.jpg)
Bukit-bukit hijau di TNTC mengelilingi teluk ini begitu indah dihiasi ratusan burung camar menjadi latar belakang menawan. Anda dapat menikmati pemandangan itu dengan ditemani Matahari terbenam dan berbekal air kelapa atau langsung memetiknya. Di sepanjang pesisir pantainya terdapat hutan mangrove dan hewan yang dapat Anda amati. Umumnya penyelam yang datang ke sini akan memanfaatkan tinggal di
!DOCTYPE>
.jpg)
Bukit-bukit hijau di TNTC mengelilingi teluk ini begitu indah dihiasi ratusan burung camar menjadi latar belakang menawan. Anda dapat menikmati pemandangan itu dengan ditemani Matahari terbenam dan berbekal air kelapa atau langsung memetiknya. Di sepanjang pesisir pantainya terdapat hutan mangrove dan hewan yang dapat Anda amati. Umumnya penyelam yang datang ke sini akan memanfaatkan tinggal di perahu (live aboard) untuk menjelajah banyak titik menyelam di TNTC.
Hal paling menarik dapat ditemukan di Teluk Cenderawasih adalah keberadaan hiu paus atau whale shark (Rhincodon typus) tepatnya di Kwatisore. Hewan raksasa yang jinak ini memiliki panjang mencapai 14 meter tetapi hanya memakan ikan teri kecil (ikan puri) dan plankton. Hiu paus ini dapat dipanggil dengan cara melempar ikan puri ke laut kemudian hewan cantik ini akan menyembul ke permukaan air. Jangan heran, banyak penyelam saat snorkeling atau diving berenang begitu dekat dengan hewan ini. Akan tetapi, sekagum apa pun pada hewan cantik yang menjadi penemuan ikan besar dekade ini tetap jangan menyentuhnya. Alternatif untuk menemui hiu paus di Teluk Cendrawasih adalah di Ahe, bagian dari kepulauan Harlem atau sekira 1,5 jam dari Nabire dengan perahu. Perjalanan dengan cara live aboard adalah yang paling logis untuk menjelajahi banyak titik menyelam secara sekaligus di TNTC yang sulit dijangkau, tersebar, dan jauh dari daratan. Pilihlah operator yang tepat sesuai kebutuhan Anda. Pihak operator akan mengatur segala kebutuhan Anda selama tinggal berhari-hari di atas kapal. Mereka juga akan mengarahkan pada banyak titik menyelam, mengatur perlengkapan, mengecek arus, menunggu dan memandu Anda selama penyelaman, hingga melayani kebutuhan makanan.
Di Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih Anda dapat menikmati wisata bahari ke beberapa pulau-pulau dengan kakayaan bawah laut yang mengagumkan. Di sini tercatat ada lebih dari 209 jenis ikan, diantaranya adalah ornate ghost pipefish, bumphead parrotfish, wobbegongs, cockatoo waspfish, butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish. Di sini Anda dapat juga menemukan ikan duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu paus yang menjadi bintang atraksinya.
.jpg)
Selain itu, Taman Nasional Teluk Cendrawasih juga menjadi habitat dari empat jenis penyu, yaitu: penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Ada juga beragam moluska seperti keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Area pantai di Teluk Cenderawasih memang hanya sekira 0,9% dari total wilayahnya tetapi menyuguhkan panorama pantai yang indah, salah satunya adalah Pantai Serui. Di ini dapat Anda nikmati pantai dengan pasir putih, air yang jernih, dan ombak yang tenang.
Ada beberapa lokasi menarik untuk disambangi di kawasan yang cukup luas ini, yaitu seperti Pulau Rumberpon dimana ada lokasi untuk mengamati burung dan rusa. Pulau ini juga memiliki tempat menyelam dan snorkeling yang indah serta bangkai pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut saat Perang Dunia II. Pilihan lain adalah menyambangi Pulau Nusrowi yang sama juga untuk menyelam dan snorkeling, serta pengamatan satwa.
Di Pulau Mioswaar dapat Anda temukan sumber air panas dan air terjun. Di sini juga Anda dapat menyelam, snorkeling, mengamati satwa atau berinteraksi dengan budaya masyarakat setempat.
Di Pulau Yoop, Wendesi, Wasior, dan Yomber dapat menjadi lokasi favorit untuk melihat ikan paus dan ikan lumba-lumba serta melihat sejumlah peninggalan kolonial dari abad 18.
Sementara itu, di Pulau Roon ada juga tempat untuk menyelam dan snorkeling, mengamati satwa, air terjun, serta wisata budaya dan gereja tua. Umat Kristiani banyak yang berkunjung ke sebuah gereja di Desa Yende (Pulau Roon) untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.
Di Pulau Numfor dan Misowaar terdapat gua pra-sejarah dengan kerangka manusia dari zaman pra-sejarah, lengkap dengan lukisan-lukisan karya mereka, piring antik dan peti berukir.
Di Tanjung Manggar ada sebuah gua dalam air dengan kedalaman 100 kaki. Gua alam ini merupakan peninggalan zaman purba dan memiliki sumber air panas yang mengandung belerang tanpa kadar garam.