Destinasi di Indonesia
Dilihat:137154
Beranda » Ambon Manise » Pukul Manyapu : Tradisi Seru yang Dinanti di Maluku Tengah
Pukul Manyapu : Tradisi Seru yang Dinanti di Maluku Tengah
Fixed Dimensions
-
White Sand Beach at Ambon
Beautiful beach in Ambon.
-
Old Mosque In Ambon
The antique and classic old mosque in Ambon.
-
Old Church in Ambon
Old Church in Ambon. Since colonialism era, and still remain.
-
Hukurila Cave
Hukurila Cave in underwater in Ambon.
-
Beauty Underwater in Ambon's Sea
Near side of Hukurila Cave in Ambon's underwater.
-
Beach of Ambon with traditional boat
Traditional boat for fishing and sailing in Ambon.
-
Heritage of World War II
Japanese bunkers, heritage of WWII in Ambon.
-
Mimic Octopus in Underwater
Rare creature of the Sea. Only in Ambon.
-
Martha Thiahahu Statue in Ambon
The well-known war hero from Ambon. The statue of Martha Thiahahu.
-
View of Pulau Tengah, Ambon
View of beautiful beach in Pulau Tengah, Ambon.
-
Diving in Pulau Tiga
Diving in Pulau Tiga, Ambon.
-
Beauty Underwater in Ambon's Sea
Beauty of underwater in Ambon.
Tinjauan
Teriknya Matahari tidak menyurutkan semangat dua kelompok pemuda bertelanjang dada yang berdiri tegap saling berhadapan. Dengan menggengam sapu lidi dari pohon enau yang masih segar sekira satu setengah meter, kedua kelompok tersebut mulai mengayunkan sapu lidi ke badan pemuda lainnya dengan semangat yang berkobar. Gerak kaki mereka menerbangkan debu ke angkasa seakan mengirimkan semangat menggelora ke udara. Darah mengalir memacu adrenalin lalu menciptakan suasana penuh ketegangan yang seru.
Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu merupakan atraksi unik dari Maluku Tengah yang biasanya dipentaskan di Desa Mamala dan Desa Morela, Kecamatan Leihitu, Ambon. Berlangsung setiap 8 syawal (penanggalan Islam) dimana telah berlangsung dari abad XVII yang diciptakan seorang tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuni. Tradisi ini dipertunjukkan sebagai perayaan keberhasilan pembangunan masjid yang selesai dibagun pada 8 syawal setelah Idul Fitri.
Tradisi ini juga dikaitkan dengan sejarah masyarakat setempat yaitu perjuangan Kapiten Tulukabessy beserta pasukannya pada masa penjajahan Portugis dan VOC pada abad ke-16 di tanah Maluku. Pasukan Tulukabessy bertempur untuk mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan penjajah meskipun perjuangan mereka gagal dan Benteng Kapapaha tetap jatuh juga. Untuk menandai kekalahan tersebut, pasukan Tulukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah.
Tradisi Pukul Manyapu dipandang sebagai alat untuk mempererat tali persaudaraan masyarakat di Desa Mamala dan Desa Morela. Dipertunjukan oleh pemuda yang dibagi dalam dua kelompok dimana setiap kelompoknya berjumlah 20 orang. Kedua kelompok dengan seragam berbeda itu akan bertarung satu sama lain. Kelompok satu menggunakan celana berwarna merah sedangkan kelompok lainnya menggunakan celana berwarna hijau. Pesertanya juga diwajibkan menggunakan ikat kepala untuk menutupi telinga agar terhindar dari sabetan lidi. Alat pukul dalam tarian ini adalah sapu lidi dari pohon enau dengan panjang 1,5 meter. Bagian tubuh yang boleh dipukul adalah dari dada hingga perut.
Ketika atraksi dimulai, kedua kelompok akan saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan. Ketika suara suling mulai ditiup sebagai aba-aba pertandingan dimulai kemudian kedua kelompok ini secara bergantian saling pukul menggunakan sapu lidi. Dimulai dengan kelompok bercelana merah memukul kelompok bercelana hijau atau sebaliknya. Ketika dimulai maka suara cambukan lidi di badan peserta akan terdengar dan darah pun keluar akibat sabetan lidi. Suasana ini akan membuat tubuh Anda bergidik.
Kehebatan dari tradisi pukul manyapu ini adalah bagaimana pesertanya seakan tidak merasa kesakitan walaupun tubuh mereka mengelurkan darah akibat dari sabetan lidi. Akan tetapi, jangan kaitkan itu dengan kekuatan mistis atau gaib, karena para peserta sebenarnya sudah melebur dalam semangat yang telah membenamkan rasa sakit.
Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut menggobati lukanya dengan menggunakan getah pohon jarak. Ada juga yang mengoleskan minyak nyualaing matetu (minyak tasala) dimana mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar.
Tradisi pukul manyapu merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu warga dan wisatawan setiap tahunnya. Anda dapat melihat proses pembuatan pohon enau menjadi sebuah lidi dan juga pengolahan minyak kelapa untuk pengobatan selepas tradisi ini. Selain itu, tradisi ini juga diramaikan dengan permainan rebana, karnaval budaya, dan pertunjukan tari lokal seperti tari putri, tari mahina, dan tari perang.
Acara Terkait
-
27 Sep 2013-29 Sep 2013
Festival Teluk Ambon 2013