Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
3.88/5 (4 votes)
 

Dilihat:210340

Beranda » Tana Toraja : Negerinya Orang Mati yang Hidup » Pasar Bolu dan Pasar Makale: Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

Pasar Bolu dan Pasar Makale: Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Toraja

  2. Toraja 1

  3. Toraja 2

  4. Londa

    Londa : cara masyarakat Tana Toraja (khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya
  5. Londa

    Londa : cara masyarakat Tana Toraja (khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya
  6. Londa

    Londa : cara masyarakat Tana Toraja (khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya
  7. Londa

    Londa : cara masyarakat Tana Toraja (khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya
  8. Londa

    Londa : cara masyarakat Tana Toraja (khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya
  9. Tongkonan

  10. Tongkonan

  11. Tongkonan

  12. Tongkonan

  13. Tongkonan

  14. Pasar Bolu&Pasar Makale

  15. Pasar Bolu&Pasar Makale

  16. Pasar Bolu&Pasar Makale

  17. Pasar Bolu&Pasar Makale

  18. Pasar Bolu&Pasar Makale

  19. Pasar Bolu&Pasar Makale

  20. Pasar Bolu&Pasar Makale

  21. Pasar Bolu&Pasar Makale

  22. Pasar Bolu&Pasar Makale

  23. Pasar Bolu&Pasar Makale

 

Tinjauan

Pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli atau tukar informasi. Lebih dari itu, pasar nyatanya memiliki peran penting yaitu sebagai wajah budaya dan jejak peradaban masyarakat di sekitarnya.

 

Pasar Bolu dan Pasar Makale adalah dua pasar di Tana Toraja yang mencerminkan budaya dan sekaligus tampilan peradaban masyarakat Toraja. Kedua pasar ini merupakan dua pasar terbesar di Kabupaten Tana Toraja.

 

Di masa lampau, budak, senjata api, dan kopi adalah beberapa komoditas utama dalam sistem perdagangan Toraja. Disebut-sebut juga bahwa sejak abad ke-17, Toraja sudah menjadi bagian dari sistem perdagangan global dengan memperjualbelikan budak yang dikirim hingga ke Siam.

 

Aktivitas perdagangan semakin meningkat pada pertengahan abad ke-19, dimana kopi dan senjata api turut menjadi komoditas perdagangannya. Kopi dan budak dikirim keluar Toraja, sementara senjata api dan kain dibawa masuk ke Toraja. Lokasi geografis Toraja yang berada di pegunungan dan sulit diakses rupanya tidak menjadi penghalang kegiatan perdagangan global tersebut.

 

Menurut Bigalke (1981) sistem hari pasar bergilir sudah dipraktekkan sejak abad ke-19. Pasar-pasar besar di bagian Utara Toraja pada masa itu terpusat di Pasar Kalambe (sekarang dikenal dengan Pasar Bolu) dan Pasar Rantepao (sekarang dikenal dengan Pasar Pagi Rantepao). Pasar-pasar tersebut hanya buka sekali dalam enam hari, dan buka secara bergiliran. Saat hari pasar berlangsung maka dapat mengundang pengunjung sekira 1500 hingga 5000 orang. Sedangkan untuk pasar yang kecil, pengunjung adalah 600 hingga 800 pengunjung. Masih menurut Bigalke (1981), pasar-pasar ini turut berperan dalam mengintegrasikan kelompok etnis Tana Toraja yang terpecah-pecah dan berperang satu sama lain.

 

Pada awal abad ke-20, saat pemerintahan kolonial menyentuh Toraja, penjualan budak dan senjata api terhenti. Komoditi pasar adalah terdiri dari hasil bumi (kopi, padi, buah, dan sayur-sayuran), produk-produk konsumtif (tembakau, gambir, sirih, dan pinang), dan produk-produk lain seperti rotan, tembikar, kerajinan bambu, kain, dan lain sebagainya.

 

Pasar tradisional Toraja di masa kini telah mengalami perubahan menyangkut sistem regulasi. Pasar-pasar tradisional Toraja sekarang dikelola oleh pemerintahan daerah dan dibagi dalam 5 kelompok. Dari 5 kelompok ini, 4 kelompok besar dikelola langsung oleh pemerintah, sementara satu kelompok yang terdiri dari pasar-pasar kecil dikelola langsung oleh desa-desa setempat.

 

Berikut adalah pembagian atau kelas-kelas dari 4 kelompok besar pasar tradisional tersebut di atas. Pasar Ternak, yaitu Pasar Bolu di Rantepao dan Pasar Makale di Makale. Kelompok pasar kedua adalah Pasar Umum Kelas I, terdiri dari dua pasar terbesar di Toraja, yaitu Pasar Bolu dan Pasar Makale. Komoditas utama kedua pasar ini berturut-turut adalah hewan ternak kerbau dan babi. Sebagaimana diketahui, kerbau dan babi adalah hewan ternak yang paling penting bagi masyarakat Toraja. Dua hewan ini adalah yang wajib dipenuhi pada setiap upacara adat di Toraja. Selanjutnya, Pasar Umum Kelas II meliputi pasar-pasar sebagai berikut: Pasar Pagi (Rantepao), Pasar Ge’tengan (Mengkendek), Pasar Salubarani (Mengkendek), Pasar Sangalla, Rembon, Bittuang, dan To’karau (Sessean). Kelompok terakhir adalah Pasar Umum Kelas III yang merupakan pasar-pasar lebih kecil, yaitu: Pasar Pindan (Rinding Allo), Buntu (Mengkendek), Sapan (Rinding Allo), Ulusalu, Rantetayo, Pondo’ (Nanggala), Buntao’/ Ledo, Ponding Ao’ (Bittuang).


