Kuliner Seribu satu menu, sejuta rasa, itulah kekayaan kuliner yang dimiliki Indonesia. Lidah Andapun diajak “traveling” mencicipi berbagai...

selengkapnya