Beranda Kembali ke Indonesia.travel

Indonesia.travel Highlight: ITB Berlin

NEWS DETAIL

Go Back

Penampil Opening Ceremony ITB Berlin 2013 Terus Berlatih dan Bersiap

posted_on 1 Jan 1970 00:00 | id_view 6685

Penampil Opening Ceremony ITB Berlin 2013 Terus Berlatih dan Bersiap

Indonesia terus bersiap demi berperan sebagai Official Partner Country dalam bursa pariwisata terbesar di dunia yaitu ITB (Internationale Tourismus B'rse) pada 6-10 Maret 2013 mendatang di Gedung Bestuhlung Saal, MESSE, Berlin, Jerman. Salah satu upaya persiapannya adalah dengan melakukan latihan bersama untuk acara Opening Ceremony nanti. Para penampil yang ter-kurasi sejak 2012 ini sebenarnya telah berlatih masing-masing sejak Agustus 2012 namun baru kini mereka dipertemukan bersama-sama.

 

Selama dua hari pada Minggu (27/1) dan Senin (28/1) bertempat di  Gedung Nyi Ageng Serang, Jl. HR. Rasuna Said Kav C.22, Jakarta, semua pihak yang terlibat untuk petama kalinya melakukan latihan bersama. Dari pagi hingga menjelang petang beberapa sesi latihan dilakukan dengan pengaturan tata letak panggung dan kelengkapan yang diatur semirip aslinya nanti di Gedung MESSE Berlin GmbH.

 

Tim kesenian dari beberapa sanggar tari, penyanyi, seniman musik tradisional, serta musisi orkestra berkumpul untuk memadupadankan keterampilannya menjadi sajian yang siap memikat sekira 4000 undangan VVIP. Tim yang terlibat dalam acara nanti diperkirakan 105 orang meliputi para penampil dan pelaku di balik layar. Beberapa diantaranya adalah seniman tari saman gayo dari Aceh pimpinan Syafrudin, penari kecak raban dari sanggar seni dari Kabupaten Giayar pimpinan I Made Sidia, serta arranger dan konduktor Aminoto Kosin. Khusus untuk musik orkestra sendiri tidak membawa rombongan musisi dari Indonesia melainkan melibatkan Berlin String Construction dari Jerman. Hadir pula penyanyi wanita Eka Deli Mardiyana dan pembawa acara opening ceremony nanti, yaitu Tiya Diran. Tiya merupakan pembawa acara senior dari TVRI yang kini menjadi penerjemah simultan dan pembawa acara berbagai kegiatan.

 

Tari saman gayo lues akan menjadi pembuka acara opening ceremony ITB Berlin. 15 penari saman asal Gayo ini uniknya semua memiliki rambut panjang terurai dan gerakannya begitu lincah tanpa jeda dengan harmonis dan kompak. Tarian saman sering pentaskan mewakili Indonesia dalam berbagai platform global. Umumnya setiap kali pementasan apresiasi publik tercengang baik di dalam negeri maupun di kancah Internasional. Tarian saman dimainkan laki-laki dan tidak boleh perempuan, umurnya antara 15 hingga 35 tahun dengan jumlah penari harus ganjil. Para penarinya akan memakai baju tradisional (kerawang) dan ikat kepala (seteleng). Mereka beratraksi sembari duduk menggerakan tepukan tangan pada paha dan dada sebagai alat kombinasi musiknya dipadukan suara lantang berbahasa Arab dan Gayo. Tari saman gayo lues telah tampil di berbagai negara sehingga membawanya diakui menjadi sebagai Warisan Dunia tak Benda oleh UNESCO sejak 24 November 2011.

