Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.08/5 (13 votes)
 

Dilihat:71583

Beranda » Danau Singkarak » Istano Basa Pagaruyung: Ikon Sumatera Barat

Istano Basa Pagaruyung: Ikon Sumatera Barat

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Lake Singkarak

  2. Lake Singkarak

  3. Lake Singkarak

  4. Danau Singakrak

  5. Danau Singakrak

 

Tinjauan

Sangat luar biasa, Indonesia memiliki kerajaan yang jumlahnya lebih dari piring-piring di meja di restoran Padang. Sumatera Barat benar-benar luar biasa dalam mempresentasikan dirinya sebagai Minangkabau, istilah yang mengacu ke bahasa asli, kelompok etnis dan juga wilayah tertentu. Sumatera Barat dihiasi oleh Rumah Gadang yang menjulang tinggi di setiap sudutnya.

Sebagai ikon destinasi wisata di Sumatera Barat, Rumah Gadang hampir dapat ditemukan di setiap sudut provinsi ini. Sebagai simbol kelompok etnis Melayu Minangkabau yang pernah berkuasa di tanah Sumatera Barat, Rumah Gadang terbaik di provinsi ini dapat diwakili oleh salah satu rumah termegah, yaitu Istana Basa Pagaruyung, di Tanjung Emas, Tanah Datar Batusangkar, Sumatera Barat.

Istana ini terbakar pada tahun 2007, lalu dibangun kembali dengan cantiknya

Istana Basa Pagaruyung bertingkat tiga dengan 11 gonjong atau puncak atap setinggi 60 meter dengan atap dari ijuk. Dinding Istana penuh dengan ukiran khas Minangkabau, termasuk dua rumah tabuah, rangkiang patah sambilan.

Pagaruyung menyiratkan nama sebuah kerajaan Minangkabau yang pernah berkuasa di wilayah tengah Sumatera. Wilayah kekuasaan politik Pagaruyung merupakan wilayah yang budaya Minangkabaunya berkembang. Dahulu dikuasai oleh kerajaan Dharmasraya, kerajaan Malayapura yang diperintah oleh raja pertama bernama Adityavarman, keturunan Jawa-Minangkabau, Pagaruyung terletak di Tanah Datar, Sumatera Barat, seratus kilometer ke pedalaman dari kota Padang, dekat dengan Danau Singkarak yang indah.

Kerajaan Pagaruyung membangun istana mereka di sebuah bukit bernama bukit batu patah, tempat ini sebenarnya merupakan tempat asli istana kerajaan yang disebut Istana Si Linduang Bulan. Di sini keturunan raja masih hidup dan melindungi tradisi, nilai, dan pasti artefak sejarah. Istana yang sekarang berada di pinggir jalan Tanjung Emas ini sebenarnya merupakan replika dari istana asli dan bernama Istana Basa Pagaruyung.

Istana Basa Pagaruyung hampir rata dengan tanah akibat kebakaran yang terjadi pada tanggal 27 Februari 2007 yang diakibatkan oleh angin tropis monsoon. Angin tersebut begitu kuat menghantam istana dan petir menyambar bagian tanduk istana tersebut.

Seketika, menurut saksi, istana terbakar, ketika angin monsoon berhenti. Angin menerpa puing-puing yang menyala tidak ada satu pun orang bahkan pemadam kebakaran berani mendekat ke area istana tersebut. Api melahap semuanya termasuk lumbung padi yang berdiri sekitar 80 meter dari istana.

Istana Basa Pagaruyung, masih menjadi bukti nyata akan keberadaan kerajaan Pagaruyung

Memoar Thomas Stamford Raffles ditulis oleh Sophia Raffles yang juga menyebutkan bahwa pada tahun 1818, Thomas S. Raffles mengunjungi Pagaruyung. Perang yang menderu kerajaan pada saat itu, mengakibatkan istana hancur. Istana tersebut kemudian dibangun kembali pada tahun 1750, Istana Si Linduang Bulan sebenarnya dibakar sebelum tahun 1804 dan dikonstruksi sederhana pada 1869. Sayangnya, Istana Si Linduang Bulan kembali terbakar pada 3 Agustus 1961 dan tidak dibangun kembali sampai dengan tahun 1987.

Istana Basa Pagaruyung juga tidak pernah dikonstruksi kembali sampai tahun 1975 dan 1976

Pada tanggal 27 Desember 1974, Gubernur Sumatera Barat saat itu, Harun Zain, memprakarsai rekonstruksi istana yang pernah berkembang sebagai symbol kebesaran Minangkabau. Ia mendirikan sebuah replica Istana Si Linduang Bulan pada sebidang tanah warisan dari keluarga raja. Istana tersebut bernama Istana Basa Pagaruyung, sebagai warisan nyata dari kerajaan Pagaruyung yang pernah memerintah Sumatera pusat dan sekitar.

Tome Pires, seorang penulis dan bendahara Portugis yang lahir di Lisbon bekerja sebagai pembantu Afonso de Albuquerque, putra raja Portugal John II, mempunyai catatan komprehensif mengenai pulau Jawa, Sumatera, dan Maluku pada abad ke-16, ketika ia secara pribadi mengunjungi tempat-tempat tersebut selama ia melayani Portugis. Bukunya, Suma Oriental, menjelaskan wilayah luas Pagaruyung, yang meliputi pesisir timur Sumatera, Jambi, pantai barat Barus, Tiku, dan Pariaman. Juga termasuk di wilayah ini adalah Indragiri, Siak, Arcat, dan Kuantan. Legenda tradisional yang disebut Tambo Minangkabau juga menceritakan ukuran wilayah Pagaruyung.

Istana ini sangat mudah di akses dari Bukittinggi, Solok atau Padang Panjang. Istana ini terletak di Tanah Datar, di Kabupaten Batusangkar. Lokasinya yang berada di sisi jalan sangat mudah untuk ditemukan, karena bangunan istana yang besar sehingga mudah terlihat dari kejauhan. 

Lihat dalam Peta

Istano Basa Pagaruyung: Ikon Sumatera Barat

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Berpetualang

Berpetualang Berparahu, trekking, berselancar, dan panjat tebing,  hanyalah  sebagian petualangan yang mendebarkan jantung yang ditawarkan Indonesia....

selengkapnya