Beranda Cerita Negeriku Berita Acara Hubungi Kami Faq's

Login User

Destinasi di Indonesia

Harap Login untuk voting
4.60/5 (5 votes)

Dilihat:189218

Beranda » Flores » Festival Pasola: Kuda Sumba, Lembing, dan Kisah Cinta

Festival Pasola: Kuda Sumba, Lembing, dan Kisah Cinta

Fixed Dimensions

Images with fixed dimensions
images/35x35/1.jpg
  1. Bird Watching in Flores Komodo Island

    You can see or doing some activities, watching the eagle in Flores Komodo Island.
  2. Crepes with Mango in Flores Komodo Island

    This is one of nice combination of cuisine in Flores Komodo Island Resort. Crepes with Mango.
  3. Diver Silhouette in Flores Komodo Island

    Enjoy the biodiversity under the sea at Flores Komodo Island.
  4. Enjoying The Afternoon at Flores Komodo Island

    Enjoying the Afternoon at Flores Komodo Island. Photo taken from www.floreskomodo.com
  5. Fish in the Dish

    Fish In the dish. Enjoy cuisine at Flores Komodo Island.
  6. Ikat Salesman in Flores Komodo

    Ikat, traditional textile from Flores. This man is selling ikat directly to the tourist in Flores Komodo Island.
  7. Stone Relics in Flores Komodo Island

    Prehistoric artefak, Stone Relic in Flores Komodo Island.
  8. Traditional War Dance in Flores

    This is the traditional war dance in Flores Komodo Island.
  9. Man Walking with Buffalo

    The picture of a man with buffalo and his children.
  10. Flores Larantuka Paskah

    The spirit of Easter decorated the exotic island of Flores, as the congregation lit their candle for the celebration of Easter night. Photo by Campbell Bridge.
  11. Pasola

    Pasola
  12. Caci

    Caci
  13. mete peanut1

    Mete Peanut
  14. mete peanut2

    Mete Peanut
  15. cancar1

  16. cancar2

  17. cancar3

  18. waerebo1

    Photo by Leonardus Nyoman
  19. waerebo2

    Photo by Leonardus Nyoman

 

Tinjauan

Kuda Sumba yang berbadan kecil namun kokoh berotot terdengar meringkik bersahutan dengan ratusan kawanannya yang berada di padang rumput yang luas. Semilir rumput kering bercampur wangi  mengingatkan nama lain Sumba, yaitu Pulau Cendana yang sudah termahsyur ratusan tahun lamanya. Saat gemuruh kaki kawanan kuda menggetarkan padang sabana seraya puluhan lembing melayang, nafas penonton terhenti sementara, menanti arah dan sasaran ujung lembing yang melesat ganas. Lolos dari seorang penunggang kuda tak bernama, penonton pun riuh rendah melepas kelegaan dan takjub.

Untuk melengkapi sisi ekstrim keberanian Anda, bersiaplah di bulan Februari ke daerah Kodi atau Lamboya, dan bulan Maret di daerah Wanakoka. Kegilaan ini terjadi hanya ada di satu agenda, yaitu Festival Pasola, di Pulau Sumba, belahan timur di Nusa Tenggara.

Seorang Rato memilih hari yang penuh berkah untuk Pasola, sebuah kata yang berawal dari lembing yang dikenal sebagai ‘sola’ atau ‘hola’ dalam bahasa lokalnya. Namun setelah dibubuhi menjadi ‘pasola’, makna pun berubah menjadi ‘permainan’. Sungguh pun acap kali memakan korban, pasola tetap berpacu di tanah Sumba sebagai permainan penawar duka; duka seorang leluhur atas hilangnya belahan jiwa.