Sementara itu, sistem pasar Toraja di masa kini melibatkan 6 pasar dan masih menggunakan sistem bergilir 6 hari sekali, mengikuti jadwal harian pasar. Adapun keenam pasar yang masuk dalam sistem hari pasar ini tidak ditentukan berdasarkan kelas pasar sebagaimana diuraikan di paragraf sebelumnya.


Hari pasar di Toraja berturut-turut adalah Makale - Rembon - Rantepao - Ge’tengan - Rantetayo - Sangalla, lalu urutan akan mulai kembali ke Makale. Misal, apabila di minggu ini Pasar Bolu buka di hari Rabu, maka minggu depan pasar akan buka di hari Selasa. Konon sistem pembagian hari pasar ini dicantumkan di kalender yang dicetak dan didistribusikan di Kabupaten Tana Toraja.


Adapun komoditas utama pada pasar-pasar tradisional Toraja adalah ternak kerbau dan babi, hasil bumi atau bahan pangan (seperti kopi, cokelat, sayur, dan buah-buahan), serta komoditas lainnya yang menunjang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Toraja. Komoditas-komoditas tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan komoditas yang diperdagangkan sejak awal abad ke-20.


Pasar Bolu
Terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao, Pasar Bolu sudah terkenal sebagai tujuan wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar). Selain kerbau, babi juga dijual di pasar ini, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Sayur, buah-buahan, kopi, dan komoditi hasil bumi lainnya juga dapat ditemukan di pasar ini.


Pada saat hari pasar, jumlah kerbau yang diperjualbelikan dapat mencapai 500 ekor, apalagi saat akan diadakannya upacara-upacara adat. Selain banyaknya kerbau yang diperjualbelikan, pasar ini pun akan dipenuhi pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan secara dekat kehidupan sebuah pasar ternak besar yang hanya ada di Toraja. Adapun harga kerbau yang diperjualbelikan mulai dari 5 juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. Warna dan ukuran tubuh kerbau adalah tolak ukur penentuan harga. Kerbau kecil berwarna hitam akan dihargai sekira 5 juta, kerbau hitam dengan ukuran agak besar berkisar 10 - 15 juta. Sementara itu, kerbau berwarna belang (Tedong Bonga), yang merupakan salah satu komoditas unggul, dapat dihargai puluhan juta rupiah. Sedangkan kerbau albino yang terbilang langka dapat dihargai lebih mahal lagi hingga mencapai ratusan juta rupiah.


Pasar Makale
Jika di Pasar Bolu komoditi utamanya adalah kerbau, maka di Pasar Makale komoditi utamanya adalah babi. Pasar ini pun kerap disebut sebagai Pasar Babi. Pasar ini bertempat di blok sekira 50 × 20 meter, yang dibagi dalam tiga bagian: bagian untuk anak babi, babi dewasa, dan daging babi. Jika Anda mengenal istilah kucing dalam karung, maka di Toraja Anda akan melihat babi dalam karung. Babi yang dimasukkan di dalam karung  beras adalah anak-anak babi yang biasanya dibeli untuk dipelihara. Saat ada pembeli yang berminat, maka karung tersebut akan dibuka sedikit untuk diperlihatkan kepada calon pembeli. Sementara untuk babi dewasa, biasanya diikat pada bilah bambu dan diletakkan di tanah atau balai bambu.  


Adapun kisaran harga babi, yaitu: 500 - 750 ribu untuk seekor anak babi. Sedangkan babi dewasa dapat mencapai kisaran 3 - 9 juta. Akan tetapi, kabarnya pernah pula ada babi yang dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebab bobot tubuhnya menyaingi bobot tubuh seekor kerbau.


Berbeda dengan kerbau, babi hitam justru berharga lebih mahal dibandingkan dengan babi albino atau belang. Pasar babi ini pun hanya ada sekali dalam enam hari. Jika hari biasa, tidak ada babi yang diperjualbelikan.


Kerbau dan babi adalah simbol status bagi masyarakat Toraja dan merupakan hewan penting bagi kebudayaan masyarakat yang masih menganut ajaran animisme ini. Kerbau adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah upacara adat, terutama pemakaman; dipercaya bahwa kerbau yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi roh jenazah yang hendak dikuburkan agar cepat sampai ke nirwana. Semakin banyak kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat, semakin tinggi pula kedudukan keluarga penyelenggara upacara. Bagi golongan bangsawan, dibutuhkan kerbau sebanyak 24 - 100 kerbau. Sedangkan bagi golongan menengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi adalah syarat wajib yang harus dipenuhi dalam melaksanakan upacara pemakaman adat (Rambu Solo).


Oleh karena itu, keberadaan pasar ini tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan dan peradaban masyarakat Toraja. Sistem hari pasar pun merupakan sistem warisan leluhur masyarakat Toraja sejak ratusan tahun lalu.

Lihat dalam Peta

Pasar Bolu dan Pasar Makale: Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Bangunan Bersejarah

Bangunan Bersejarah Banyak keajaiban bangunan tua dunia dapat ditemukan di Indonesia. Mulai dari candi sampai puing-puing istana zaman dahulu kala, mulai dari sisa-sisa...

selengkapnya