
Inilah kota yang merupakan titik awal kunjungan Anda menuju taman laut Raja Ampat yang mempesona. Kota Sorong dikenal sebagai Kota Minyak sejak masuknya para surveyor minyak bumi dari Belanda sejak tahun 1908. Kota Sorong juga terkenal sebagai salah satu kota dengan atribut peninggalan sejarah Heritage Nederlands Neuw Guinea Maschcapeij (NNGPM) atau kota yang penuh dengan warisan peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak Belanda. Tambang minyak yang produktif di Sorong adalah salah satu alasan mengapa Belanda menjajah Irian (nama Papua dahulu) bahkan yang terakhir diserahkan kembali kepada Indonesia tahun 1962.
Nama Sorong berasal dari kata soren. Soren dalam bahasa Biak Numfor yang berarti laut yang daIam dan bergelombang. Kata Soren digunakan pertama kali oleh suku Biak Numfor yang berlayar zaman dahulu dengan perahu-perahu layar dari satu pulau ke pulau lain hingga tiba dan menetap di Kepulauan Raja Ampat. Suku Biak Numfor inilah yang memberi nama "Daratan Maladum" dengan sebutan Soren yang kemudian dilafalkan oleh para pedagang Thionghoa, Misionaris clad Eropa, Maluku, dan Sanger Talaut dengan sebutan Sorong.
Laut di sekitar Sorong kaya akan tuna dan udang yang merupakan komoditas ekspor utama. Di pulau Kabra terdapat peternakan milik Jepang untuk membudidayakan mutiara, sedangkan sirip hiu dan teripang diekspor ke Hongkong, Taiwan, dan Cina.
Sorong juga merupakan pengekspor kayu. Kayu gelondongan langsung dikirim ke luar negeri dengan kapal laut. Saat ini, peraturan pemerintah mengharuskan penggilingan dan pengolahan dilakukan di wilayah kota Sorong saja. Oleh karena itu, pabrik kayu lapis (triplek) dibangun di Sorong.