Konon, seorang pemuka adat bernama Umbu Dulla dari Waiwuang, Sumba Barat, berkelana dengan dua pemuka adat lainnya, Ngongo Tau Masusu dan Yagi Waikareri. Meninggalkan istrinya Rabu Kaba untuk beberapa lama, Umbu Dulla dikabarkan tewas tenggelam di laut ganas. Kesedihan melanda Rabu Kaba, hingga suatu hari seorang pria bernama Teda Gaiparona dari Kodi, semenanjung barat Pulau Sumba, dapat mencairkan cinta Rabu Kaba yang lama membeku. Keduanya dilanda asmara dan berniat untuk menikah.

Sayangnya, pihak keluarga dari keduanya tak merestui. Maka Rabu Kaba dan Teda pergi untuk kawin lari. Hari berganti minggu hingga datanglah Umbu Dulla dengan dua kawannya dari perantauan, menggugurkan kabar burung kematian mereka. Kengerian warga tak sebanding dengan kesedihan Umbu Dulla yang dipaksa keadaan bahwa istrinya telah lari bersama Teda. Tapi Umbu Dulla tak murka walau permintaan agar Rabu Kaba kembali tak dihormati.

Tekanan batin Rabu Kaba yang jelita semakin memuncak, dihimpit cinta terhadap Teda dan kisahnya sebagai istri Umbu Dulla yang tak berujung kepastian. Dilema ini akhirnya ditutup dengan permintaan Rabu Kaba kepada Teda untuk mengganti belis, persembahan keluarga Umbu Dulla dulu saat melamar.Menyanggupi belis yang harus diganti, Teda akhirnya direstui untuk menikah secara sah dengan Rabu Kaba, oleh masyarakat dan khususnya Umbu Dulla.

Untuk menghalau kesedihan, Umbu Dulla memerintahkan diadakannya pesta yang sekarang dikenal dengan Pasola, perayaan rasa sukur terhadap panen yang melimpah setelah melalui penangkapan nyale, cacing laut yang selalu mengundang ceria dan syukur pada masyarakat Nusa Tenggara. Pasola sejak hari itu menjadi tradisi dan sebuah agenda lanjutan dari pesta bau nyale, mencari cacing laut yang sebenarnya melambangkan pelipur lara kehilangan seorang kekasih hati Umbu Dulla, yaitu Rabu Kaba.

Pulau Sumba tak jauh dari Komodo, Flores, dan juga Timor Timur. Gunung  paling tinggi yaitu Wangameti (1.225 m) menyajikan kisah kayu cendana yang dihargai oleh para pedagang dan pemeluk agama berbeda. Umat Hindu dan Buddha dari negeri Cina dan Jepang memanfaatkannya untuk dupa yang wangi semerbak serta pengobatan pengganti antibiotik. Umat Islam menjadikan kayunya sebagai bulir tasbih yang menawan.

Seperti daratan di Australia dan bagian selatan Afrika, Pulau Sumba melukiskan warna-warna yang tak umum didapatkan saat ditangkap lensa kamera. Kepercayaan Marapu atau animisme kuno melengkapi budaya tradisi Pasola, yaitu dengan banyaknya persembahan hewan atau pun patung-patung batu atau penjiyang jarang terlihat setelah masuk agama Kristen di pulau itu. Menginjakkan kaki di Sumba adalah cita-cita yang harus dilakukan selama Anda masih sempat berpetualang.

Untuk melihat lebih banyak foto mengenai acara Pasola di Flores, klik link ini.

Acara Terkait

14

Aug 2013

Lihat Acara Lainnya

Lihat dalam Peta

Festival Pasola: Kuda Sumba, Lembing, dan Kisah Cinta

Destinasi Terkait

Cari

Aktivitas Terkait

Desa Tradisional

Desa Tradisional Sebagai negara dengan lebih dari 350 kelompok etnik, keanekaragaman budaya Indonesia layak untuk  dijelajahi. Temukan kebudayaan unik and...

selengkapnya

Berjalan-jalan

Berjalan-jalan Berjalan-jalan selama setengah hari atau sehari penuh di hari libur atau diantara acara konferensi selalu menjadi pengantar yang indah dalam tujuan...

selengkapnya