Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
2.17/5 (3 votes)
 

Dilihat:234256

Beranda » Makassar » Perahu Sandeq: Menyaksikan Semangat Passandeq Mandar Berpacu di Lautan

Perahu Sandeq: Menyaksikan Semangat Passandeq Mandar Berpacu di Lautan

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Makassar

  2. Makassar

  3. Makassar

  4. Makassar

  5. Makassar

  6. Makassar

  7. Makassar

  8. Makassar

  9. Makassar

  10. Becak Makassar

  11. Makassar

  12. Benteng Rotterdam

  13. Benteng Rotterdam

  14. Makassar

  15. Makassar

  16. Makassar

  17. Makassar

  18. Masjid Amirul Mukminin, Pantai Losari, Sulawesi Selatan

  19. The City of Makassar

  20. Makassar

 

Tinjauan

Sandeq berasal dari bahasa Mandar yang artinya runcing. Konstruksi lebar badan dari perahu ini sangat tipis seperti pisau dan pada bagian layar berbentuk segitiga. Anda jangan tertipu ukurannya karena perahu ini sangat cepat di laut, dalam kondisi cuaca yang baik bisa melaju dengan kecepatan 15 sampai 20 knot/jam.

 

Perahu bercadik yang ujungnya berbentuk runcing (lancip) dan catnya rata-rata putih bersih ini telah mengajarkan nelayan muda Mandar untuk membaca arus, membaca angin, serta ritual yang ada di dalamnya. Selain itu sandeq juga dijadikan sebagai sarana transportasi para pedagang pada masa silam dengan mengarungi lautan untuk menjual hasil bumi tanah mereka.

 

Di dunia pariwisata dan pelayaran internasional perahu sandeq terkenal. Perahu sandeq mempunyai fungsi selain perahu penangkap ikan, juga setiap tahun dijadikan alat perlombaan olah raga bahari. Perahu Sandeg menjadi salah satu asset nasional dan  telah dipamerkan  di Paris, Perancis, juga dimuseumkan di Museum d’Histoire Naturelle dengan nama “Semangat Mandar”.

 

Selain digunakan untuk menangkap ikan, perahu sandeq juga digunakan untuk perlombaan yang diadakan setahun sekali di Pantai Manakarra Provinsi Sulawesi Barat, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun kemerdekan RI. Perahu ini sudah menjadi bagian dari pengembangan pariwisata sejak tahun 1995. Dimana lomba perahu sandeq dipertandingkan secara profesional oleh masyarakat suku Mandar yang diprakarsai oleh Horst H Liebner. Hingga saat ini, perlombaan perahu sandeq terus dilaksanakan, bahkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menjadikan lomba perahu sandeq sebagai salah satu kegiatan tahunan provinsi dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Pada mulanya, lomba sandeq itu disebut lomba pasar, karena sandeq disewa oleh para pedagang untuk mengangkut barang dagangan ke setiap pasar di desa pesisir antara Majene dan Mamuju. Saat itu, jalur laut sangat vital karena lebih cepat daripada transportasi darat yang masih terbatas. Kecepatan sangat dituntut oleh pemilik barang agar tiba di pasar yang ada di setiap desa lebih awal, sehingga sandeq  langsung bisa parkir di dekat pasar untuk meraup keuntungan berdagang. Passandeq  yang lambat tiba pasti akan dimarahi pemilik barang karena pasar sudah sepi, sehingga barang tak laku.

 

Saat ini lomba sandeq mengandung unsur kebanggaan yang sangat tinggi. Pemenang lomba akan terangkat status sosialnya, dan menjadi buah bibir di masyarakat. Kebanggaan sebagai passandeq itulah yang mendorong beberapa masyarakat untuk membuat sandeq yang khusus digunakan untuk lomba. Di luar lomba, sandeqnya hanya disimpan di kolong rumah panggungnya. Setiap bulan dicat ulang. Saat dekat perlombaan, sandeq akan dikeluarkan untuk latihan hingga hari perlombaan.

