Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.60/5 (5 votes)
 

Dilihat:296216

Beranda » Flores » Caci: Ketangkasan dari Flores

Caci: Ketangkasan dari Flores

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Bird Watching in Flores Komodo Island

    You can see or doing some activities, watching the eagle in Flores Komodo Island.
  2. Crepes with Mango in Flores Komodo Island

    This is one of nice combination of cuisine in Flores Komodo Island Resort. Crepes with Mango.
  3. Diver Silhouette in Flores Komodo Island

    Enjoy the biodiversity under the sea at Flores Komodo Island.
  4. Enjoying The Afternoon at Flores Komodo Island

    Enjoying the Afternoon at Flores Komodo Island. Photo taken from www.floreskomodo.com
  5. Fish in the Dish

    Fish In the dish. Enjoy cuisine at Flores Komodo Island.
  6. Ikat Salesman in Flores Komodo

    Ikat, traditional textile from Flores. This man is selling ikat directly to the tourist in Flores Komodo Island.
  7. Stone Relics in Flores Komodo Island

    Prehistoric artefak, Stone Relic in Flores Komodo Island.
  8. Traditional War Dance in Flores

    This is the traditional war dance in Flores Komodo Island.
  9. Man Walking with Buffalo

    The picture of a man with buffalo and his children.
  10. Flores Larantuka Paskah

    The spirit of Easter decorated the exotic island of Flores, as the congregation lit their candle for the celebration of Easter night. Photo by Campbell Bridge.
  11. Pasola

    Pasola
  12. Caci

    Caci
  13. mete peanut1

    Mete Peanut
  14. mete peanut2

    Mete Peanut
  15. cancar1

  16. cancar2

  17. cancar3

  18. waerebo1

    Photo by Leonardus Nyoman
  19. waerebo2

    Photo by Leonardus Nyoman

 

Tinjauan

Seorang petarung Caci berputar-putar dan berjingkrak seperti kuda jantan mengelilingi sekelompok musuhnya. Kulit hitam di bawah sengatan sinar mentari menutupi otot-otot kering yang mencengkeram sebuah pecut kayu berujung kulit kerbau yang suaranya dapat mengoyak suasana riuh rendah. Setelah saling memanaskan besutan adrenalin, seorang paki, penyerang yang memegang pecut, bersiap dengan kuda-kudanya mengayunkan sabetannya ke arah seorang ta’ang, yaitu penangkis yang diam bagai pasak. Ta’ang siap menangkis dengan sebongkah nggiling yaitu tameng kulit kerbau di tangan kiri dan tereng yaitu kayu penangkis di tangan kanan.

Suara tandak atau danding menggaung saat pecut menghantam lawan. Bagai suara senapan menggelegar, tameng beradu dengan ujung pecut terbuat dari kulit kerbau. Seutas lidi yang dipasang di ujung pecut atau mbete luput dari tameng ataupun tereng. Luka menggurat mengucurkan darah. Sorak penonton menggema, memahami makna tetesan darah sebagai persembahan untuk kesuburan dan lambang kejantanan.

Pedih terlihat samar di mata seorang ta’ang tapi tak boleh di antara ta’ang dan paki tercipta permusuhan, bahkan amarah sekalipun. Caci adalah sebuah permainan yang menjunjung tinggi sportifitas dan merayakan sebuah rasa kasih sayang dari kakak kepada adik. Sungguh tak lumrah, tapi legenda di balik permainan dan tarian ini akan menjadi sebuah pemahaman.

Dahulu kala, dua orang kakak beradik berjalan melewati hutan padang rumput dengan seekor kerbau yang mereka pelihara. Si adik diceritakan terjerumus dalam sebuah lubang dalam sehingga sang kakak panik mencari apapun untuk menarik adiknya. Tak satu pun dapat membantu upayanya, kecuali ia harus menyembelih kerbaunya dan menggunakan kulitnya untuk menarik sang adik. Itu pun akhirnya ia lakukan dan si adik terselamatkan. Untuk merayakannya, mereka menciptakan permainan Caci untuk memperingati rasa kasih sayang di antara keduanya.

Tak sama seperti beberapa bela diri lain, dalam Caci boleh menyerang bagian tubuh dari perut hingga kepala, tapi tidak bagian perut ke bawah. Acap kali mengenai mata pun sudah menjadi hal lumrah. Sebelum Caci dilangsungkan, sebuah pemanjatan nyanyian bernama kelong dialunkan sebagai panggilan kepada arwah para leluhur. Saat kelong dilantunkan, dan tandak atau danding mengikuti, maka Caci harus dilaksanakan. Tidak ada kelong tanpa Caci dan sebaliknya.

Seorang petarung Caci mengenakan pangga, sebuah asesoris kepala dan bukan pelindung wajah. Bentuknya seperti kepala kerbau bertanduk tiga. Di ujung tanduknya dihiasi bulu ekor kuda. Hal ini mengingatkan dua orang kakak beradik dalam legenda. Tubuh petarung tak dilindungi seutas kain pun. Celana putih bersih dikenakan dibalik sarung songket yang terkenal dari Flores atau Sumba. Ekor kuda pun dipasang dibelakang songket yang menjadikan seorang petarung Caci seperti layaknya seekor kuda atau kerbau yang gagah dan berjiwa satria.

Saat ini Caci dapat ditemui setiap bulan-bulan panen antara Juli dan Oktober di desa-desa sekitar Manggarai, Flores bagian barat. Salah satu desa dengan Caci yang mengesankan ialah Wolomboro. Langitnya yang biru bersih di siang hari saat menghadiri Caci digelar adalah pemandangan dan pengalaman yang tak berbanding.

Acara Terkait

26-30

Nov 2014

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Caci: Ketangkasan dari Flores

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Desa Tradisional

Desa Tradisional Sebagai negara dengan lebih dari 350 kelompok etnik, keanekaragaman budaya Indonesia layak untuk  dijelajahi. Temukan kebudayaan unik and...

selengkapnya

Berjalan-jalan

Berjalan-jalan Berjalan-jalan selama setengah hari atau sehari penuh di hari libur atau diantara acara konferensi selalu menjadi pengantar yang indah dalam tujuan...

selengkapnya