 

Aminoto Kosin merupakan seorang arranger dan juga konduktor ternama Indonesia. Dari tangannya telah banyak musik dan musisi yang berkualitas dihasilkan. Pria kelahiran Medan, 18 Februari 1963 ini sempat kuliah di Berklee Colege Music, Boston, Amerika, tahun 1982-1985. Salah satu lagu popularnya adalah “Astaga” yang dinyanyikan Ruth Sahanaya. Aminoto Kosin juga sempat menjadi produser dari beberapa rekaman musisi Indonesia seperti Tohpati dan sempat menjadi music director untuk tur keliling Indonesia musisi ternama Indonesia, yaitu Chrisye. Saat ini Aminoto menjadi konduktor dari sebuah orkestra dan lebih banyak tampil di kegiatan rohani. Saat penampilannya memimpin orkestra Berlin String Construction di pembukaan ITB Berlin nanti, beberapa lagu yang akan dibawakan adalah “Bungong Jeumpa” (Aceh), Lagu pengiring tari kecak, “What a Wonderful World”, “Rame-Rame” (Maluku), dan lagu “Save our World”. Penyanyi yang akan tampil melantunkan suara merdunya diiringi orkestra adalah Sandhy Sondoro dan Eka Deli.

 

Sandhy Sondoro merupakan penyanyi Indonesia dan penulis lagu yang sukses menjuarai kompetisi bernama New Wave International di Eropa Timur dan Barat. Selain itu, tahun 2009 lewat albumnya Jazz In The City, lagunya yang berjudul “End of the Rainbow" terpilih sebagai lagu terbaik tahun 2009 di Rusia. Suara emas Sandhy Sondoro telah membawanya diundang oleh Diane Warren untuk tampil di Hollywood Palladium untuk TV PBS. Acara tersebut juga  menampilkan Celine Dion, Cher, Jane Fonda, Toni Braxton, Leann Rimes, Eric Benet, Due Voci, Gloria Estefan, Patti Austin, dan Fantasia.

 

Eka Deli Mardiyana merupakan salah satu penyanyi wanita Indonesia yang memiliki suara emas dengan kemampuan bernyanyi nada tinggi. Ia kerap mengharumkan nama Indonesia di ajang menyanyi internasional dimana salah satunya adalah Juara Golden Stag Festival di Romania tahun 1995. Eka juga mewakili Indonesia di ajang Azia Dauzy di Kazakhstan dan Golden Rose Festival di Georgia, mendapat juara I dan II. Eka Deli juga sering tampil di event event besar yang mengandalkan suara tinggi. Wanita kelahiran Surabaya, 21 Maret 1976 ini mengawali karirnya sebagai runner-up Cipta Pesona Bintang  tahun 1991 dan menjadi Weekly Winner Asia Bagus bersama AB Voices di Singapura tahun 1993.

 

Aminoto Kosin juga akan ditemani violist muda ternama Iskandar Widjaja. Pria 25 tahun berambut hitam ikal kelahiran Berlin itu telah meraih sederet penghargaan. Lantunan musik klasiknya dalam resital-resital tunggal telah muncul di berbagai belahan dunia mulai dari Belgia, Austria, Swiss, Italia, Spanyol, Israel, dan Amerika Serikat. Ia telah bermain diiringi orkestra kelas dunia seperti Berlin Philharmonic, Dubrovnik Symphony Orchestra, Klasissche Philharmonie Bonn, Das Simfonieorchester Berlin, dan masih banyak lagi. Kepiawaian bermain biola sejak berusia  4 tahun dibentuk dilatih oleh beberapa pemain biola kelas dunia seperti Christian Tezlaff, Ida Haendel, Yair Kless, Sergiu Schwarz, dan Donald Weilerstein. Iskandar Widjaja telah memperoleh berbagai penghargaan dalam ajang musik internasional seperti di Jugend Musiziert, Hindemith, Postacchini, dan Goldener Julius Violin Kompetisi. Iskandar juga pernah merasakan bermain di tempat-tempat terpandang seperti di Berlin Philharmonic, Konzerthaus Berlin, Gedung Kesenian Jakarta, Fort Reverin, hingga Tel Aviv Opera.