 

Awalnya Sandeq merupakan perahu layar tradisional khas masyarakat suku Mandar, pusat pembuatannya di Desa Bala, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.  Perahu Sandeq, mempunyai ciri khas yang membedakan dengan kebanyakan perahu bercadik lainnya. Memiliki bentuk yang elok nan cantik dengan panjang lambung kurang lebih 9-16 m dan lebar 0,5-1 m. Di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang, mengandalkan dorongan angin yang ditangkap layar berbentuk segitiga. Dilihat sekilas, perahu ini terkesan rapuh dan mudah rusak ketika melawan ombak. Akan tetapi, Anda akan terkesima ketika melihat kenyataannya perahu sandeq ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Mampu dipacu hingga kecepatan 15-20 Knot atau 30-40 Km/jam.  Sebagai perahu layar yang cantik dan juga cepat, perahu  sandeq ini juga mampu menerjang ombak yang besar sekalipun. Telah tercatat bahwa perahu sandeq mampu berlayar ke beberapa pulau di Nusantara, hingga ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar, Australia, bahkan Madagarkas.

 

Perahu sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna. Saat musim ikan terbang bertelur, nelayan menggunakan sandeq untuk memasang perangkap telur dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut, atau berburu rempah-rempah hingga Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar.

 

Menurut Horst H Liebner, peneliti sandeq asal Jerman, perahu sandeq merupakan perahu tradisional tercepat yang pernah ada di Austronesia. Perahu ini juga dikenal memiliki ketangguhan dalam menghadapi angin dan gelombang saat mengarungi laut lepas.  Hal ini menunjukkan, bahwa para pembuat perahu sandeq sangat cermat dalam merancang dan membuat perahu ini. Tidaklah berlebihan, karena memang masyarakat suku Mandar sangat memperhatikan proses pembuatannya dengan baik. Misalnya, pembuatan tiap perahu membutuhkan waktu antara 1,5 sampai 2 bulan. Karena lamanya waktu pembuatan tersebut  maka perahu yang dihasilkan pun memiliki kualitas yang bagus. Perahu Sandeg dibuat pertama kali oleh  masyarakat Rangas, Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae, sekitar 10 Km sebelah barat ibu kota Kabupaten Majene.

 

Pembuatan perahu sandeq tergolong unik, mulai dari awal sampai akhir. Proses pembuatan perahu dimulai dengan pemilihan bahan baku. Biasanya masyarakat setempat memilih jenis pohon kanduruang mamea yang sudah berumur tua. Jenis pohon ini jikalau sudah tua bila diolah untuk berbagai keperluan bisa bertahan lama dari segala terpaan cuaca. Pemilihan pohon yang berumur tua juga dikaitkan dengan perhatian masyarakat suku Mandar terhadap lingkungan dan alam sekitarnya dan menghindari penebangan tidak beraturan yang dapat menyebabkan rusaknya ekosistem hutan. Dengan cara ini, kelestarian alam tetap terjaga dan masyarakat terbebas dari ancaman bencana.

 

Bagi masyarakat suku Mandar, dahulunya perahu sandeq dimanfaatkan untuk mencari ikan di laut lepas di kala laut begitu tenang dan ikan mudah didapat. Tetapi, ketika kondisi sebaliknya, para nelayan Mandar lebih banyak memarkir kapal mereka di bibir pantai. Untuk mengisi waktu, terkadang mereka menggelar lomba adu cepat perahu sandeq. Biasanya, lomba yang diadakan hanya sebatas melatih kemampuan dalam melakukan manuver dengan cara memutari area yang telah ditetapkan, yaitu tiga titik lingkaran yang tidak jauh dari bibir pantai. (Him | www.indonesia.travel)

Lihat dalam Peta

Perahu Sandeq: Menyaksikan Semangat Passandeq Mandar Berpacu di Lautan

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Diving & Snorkeling

Diving & Snorkeling Rumah bagi seperempat kehidupan laut dunia, Kepulauan Indonesia termahsyur akan diving kelas dunia dan keindahan bawah laut yang memukau. Selami dan...

selengkapnya