Destinasi di Indonesia
Dilihat:136780
Beranda » Ambon Manise » Tari Lenso: Menemukan Jodoh ala Muda-Mudi Ambon
Tari Lenso: Menemukan Jodoh ala Muda-Mudi Ambon
Fixed Dimensions
-
White Sand Beach at Ambon
Beautiful beach in Ambon.
-
Old Mosque In Ambon
The antique and classic old mosque in Ambon.
-
Old Church in Ambon
Old Church in Ambon. Since colonialism era, and still remain.
-
Hukurila Cave
Hukurila Cave in underwater in Ambon.
-
Beauty Underwater in Ambon's Sea
Near side of Hukurila Cave in Ambon's underwater.
-
Beach of Ambon with traditional boat
Traditional boat for fishing and sailing in Ambon.
-
Heritage of World War II
Japanese bunkers, heritage of WWII in Ambon.
-
Mimic Octopus in Underwater
Rare creature of the Sea. Only in Ambon.
-
Martha Thiahahu Statue in Ambon
The well-known war hero from Ambon. The statue of Martha Thiahahu.
-
View of Pulau Tengah, Ambon
View of beautiful beach in Pulau Tengah, Ambon.
-
Diving in Pulau Tiga
Diving in Pulau Tiga, Ambon.
-
Beauty Underwater in Ambon's Sea
Beauty of underwater in Ambon.
Tinjauan
Dianugerahi keindahan alam bawah laut memesona serta daratan yang memamerkan berbagai eksotisme peninggalan sejarah menjadikan Maluku sebagai salah satu impian destinasi wisatawan nusantara juga mancanegara. Sebenarnya daya tarik yang dimiliki daerah ini selain alam juga seni budayanya yang istimewa seistimewa muda-mudinya yang berparas cantik dan rupawan. Salah satu kesenian Maluku yang istimewa adalah tari lenso.
Tari lenso sebenarnya tidak hanya ada di Maluku tetapi juga di Minahasa, Sulawesi Utara. Tari Lenso merupakan tari pergaulan muda mudi Maluku dan Minahasa. Sebagai tari pergaulan, tari ini tentunya ditarikan secara berramai-ramai oleh para wanita. Jumlah penarinya tidak terbatas namun biasanya berjumlah 6 sampai 10 orang.
Sebagai tari pergaulan, Tari Lenso sangat identik dengan kaum muda-mudi selain juga dikenal sebagai tari rakyat Maluku. Tari Lenso merupakan tari untuk mencari jodoh karena menjadi media bagi muda mudi Maluku untuk mencari pasangan hidup. Oleh sebab itu, Tari Lenso dipentaskan di keramaian seperti acara penikahan, panen cengkeh, tahun baru, atau acara lain dimana biasanya banyak muda mudi yang masih lajang berkumpul. Tarian ini juga sering dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan.
Menurut kabar tari lenso digemari oleh Bung Karno. Dahulu beliau sering menari tari lenso bersama-sama muda-mudi Maluku dan sering meminta tarian ini dipentaskan ketika menyambut tamu negara. Bahkan sang presiden sering mengajak tamunya untuk menari bersama-sama sebagai tanda suka cita dan penghormatan tentunya.
Tari Lenso berasal dari kata lenso yang berarti saputangan, sesuai dengan namanya, tarian ini menggunakan saputangan sebagai media utama dalam tarian. Istilah lenso hanya terdapat di daerah Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah dan beberapa daerah di kawasan Indonesia Timur.
Kostum yang dikenakan dalam tarian ini sangat beragam baik model dan warnanya. Umumnya mengenakan rok panjang lebar di bagian bawahnya dan atasan tangan panjang nampak seperti kebaya. Para penari nampak manis menggenakan kostum tarian ini belum lagi tatanan rambut yang disanggul dan disisipi bunga mawar berwarna putih dan merah menjadikan para penarinya begitu anggun.
Gerakan Tari Lenso tidak terlalu rumit bahkan terlihat sederhana namun keserhanaan itulah yang menjadikan tarian ini istimewa karena mudah ditarikan oleh siapa saja. Musik pengiringnya antara lain tambur minahasa, suling, kolintang (alat musik yang terbuat dari barisan gong kecil yang bersuara tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa), tetengkoren, dan momongan. Nada dalam musik pengiring ini ritmenya naik dan turun memberikan harmonisasi antara gerak dan musik.
Berbeda dengan tari maengket yang juga merupakan tari pergaulan dari Minahasa, Tari Lenso hanya ditarikan kaum wanita saja dan tidak berpasang-pasangan. Para penari membawa saputangan di kedua tanganya. Sapu tangan yang digunakan tidak dibatasi satu warna saja, namun warna yang sering dipakai adalah warna putih dan merah. Penggunaan kedua warna ini mungkin melambangkan cinta dan kasih sayang.
Ketika para penari mulai menari dan menggerakkan sapu tangan menggikuti garakan tangan dan gerak badan dalam posisi berdiri melenggang ke kanan-depan atau kiri-belakang dan posisi sedikit bertelut sambil menggerakkan badan dan tangan ke kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian, satu persatu pemuda yang menunggu akan bergantian naik ke atas panggung dan ikut menari bersama para penari begitu seterusnya. Ketika salah satu penari memberikan sapu tangan kepada salah satu pemuda maka menandakan cinta pria itu diterima dan sebaliknya jika salah seorang dari penari tidak memberikan sapu tangan kepada salah satu pemuda berarti cintanya ditolak. Pementasan tarian ini sangat menarik dimana para muda mudi dapat mencari jodoh atau mengungkapkan isi hati mereka dengan nyanyian dan tarian.
Keindahan tarian ini sudah tersohor sampai ke luar negeri. Pada 2012 lalu, beberapa muda-mudi Indonesia menampilkan tarian dalam acara Stage MDF di Tokyo Jepang. Jika Anda berkunjung ke Maluku maka tidak sulit untuk menikmati tarian ini karena hampir di setiap sanggar tari di Maluku mementaskan memiliki tarian ini. Apabila Anda sedang beruntung menemukan pesta pernikahan maka tentunya dapat menyaksikan tarian ini. Saat ini hampir di setiap sekolah dan sanggar tari menjadikan tari lenso karena menjadi salah satu pilihan tarian yang diajarkan. Hal ini sangat penting mengingat seni tari rakyat di Indonesia sudah mulai ditinggalkan oleh muda-mudi yang lebih tertarik dengan tari modern.
Acara Terkait
-
27 Sep 2013-29 Sep 2013
Festival Teluk Ambon 2013