 

Selain Iskandar Widjaja, Aminoto Kosin didampingi juga oleh duo pianist yaitu Shanti dan Sonja Sungkono. Wanita kembar kelahiran Jakarta, 3 Januari 1972 itu telah memukau publik musisi klasik dari Eropa hingga Amerika. Berguru musik di jerman sejak 1991, keduanya kemudian memperoleh berbagai penghargaan internasional bergengsi seperti Jerry Coppola Prize dalam lomba duet piano di Miami, Amerika Serikat tahun 1999, 2001 dan 2002. Mereka juga memenangkan Prize Winners Juergen Sellheim Foundation di Hannover, Jerman, tahun 2002. Menjadi juara ketiga Torneo Internazionale di Musica, Italia. Tahun 2003 memenangkan Prize Winners dalam National Piano Duo Competition di Saarbrucken, Jerman. Album mereka mendapat apresiasi dan antusias dari sejumlah media musik klasik di Eropa serta masuk arsip Perpustakaan Musik Naxos. Beberapa album terkenalnya adalah Works for Two Pianos (2002) dan 20th Century Piano Duets Collection (2004) dimana keduanya di bawah label NCA Jerman dan beredar di Prancis, Italia, Austria, Swedia, Jepang, dan Amerika.

 

Penampil tarian tradisional adalah I Made Sidia, seorang seniman asal Desa Bona Gianyar Bali yang terkenal dan diakui di dunia seni internasional melalui kepiawaianya berkreasi dengan wayang, tari topeng, dan gamelan. Pria yang juga berprofesi sebagai dosen Pedalangan di ISI Denpasar, Bali tersebut telah bereksperimen dengan berbagai metode untuk memberikan presentasi visual pertunjukkan wayang kulit. Sidia menerapkan metode baru wayang Bali dan telah dipertunjukkan di berbagai pentas di dalam dan luar negeri. Apabila biasanya pertunjukan wayang tradisi memakai blencong atau lampu kuno yang dinyalakan dengan minyak kelapa untuk memproyeksikan wayang ke layar maka kini Sidia menggunakan proyektor yang dioperasikan oleh komputer. Selain itu, I Made Sidia juga bekerja sama dengan Peter J Wilson menjadi creative director pada pertunjukkan Bali Agung, sebuah pertunjukkan akbar yang pernah ada di Bali. Dalam pementasan opening ceremony ITB Berlin nanti I Made Sidia bersama Sanggar Paripurna akan membawakan tarian kecak raban. Tarian tersebut uniknya juga dimainkan perempuan dan jumlahnya hanya 15 orang dimana biasanya 50 orang lebih. Tari Kecak sendiri merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cenderung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari. Berbeda dari tarian Bali lainnya yang menggunakan gamelan sebagai musik pengiring maka pementasan tari kecak hanya memadukan seni dari suara mulut. Tari kecak dikembangkan tahun 1930 oleh Wayan Limbak yang bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali.

 

Penutup opening ceremony ITB Berlin akan menampilkan lantunan irama alat musik tradisional sasando yang indah dimainkan Jakob Bulan. Sasando merupakan alat musik tradisional asal Pulau Rote yang terlahir sejak sejak abad ke-7. Harmoni suara merdunya lahir dari petikan jari-jemari pada dawai yang direntangkan di tabung panjang dari bambu dengan bagian tengah melingkar dari atas ke bawah yang diberi penyangga. Alat musik tradisional ini memiliki wadah berfungsi sebagai resonansinya berupa anyaman lontar (haik). Alat musik yang telah memukau banyak pendengar ini mirip valiha dari Madagaskar tetapi tanpa anyaman lontar.

 

Selama dua hari Indonesia.travel hadir langsung menyaksikan persiapan dan latihan Opening Ceremony ITB Berlin di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta


Photo Courtesy by http://www.iskandarwidjaja.com/, http://musik.kapanlagi.com/galeri/ ,http://www.klavierduo-sungkono.de/